
Kedatangan Kellen, Eve, Ben dan juga beberapa staf untuk karyawan Family care di sambut baik oleh bik Nuri dan suami di rumah mewah milik mendiang Tania. Nuri yang dulu sempat bekerja di rumah Pandu, di percaya untuk menemani Tania selama di Jakarta sampai Tania meninggal. Hingga detik ini, Nuri dan juga sang suami masih mendapat kepercayaan dari Pandu untuk merawat rumah peninggalan adiknya.
Para staf dan dewan direksi kepengurusan rumah sakit, singgah sejenak di rumah Tania sebelum di antar oleh Banu ke apartemen yang sudah Kellen sewa di dekat rumah sakit.
"Sien sen, Siaucie, wǎncān zhǔnbèi hǎole, women kheyi che fan"
Mendengar Nuri bicara menggunakan bahasa kanton mandarin, Kening Eve mengernyit keheranan.
Dia bisa bahasa china? wah hebat, orang Indonesia bisa ngomong pakai bahasaku.
Sementara Kellen langsung mempersilahkan bawahannya untuk menuju meja makan.
Selagi menikmati makan malam, Eve dan staf perempuan lainnya saling mengobrol.
Sepasang mata Evepun sesekali mengitari bingkai foto yang tergantung di dinding. Ada banyak foto yang di pastikan wajah dari mendiang Tania itu tampak cantik dan bersahaja.
Sama sekali tidak mirip denganku, tapi kenapa bu Risa menganggap aku ini nona Tania?
Hhh, semoga aku terhindar dari dimensia di masa tuaku nanti.
Aku bukan orang kaya seperti keluarga pak Pandu, pasti anak-anakku akan kerepotan mengurusku jika aku mengidap dimensia. Mengingat penyakit itu sangat ganas dan menakutkan.
Usai makan malam, semua staf termasuk Ben akan di antar oleh suami Nuri ke apartemen. Menyisakan Eve yang akan tetap tinggal bersama Kellen di rumah Tania.
"Ayik, kamarku dan Eve sudah ayik siapkan?"
"Sudah tuan"
"Bersebelahan kan?"
"Iya tuan, pokoknya sesuai permintaan tuan El"
"Makasih yiyi"
"Sama-sama tuan" Usai merespon kalimat Kellen, Nuri beralih pandang menatap Eve.
"Nona, mari saya antar ke kamar"
"Iya ayik"
Masih dengan senyum yang tersungging di bibirnya, Nuri mengantar Eve ke kamar. Beruntung Eve tak mengerti dengan percakapan Kellen dan Nuri, jika tahu dan paham, gadis itu pasti akan protes soal kamarnya yang bersebelahan dengan kamar bosnya.
Memberanikan diri, Eve bertanya pada Nuri meski agak sedikit ragu.
"Ayik" panggil Eve lirih.
"Ya nona"
"Ayik bisa berbahasa china?"
"Bisa"
"Bagaimana bisa?"
"Dulu saya bekerja pada tuan Pandu, sempat berada di Hongkong untuk mengurus bu Risa yang saat itu lumpuh total"
"Dulunya kapan ayik?"
"Kira-kira sebelum pak Pandu menikah dengan Bu Nayla"
Sempat terkejut, namun hanya sesaat. Eve kembali menampilkan gurat santai sampai langkahnya tiba di kamar.
"Sudah sejak kapan ayik?"
"Sudah sangat lama nona, saya seangkatan dengan Apri dan juga Adan"
My maa,,, jadi ayik Nuri kenal dengan pak Adan? itu artinya sudah tiga puluhan tahun dia bekerja pada pak Pandu.
Betah juga mereka mengabdikan diri pada keluarga Mahardani. Sedangkan aku, haha bahkan ingin kabur secepatnya.
"Non, silakan istirahat saya keluar dulu"
"Sie-sie yiyi"
"Pu khe chi" jawab Nuri kemudian berlalu.
Selang sepuluh menit, Kellen memasuki kamar Eve berniat untuk membicarakan rencana pertemuan dengan keluarga yang kehilangan bayi di rumah sakitnya.
Tanpa mengetuk pintu, Eve yang tengah memilih piyama tersentak kaget saat tahu-tahu Kellen sudah berdiri di belakangnya.
"Ehmm"
"Astaga" Reflek Eve membalikkan badan. Kedua tangannnya menyentuh bagian dada dan kepalanya agak mendongak karena pria di depannya jauh lebih tinggi darinya.
"Kenapa tidak mengetuk pintu?"
"Kenapa memangnya? apa kau ingin menghamiliku juga?"
"Aku ingin membunuhmu"
Kellen berdecih sebelum kemudian berkata. "Kau memang tidak ada takut-takunya sama bosmu"
"Tapi kebetulan kau kesini" mata Eve berbinar.
Kellen mengangkat sebelah alisnya usai mendengar ucapannya. Ia bahkan melupakan tujuan utamanya datang ke kamar sang asisten.
"Kenapa?"
"Aku tidak membawa kebutuhan wanitaku, bisa kau beli sekarang juga?"
"Kebutuhan wanita? apa itu?" tanya Kellen penasaran.
"Kau sudah tahu kan kebutuhan wanita yang pernah ku catat?"
Reflek mata Kellen memindai tubuh Eve dari atas hingga ke bawah.
__ADS_1
"K-kau menyuruhku membeli itu?"
Eve mengangguk.
"No, wo pu yao"
"Kalau begitu aku minta uang, aku akan membelinya sendiri"
"Kau akan keluar membeli itu?"
"Iya"
"Sendirian?"
"Mana bisa aku keluar sendiri, kau temani aku"
"Sekarang?"
"Next years! Ya sekarang lah bodoh"
"Kau ngatain aku bodoh, aku tidak akan membelikannya untukmu" Usai mengatakan itu, kellen berbalik hendak meninggalkan kamar Eve. Namun dengan cepat Eve mencegahnya.
"T-tuan tunggu"
Melihat Kellen tak menghentikan langkahnya, Eve bergegas menutup pintu kamar.
"Kau tidak boleh keluar sebelum mengajakku ke Seven Eleven" ucapnya tepat di sisi pintu yang sudah tertutup rapat.
"Di sini tidak ada seven eleven, Eve"
"What?? tidak ada?"
"Hmm"
"Terus aku gimana?"
"Gimana apanya?"
"Aku perlu itu sekarang juga"
"Itu urusanmu"
"Ini urusanmu, karena kau yang sudah membawaku kemari"
"Itu masalahmu, kenapa lupa membawanya, bodoh?"
"Ya aku lupa"
"Ya kenapa lupa, masa sama kebutuhan sendiri lupa" Kellen mendesah lalu melipat tangan di dada dan membuang muka. "Wanita aneh"
"Tuan, please!! bukankah kau yang mengendalikan layanganmu ini?"
"Layangan? apa maksudmu?" Kellen tak mengerti.
Tak tega menatap mata Eve yang menampilkan puppy eyes, terpaksa Kellen membawa Eve keluar untuk mencari kebutuhan pribadinya.
Seringnya bolak-balik Indonesia-Macao dan singgah disini membuat Kellen tahu dimana ada supermarket yang masih buka di jam malam seperti ini.
"Please, tuan tampan!" Eve menangkupkan kedua tangan di depan dada.
"Kita pergi sekarang"
"Tapi maaf, aku tidak bisa ikut, tuan"
"Apa??"
"Perutku sangat sakit"
"Minggir" tegas Kellen.
"Aku akan minggir kalau tuan pergi membeli itu sekarang"
"Iya, menyingkir sekarang juga"
"Terimakasih tuan" Eve membuka pintu untuknya.
Seperginya Kellen, Eve bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Di tengah-tengah aktivitas mandinya, bayangan senyuman dari ketiga orang yang ia temui di bandara tadi tiba-tiba melintasi angan-angannya. Seolah senyuman mereka bergantian masuk mengisi pikiran dengan sangat manis, dan sepersekian detik membuat bibir Eve reflek menerbitkan garis lengkung ke atas.
Kenapa mereka sangat manis, wajah mereka juga sangat teduh. Kenapa jantungku berdetak sangat cepat ketika mengingat senyum mereka? dan apa ini, kenapa tiba-tiba air mataku jatuh?.
Apa aku begitu mengagumi atlet itu? sehingga saking senangnya bertemu, aku sampai menangis begini
Apa ada kesempatan lagi untuk aku bertemu dengan mereka?.
Kalau iya, aku mau, Tuhan.
Eve kembali mengguyur tubuhnya setelah memberi sabun di badannya.
Lewat beberapa menit, aktivitas mandipun selesai. Gadis itu segera mengenakan pakaian sebelum kemudian beranjak dari kamar mandi.
Sambil menunggu bosnya pulang, Eve berinisiatif membuatkan teh jahe. Sudah menjadi rutinitas setiap malam minuman jahe itu harus ada di nakas kamar sang tuan sebelum tidur.
Lagi-lagi senyuman dari tiga orang di bandara kembali terlintas.
Berusaha mengabaikannya, Eve membawa teh jahe ke kamar Kellen.
Baru saja Eve keluar dari kamarnya, dia berpapasan dengan Kellen yang membawa dua kantong plastik.
Eve tercengang begitu melihat barang pesanannya sebanyak itu.
"Kau membeli sebanyak ini?"
"Iya buat stok, supaya kau tidak menyuruhku membeli barang memalukan ini lain waktu"
__ADS_1
Mengulum senyum, Eve mengambil dua kantong itu dari tangan kanan dan kiri Kellen.
"Ok, sie-sie ni, dan sebagai ucapan terimakasihku, aku sudah membuatkan teh jahe untukmu" kata Eve sumringah. "Selamat menikmati teh jahe buatan asistenmu yang sialan ini, tuan Kellen Austin"
Eve berlenggang dengan santai menuju kamarnya usai mengatakan itu.
Sementara Kellen menatap punggung Eve dengan sorot aneh.
"Wanita rubah, wanita aneh, sialan, kau sudah membuatku di tertawakan banyak orang"
***
Pagi hari,,,
Di atas ranjang, sepasang suami istri masih nyaman di balik selimut. Berhubung ini hari minggu, mereka seakan bermalas-malasan untuk bangun.
Mereka yang kembali kerumah setelah mengantar sang adik, tidak membawa serta putri mereka pulang.
"Dek"
"Hemm"
"Sudah siang loh"
"Jam berapa memangnya?"
"Tujuh" bisik Daffa, Pria itu lalu memainkan bibirnya di tengkuk sang istri kemudian turun ke punggung dan membuat tanda merah di sana.
"Sebentar lagi"
"Kalau gitu, hadap sini dong"
Pelan, Amara melakukan pergerakan.
Mereka kini berbaring saling berhadapan.
"Gadis kecilku, sekarang udah pintar nyenengin suami" Ucap Daffa sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.
Mata Amara yang semula terpejam, perlahan terbuka dan langsung terkunci oleh sorot lembut milik Daffa.
"Kamu tahu, dalam satu hari mas selalu jatuh cinta pada gadis kecil ini berulang kali, cinta itu selalu lebih besar dan dalam dari sebelumnya. Maaf kalau mas belum bisa bahagiain kamu"
Amara tersenyum, lalu menangkup lembut wajah suaminya.
"Mas yang terbaik yang ku punya"
Tangan Daffa melingkari pinggang Amara.
"Maaf sering sibuk di rumah sakit dan jarang ada waktu buat mas dan Tita"
"Tidak apa-apa, kamu masih menjalankan kewajibanmu sebagai istri di sela-sela sibukmu" sahutnya lalu mengecup kening Amara sangat lama.
Hangat napas dan hangat bibirnya di kening Amara, seakan merasuk ke setiap aliran darah.
"Makasih sudah memahamiku" lirih Amara setelah bibir itu menjauh dari keningnya.
"Mas kan memang selalu memahamimu dan mengalah darimu"
Mendengar ucapannya, Amara tersenyum kemudian mengecup kilat bibirnya.
"Kalau sudah bosan di tempat tidur" kata Amara sambil mengusap wajah suaminya. "Ayo bangun, kakek Dandan pasti sudah menunggu di meja makan"
"Di atas tempat tidur bareng istri kecil mah nggak akan pernah bosan sayang, sampai besok dan besoknya lagi juga mau"
"Isshh" desis Amara lalu bangkit sambil menggelung rambut panjangnya.
"Mau jemput Tita jam berapa?" tanya Daffa masih berbaring di atas ranjang.
"Habis sarapan, sekalian ajak kakek ke rumah mommy" jawab Amara yang kini sudah berada di balik kamar mandi.
"Kita tinggalin kakek di rumah mommy ya sayang"
"Kenapa?" Amara sedikit meninggikan suara.
"Mas mau ajak kamu sama Tita ke Plaza"
"Ngapain?"
"Kata Noah ada investor dari Macau yang akan datang berniat menawarkan kerja sama, nanti sekalian jalan-jalan sayang, gimana?"
"Ini hari minggu loh mas, harus sekarang gitu?" Amara keluar dari kamar mandi.
"Cuma untuk cek plaza aja si, belum deal soal kerja samanya" Daffa berkata dengan fokus menatap layar ponsel. "Nanti bisa sekalian ajak Tita main timezone juga kan, habisin waktu bareng peri kecil kita"
"Ya udah okey, bisa sekalian belanja kebutuhan nanti"
Amara yang menikah delapan tahun lalu dengan anak angkat kakeknya, di karuniai seorang putri berusia lima tahun. Amara sempat menunda kehamilan selama tiga tahun karena harus menyelesaikan pendidikan kedokterannya.
Saat ini, Amara tinggal bersama suami serta kakeknya.
Daffa yang ingin merawat ayah angkatnya di masa tua, memutuskan tetap tinggal dengan kakek dari istrinya.
Keputusan Daffa sangat di setujui oleh Nara dan juga Tama. Setidaknya Nara bisa mengandalkan putrinya merawat dan menemani sang ayah di masa tua.
Awalnya mereka memang canggung dan merasa aneh, tetapi lama-lama terbiasa dengan status pernikahan Daffa dan Amara. Apalagi pernikahan itu adalah saran dari kakek Ramdan agar hubungan dirinya dengan anak angkatnya yang bersahaja dan sholeh bisa lebih dalam.
Keputusannya itupun sangat di terima oleh Amara, sang cucu. Karena kebersamaan Amara dengan Daffa yang terjalin sejak kecil, membuatnya mencintai Daffa dan tak mau berpisah.
Bersambung.
Sie-sie : terimakasih
pu ke chi : sama-sama
Wo pu yao : aku tidak mau
__ADS_1