Personal Assistant

Personal Assistant
Dua malam sebelum pergi


__ADS_3

Tidak ada yang berubah dalam hidup Kellen dan juga Eve.


Pria itu tetap menjalani aktivitasnya sebagai pebisnis international, sementara Eve melakukan rutinitasnya yang monoton seperti sebelum-sebelumnya.


Sering sekali Eve menemani Kellen jumpa pers yang selalu menjadi inspirasi bagi semua orang terutama dalam dunia bisnis, hanya bisnislah yang Kellen bahas ketika para wartawan mewawancarainya.


Sering juga Eve menemani Kellen menghadiri pertemuan dengan para bisnisman terkemuka untuk melakukan negoisasi kesepakatan kerjasama.


Ada dari mereka yang menawarkan putrinya untuk menjadi pendamping hidup, ada juga pebisnis wanita yang merayunya dan menawarkan diri menjadi istrinya agar kesepakatan kerjasama bisa deal, dan saling menguntungkan, namun dengan tegas Kellen selalu menolak penawaran-penawaran kotor itu.


Pekerjaan Eve sebagai personal assistant dari seorang pria yang hanya menjentikkan jari untuk mendapatkan semua keinginannya, membuatnya semakin memahami tentang apapun dari sosok pria yang sudah berhasil memporak-porandakkan isi di balik dadanya.


Bekerja selama hampir tiga bulan membuat Eve tahu segalanya tentang Kellen termasuk apa yang pria itu sukai dan tidak di sukai, urusan pribadi, dan bahkan kehidupan asmaranya. Eve sangat tahu jika sang atasan tak pernah menjalin hubungan spesial dengan para wanita papan atas ataupun selebriti manapun seperti yang di beritakan di media.


Mereka dekat hanya sebatas pertemuan singkat, menyapa dan makan, tak lebih dari itu, tapi seolah media menggiring opini jika para wanita memiliki hubungan dengan pria tampan itu.


Terkadang sikap Kellen yang memberikan perhatian lebih pada para wanita, memantik rasa cemburu dan rasa tak suka dalam diri Eve. Namun meskipun demikian, Eve tetap saja menyangkal perasaan itu. Dia yang menganggap dirinya terlalu membenci sang atasan menolak dengan sangat keras jika dia menyukainya, menyangkal dengan mantap rasa cemburu yang menjeratnya.


Seperti pepatah yang mengatakan bahwa cinta datang karena terbiasa. Terbiasa melakukan aktivitas bersama, apalagi terbiasa tinggal bersama, sudah pasti ada perasaan aneh yang merongrong di hati keduanya. Namun, mereka sama-sama tak mau mengakuinya. Jangankan di depan orang-orang, mengakui pada dirinya sendiri saja mereka tak mampu.


Dan hari ini, Kellen memberikan kesempatan pada Eve untuk bermalam selama dua hari di rumah orang tuanya. Sebab besok lusa, sang sopir sudah harus menjemputnya dan akan langsung mengantarkan ke bandara untuk bertolak ke Indonesia.


"Jadi neneknya gila Ve?" tanya Oliv, hari ini dua gadis itu tengah menikmati waktu kebersamaan karena sebentar lagi, mereka akan berpisah untuk jangka waktu yang tidak bisa di tentukan. Bisa satu bulan, dua bulan, atau bahkan sampai beberapa bulan ke depan.


"Hust,,,! jangan katakan bu Risa gila, nanti kalau si camar mendengarnya, dia bisa membunuhmu"


"Sorry" sahut Oliv sambil menyesap ice cream kesukaannya. "Okey lanjutkan ceritamu" imbuhnya santai.


"Ya meskipun bisa di katakan gila, tapi dia sangat baik jika dalam keadaan normal Liv, tidak hanya bu Risa, anak-anak dan juga menantunya juga memperlakukanku dengan baik, kecuali si camar tentunya"


"Pria itu masih berlaku semena-mena padamu Ve, meskipun kau sudah membantu menenangkan orang gila?"


"Oliiv!!!"


Gadis itu meringis. "Maksudku bu Risa"


Eve kemudian menggelengkan kepala.


"Si camar masih suka menyiksaku dengan pekerjaan-pekerjaan yang di luar nalar. Misalnya menyelesaikan laporan saat itu juga, dan harus selesai dalam waktu secepatnya. atau menyuruhku melakukan pekerjaan rumah karena ARTnya tinggal di rumah pak Pandu"


"Jadi selain bekerja di kantor, kau juga menjadi ART Ve?"


"Hemm"


"Ohh miris sekali nasibmu Ve, ternyata rumor tentang pria dingin dan arogan itu benar adanya"


"Bukan hanya benar Lif, tapi sangat sangat benar dan pas sesuai fakta yang ada, akurat dan tepat"


"Mantap Ve, bisa lengkap gitu nyebutin si camar"


"Memang kenyataannya begitu kok, dia menjengkelkan, bikin kesal, dan selalu membuat darahku mendidih serta jantungku terbakar"


"Oh my God, Eve-Eve" Desis Oliv seraya menggeleng-gelengkan kepala. "Lanjut lagi tentang bu Risa Ve, jika kau akan tinggal di Indonesia selama beberapa waktu, lalu bagaimana kalau bu Risa gilanya kumat?"


"Sekali lagi kau bilang bu Risa gila, ku jitak kepalamu"


"Hehe, maksudku dimensianya"


"Nah, begitu lebih baik"


"Lanjut lagi" pinta Oliv.


"Aku juga tidak tahu Liv, biarlah itu menjadi urusan mereka"


"Kasihan juga ya, keluarga yang ku kira sempurna dengan kekayaan dan kekuasaannya, tapi memiliki permasalahan yang rumit"

__ADS_1


"Itulah hidup, di balik kebahagiaan, pasti ada cela yang selalu di sembunyikan dari mata publik. Kau tahu kan tidak ada yang sempurna di dunia ini, kecuali Tuhan"


"Berarti media belum ada yang tahu tentang ibu dari pria nomor satu di ring judi itu?" tanya Oliv menyelidik.


"Belum, dan aku minta kau tidak membocorkan rahasia ini pada siapapun"


"Janji Ve, aku tidak akan memberitahu siapapun, karena jika aku memberitahu ke media atau siapa saja, aku sama saja membunuh sahabatku sendiri, so don't worry"


"Makasih ya Liv" Balas Eve sendu. "Aku berharap semoga bu Risa tidak kumat-kumat lagi dan tidak mencari mendiang anaknya"


"Semoga saja Ve, aku akan berdoa untukmu"


"Makasih sekali lagi"


"Sama-sama Ve"


Hening, mereka sama-sama tidak bersuara dan hanya menyesap sambil menikmati ice creamnya masing-masing. Meskipun cuaca sudah mulai dingin, tapi kebiasaan makan ice cream Eve serta Olive tetap di lakukan karena ini adalah sesuatu yang paling mereka sukai.


Sampai beberapa menit kemudian, Eve kembali bersuara.


"Liv"


"Iya Ve" Olive menoleh ke samping kanan.


"Aku titip mamah selama aku tinggal di Indonesia ya! tolong kabari aku secepatnya jika terjadi sesuatu pada mamah"


"Kau jangan khawatir Ve, aku dan mamah akan menjaga mamahmu, kami akan sering-sering menginap di rumahmu, atau menyuruh ayik Pelita buat nginep di rumahku"


"Makasih sebelumnya"


"Ish, makasih terus"


"So what Oliv, tidak ada yang bisa ku katakan selain itu"


"Ya ya, tunjukan rasa terimakasihmu itu dengan menjaga kesehatanmu"


"E-ve, please deh nafasku tercekat Ve"


"Tui em chi"


"Pong sau lei kei sau"


Eve tersenyum meringis, lalu melepaskan tangannya yang melingkari dada hingga lengan Oliv.


"Pulang yuk, sudah mulai petang" ajak Eve.


"Ayo, mamah kita pasti sedang memasak sekarang"


"Hmm"


Dua gadis itu bangkit, lalu beranjak keluar dari area taman.


****


Waktu terus berjalan maju tanpa sedetikpun berputar ke belakang. Sampai saatnya lusa tiba, Eve sudah bersiap dengan penampilannya yang sangat sederhana namun tetap elegan dan terkesan cantik.


Dua malam tidur dengan sang mama membuatnya kian berat harus meninggalkan wanita yang sudah merawatnya. Apalagi Pelita akan tinggal sendiri, jelas membuat hati Eve kian cemas dan sedikit takut. Namun tak banyak yang bisa Eve lakukan agar hutang-hutangnya segera lunas kecuali tetap bekerja di Panata Company.


Saat ini gadis itu tengah menunggu sang sopir menjemputnya. Kellen bilang jika Adan sudah dalam perjalannan dan mungkin sebentar lagi akan sampai.


Hingga lima belas menit menunggu, suara deru mobil terdengar semakin jelas. Eve terkesiap dengan jantung yang tiba-tiba berdesir.


"Mah, itu pasti sopir keluarga Mahardani" kata Eve sedikit agak risau.


Pelita tersenyum berusaha menenangkan sang putri.

__ADS_1


"Pergilah nak, doa mamah selalu buatmu"


Eve memeluk kian erat. Dan pelukannya itu adalah sarat akan ketakutan yang entah dari mana datangnya.


"Mamah selalu jaga kesehatan ya, nanti pak Adan dan bik Chou akan menggantikan pak Ben mengantar bahan makanan untuk mamah"


"Iya, lagi pula jika mereka tidak mengirimkan bahan makanan untuk mamah, mamah bisa menghidupi diri mamah sendiri. Asal kau tahu Ve, mamah sehat sekarang, mamah bisa cari uang sendiri"


"Iya meskipun mama sudah bekerja, tapi ingat mamah tetap tidak boleh terlalu lelah"


"Iya Ve"


Pelita terus mengusap punggung Eve dalam pelukannya berusaha menguatkan. Usapan yang merupakan sebuah kode bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Dia yang sudah bekerja hampir seminggu menjadi satpam apartemen, sama sekali tak tahu jika apartemen mewah tempatnya bekerja adalah milik keluarga Pandu. Begitu juga dengan Pandu dan juga Kellen yang tak peduli dengan satpam-satpam yang menjaga di setiap blok properti miliknya. Karena ada begitu banyak satpam, tak menyadari jika salah satu di antara mereka adalah Pelita.


"Excusme!"


Suara seorang pria dari luar menginterupsi pelukan mereka. Persekian detik kemudian, Pelita dan Eve saling melepaskan tangannya.


"Benar mah, dia pak Adan sopirnya tuan El, Eve pergi dulu ya"


"Kau hati-hati, hubungi mamah jika telah sampai di tujuan"


"Iya mah"


Pelita mengecup kening Eve lebih lama, setelahnya Eve meraih punggung tangan Pelita dan menciumnya.


"Excusme" ucapnya lagi dengan nada agak tinggi.


Bergegas Eve melangkah ke arah pintu sambil menarik kopernya.


"Nona sudah siap?" tanya sang sopir ketika pintu terbuka.


"Sudah pak"


"Kalau begitu, kita berangkat sekarang"


"Iya"


Sekali lagi Eve berpamitan pada Pelita.


"Jaga diri mamah"


"Iya mamah pasti jaga diri, kau juga ya, jaga kesehatanmu"


Eve mengangguk penuh sendu.


"Goodbye mah"


"Siu sam ti, O ke loi"


Bersambung


Tui em chi : Permohonan maaf.


Pong sau lei kei sau : Lepaskan tanganmu dariku.


Siu sam ti : Hati-hati


O ke Loi : Anak perempuanku


Loi : Anak perempuan.


Bahasa resmi Macau : Portugis, tapi sebagian dari mereka banyak yang menggunakan bahasa Kantonis/ bahasa hongkong dan bahasa mandarin. Banyak juga yang menggunakan bahasa inggris.

__ADS_1


Maaf kalau ada kekeliruan.


__ADS_2