
Sosok wanita cantik tengah menatap sebuah foto seorang bayi di dalam kamarnya. Foto yang sempat di ambil oleh sang suami sesaat setelah dua bayi itu terlahir ke dunia, menjadi satu-satunya kenangan yang mereka miliki.
Naraya Stevanie, kembali terusik oleh ingatannya dua puluh tiga tahun yang lalu, dimana dia harus kehilangan salah satu bayi kembarnya yang begitu menggemaskan.
Pada tahun pertama, dia seakan menjadi wanita lemah, air mata itu tak henti-hentinya mengalir dari pelupuk mata. Bahkan ia sempat mengalami baby blues karena menahan rindu dan sempat menyalahkan dirinya sendiri.
Segala cara sudah dia lakukan agar bayinya di temukan, namun usaha itu sia-sia. Tama dan Narapun sudah berhasil memenjarakan pemilik rumah sakit tapi tetap tak ada titik terang mengenai sang putri.
"Mom"
Terlalu hanyut dengan kenangan masa lalu, Ia sampai tak mengindahi panggilan dari sang suami.
Sampai ketika pria itu duduk di sampingnya lalu merangkul pundaknya barulah dia sadar dan seketika tubuhnya berjengit.
"M-mas" Nara mengusap pipinya yang basah.
"Kenapa lagi?"
"Enggak, cuma kangen aja"
"Sedihnya sudah bertahun-tahun loh mom, sekarang saatnya kita bahagia, kita ikhlaskan Pelita. Jika masih hidup, semoga Allah segera mempertemukan kita dengannya, dan kalau sudah meninggal, kita doain dia, ya"
Nara mengangguk meski pelan.
"Kita ikhlas, benar-benar harus ikhlas, jangan terpaksa, dan jangan di paksakan, harus lepaskan semua beban yang ada di hati mommy, dengan begitu, mommy pasti nggak akan sedih lagi. Ingat kata papa, semua akan kembali pada pemilik-Nya. Kalau kita tidak di pertemukan di dunia, semoga kita di pertemukan di akherat, kita berkumpul di surga-Nya sama-sama"
Sejujurnya ada rasa nyeri di dada Tama ketika dia mengatakan itu, tapi sebisa mungkin ia tahan. Jika sang istri tenggelam dalam kesedihan, maka sudah menjadi tugas sang suami untuk menghiburnya. Bertahun-tahun mereka lalui dengan air mata, namun saat ini sudah cukup kesedihan menjerat mereka.
"Kita masih punya kak Amui dan Pijar yang harus kita jaga, kita juga ada Tita yang wajahnya selalu ngangenin, yang harus kita sayang banyak-banyak. Ngerti ya!"
Lagi-lagi Nara hanya mengangguk.
Benar kata mas Tama, Lepaskan dengan ikhlas, maka aku tidak akan merasa sesak.
"Oma, Opa!"
Suara anak berusia lima tahun menggema di dalam kamar, gadis kecil itu langsung berlari menghampiri opa dan omanya.
"Tita" lirih Tama lalu memangku tubuh mungil Titania Zoya Bimantara. Cucu pertamanya.
"Kata mbak Jamilah makan malam sudah siap opa, oma. Opa uyut sama oma uyut juga udah di meja makan" Ujarnya dengan nada suara khas anak kecil.
"Okey, sekarang ayo kita lets go, kita makan banyak-banyak, supaya badannya jadi sehat banyak-banyak"
Tama bangkit sambil menggendong sang cucu. "Ayo oma Nana"
"Ayuk"
Merekapun melangkah keluar kamar, dengan Tita yang masih berada dalam gendongan opanya sementara Nara menggamit lengan suaminya.
"Papi sama mami belum pulang?" tanya Tama di tengah-tengah langkahnya menuruni anak tangga.
"Papi masih di mall, mami di rumah sakit sembuhin orang-orang sakit. Terus tadi mami telfon katanya pulangnya malam-malam, soalnya mau jemput om Pijar di bandara sama papi juga jemputnya. Tita di suruh bobo sama opa sama oma dulu kalau papi mami belum pulang, terus nggak boleh nakal juga, nggak boleh ngerepotin opa sama oma, harus nurut banyak-banyak, nggak boleh nakal yang banyak-banyak kata mami"
Anak itu memang sangat cerewet, sang kakek hanya menanyakan satu hal, tapi sang cucu menjawabnya dengan beberapa hal.
"Oma ingat apa kata Tita tadi?" Tama bertanya pada Nara.
"Ingat dong, opa pasti lupa kan?"
"Iya nih, Tita ngomongnya panjang-panjang si jadinya opa lupa deh"
"Opa harus minum vitamin yang banyak-banyak" Kata Tita "Biar ingatnya juga banyak-banyak. Nanti Tita ngomong ke mami supaya kasih opa vitamin"
Saking gemasnya, Nara langsung mencubit hidung Tita lembut. Sampai langkahnya tiba di area ruang makan, dua sosok lansia tersenyum bahagia.
"Opa sama oma uyut lama ya nunggunya?"
Nara menarik kursi untuk sang suami dan cucunya, lalu terakhir untuk dirinya.
"Enggak sayang, opa uyut malah senang kalian turunya lama-lama"
"Iya kan opa ngrayu-ngrayu oma uyutnya jadi lama-lama" celetuk Tita yang mengundang gelak tawa.
__ADS_1
*****
Di tempat lain, Pria matang yang ketampanannya paripurna sudah duduk manis di lobi rumah sakit menunggu sang istri selesai tugas. Pria itu bahkan masih sangat muda di usianya yang sudah mencapai kepala empat. Bahkan terlihat sama mudanya dengan sang istri yang usianya jauh di bawahnya dengan selisih lima belas tahun.
"Dek mas sudah di loby rumah sakit"
Satu pesan berhasil ia kirim ke nomor sang istri.
Tak menunggu lama, notif balasan pun masuk.
Mami Ara : "Tunggu sebentar lagi mas, lagi cuci tangan" (Tiga emot kiss)
"Ok sayang" (Lima emot kiss)
Hingga beberapa menit, wanita cantik dengan balutan dres selutut berwarna tosca menghampiri sang suami yang duduk sambil membaca majalah.
Pria itu langsung melipat bacaannya ketika wanita cantik itu sudah berdiri di hadapannya.
"Mas" Amara meraih tangan suaminya lalu mengecup punggung tangannya.
"Kita langsung makan malam ya"
"Iya" sahut pria itu dengan nada lembut, lalu menggandeng tangan Amara dan mengunci jari-jemarinya.
"Ada telfon Tita?" tanya sang pria.
"Ada tadi habis sholat maghrib"
"Lagi apa putri kecilku?"
"Tadi si katanya mau makan malam, mau naik tangga panggil opa omanya"
Pria tampan itu membuka pintu mobil dan mempersilakan Amara masuk, lalu menutupnya kembali.
Selagi Amara memasang seatbelt, pria itu berjalan memutar depan mobil.
"Jam berapa om Pijar sampai di bandara dek?" tanyanya ketika sudah duduk di balik kemudi.
"21:45"
"Kita ke restauran dekat bandara saja gimana mas?"
"Boleh sayang, malah bagus, toh ini sudah pukul delapan"
"Iya, biar agak cepat ke bandaranya"
"Ok sayang"
***
"Eve, bangun! kita sudah sampai di Jakarta"
Eve menggeliat, lalu mengitari pandangan. Telinganya menangkap suara dari salah satu petugas FA yang mengatakan bahwa pesawatnya sudah mendarat sempurna di bandara International Soekarno-Hatta. Karena perjalanan yang harus transit di Hongkong, dan pesawat mengalami delay hingga beberapa jam, mereka sampai di Indonesia pada malam harinya.
"Ini Indonesia, tuan?"
"Iya, ini tempat daddy mommyku berasal"
"Jadi pak Pandu dan bu Nayla berasal dari sini?"
Kellen mengangguk.
"Kau bisa bahasa sini berarti?"
"Sangat bisa, aku dan daddy mommy setiap hari ngomong pakai bahasa sini.
Oh, jadi waktu aku makan malam di rumahnya, mereka ngomong pakai bahasa Indonesia. Pantas saja, aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Ayo turun" Ajak Kellen lalu berjalan keluar dari pesawat.
Welcome Indonesia, tolong bantu aku selama di sini ya, please. Aku tidak punya siapa-siapa di sini. Kalau aku sampai hilang, maka tamatlah riwayatku.
"Ve, kau ke ruang tunggu di sebelah sana" ucap Ben seraya menunjuk bangku yang tak jauh darinya. "Saya mau ke toilet dulu, kau tunggu saja di sana, sebentar lagi tuan El menyusulmu"
__ADS_1
"Iya pak"
Sebelum melangkah, Eve sempat menoleh ke arah dimana Kellen sedang terlibat perbincangan dengan seorang pria. Dia yang berjumpa dengan koleganya di bandara, tampak menyapa dengan senyum lebar dan penuh keramahan.
Eve kembali mengalihkan pandangan pada bangku yang sudah di tunjuk oleh Ben kemudian bergegas melangkahkan kakinya.
Ketika langkahnya kian dekat, ia terkesima dengan pemandangan di depannya.
Disana tampak seorang atlet bulu tangkis favoritnya sedang duduk sembari memainkan gawai.
Eve tak menyangka bisa melihat Pijar di bandara. Ingin rasanya ia menghampiri lalu meminta tanda tangan atau bahkan berfoto untuk di pamerkan pada mamanya, namun ia tak kuasa, dan karena saking senangnya bisa menatap langsung, rasa gugup mendadak ikut nimbrung.
Terlalu hanyut dengan pandangan di depannya, Kaki Eve sempat terkilir kemudian detik itu juga dia nyaris terjatuh, tapi dengan tangkas Pijar menangkap tubuhnya.
"Woppss,,!! Hati-hati mbak!"
What, ngomong apa dia?
Eve mempertemukan pandangannya.
Ternyata atlet ini benar-benar tampan. Pijar Gala Nalendra.
Tatapan mereka saling bersirobok selama hampir sepuluh detik, lalu Pijar membantu Eve bangkit.
"Thankyou, and Im so sorry" kata Eve tak enak hati.
"Are you okay?"
"Yes, Im okay"
"Pijar" panggil Amara sedikit berteriak.
"Kakak"
Pijar dan Eve sama-sama menoleh, sementara Wanita yang memanggilnya langsung menghampiri sang adik.
"Kakak telat ya?"
"Enggak kok kak" sahut Pijar sambil mengecup punggung tangan kakak dan suaminya bergantian.
"Kamu udah makan belum?"
"Sudah tadi di dalam pesawat"
Percakapan adik kakak itu di saksikan oleh Eve yang sudah duduk di dekat mereka. Dia tampak bergeming seolah memikirkan apa kira-kira yang mereka bicarakan.
"Kita langsung pulang ya"
"Iya kak"
Pijar menoleh ke arah Eve. "Be careful for next time"
"Ok, thankyou" sahut Eve sembari mengulas senyum. Sementara Amara dan suaminya pun turut melemparkan senyum manis untuk Eve.
Kenapa senyum mereka sangat menenangkan?
Apa wanita itu kakaknya?
Dan pria itu suaminya?
Oohh.... manis sekali.
Tatapan Eve terus tertuju pada ketiga orang yang berjalan semakin jauh.
Bersambung.
Apa jadinya kalau Daffa yang mudanya awet dan tampannya paripurna menikah dengan Amara dan di karuniai seorang Tita??
πππ
Papi maminya Titania
Daffa Bimantara dan Amara Stevani Bimantaraπππ
__ADS_1