Personal Assistant

Personal Assistant
Ikatan batin


__ADS_3

Spesial Nara Tama & Evelyn.


typonya nanti di revisi lagi 😀😀


Happy reading!!


...🌷🌷🌷🌷...


Pagi ini, seperti biasa Tama dan Nara akan berangkat sama-sama ke kantornya. Mereka sudah menerima kabar dari Aldika dan putranya yang turut membantu mensukseskan Angkasa, bahwa siang ini akan ada pertemuan dengan pemilik baru dari Family care.


Tama dan Nara sendiri sudah tahu tujuan kedatangan mereka. Kalau untuk tawaran kerja sama di perusahaannya dalam hal investasi, Tama, Nara serta Daffa akan menerima dengan senang hati, tapi untuk mendukung rumah sakit yang sudah membuat putrinya menghilang agar bisa beroperasi kembali, mereka sudah sepakat akan menolaknya. Sebab keluarga Nalendra memang tidak pernah ingin berhubungan dengan family care yang akan membuatnya mengingat kenangan buruk itu.


Kendati demikian Amara pun memutuskan hal yang sama. Dia sudah menentukan pilihannya untuk tetap bekerja di rumah sakit milik keluarga Khansa yang didirikan secara join oleh Emir dan juga Aksa. Itu artinya Amara pun menolak untuk menjadi kepala rumah sakit di family care.


Keputusan Tama pun mendapat dukungan dari orang tua mereka.


"Mas, nanti mommy nggak ikut nemuin mereka ya, kan pertemuannya setelah jam makan siang, Amara minta mommy yang jengukin Tita ke TPA pas istirahat makan siang, pasti nanti akan terlambat datang jadi lebih baik nggak hadir sekalian. Nanti Amara sama Daffa yang temani mas"


"Okey sayang, ada Aldika dan Arfan juga yang temani mas" sahut Tama sambil terus fokus mengemudi.


"Yang pasti mommy minta keputusan yang semalam kita bahas"


"Iya, mas tahu"


Di mobil lain, Amara serta Daffa yang juga harus pergi bekerja, pun membicarakan hal yang sama, bicara tentang pertemuan mereka yang akan di lakukan siang ini. Sebelum pergi ke kantor, Daffa terlebih dulu mengantar Amara ke rumah sakit.


Sebenarnya Amara tidak perlu turut hadir, sebab keputusannya menolak tawaran Kellen bisa saja di wakilkan oleh sang suami. Tapi demi melihat wajah Asprinya tuan muda dari Macao, memantik antusiaisme Amara agar bisa bertemu kembali dengan wanita bernama Evelyn, memandangi wajahnya yang tidak membosankan dan justru ingin terus dia tatap.


Aura yang terpancar dari wajah Evelyn, seolah mampu menuntaskan kerinduannya pada sang adik yang menghilang. Itu sebabnya Amara bergairah sekali ingin mengikuti pertemuan itu.


"Mikirin apa sayang?"


"Mikirin pertemuan nanti mas, kira-kira gimana ya perasaan tuan Kellen pas menerima penolakanku"


"Kenapa memangnya?" Daffa meraih tangan kanan Amara, lalu menyatukan jari dengan mengisi celah jemarinya. Sementara tangan kanan Daffa tetap berada di atas roda kemudi.


"Pasti merasa nggak enak kan, karena selama ini kamu jarang sekali mengecewakan orang" tambahnya yang kemudian mengecup punggung tangan Amara yang masih terkunci oleh kelima jarinya. Pandangannya terus fokus ke arah depan selama dia melakukan itu.


"Hu'um"


"Itu hak kamu Amui, jadi nggak usah merasa nggak enak, bilang saja kamu masih terikat kontrak dengan rumah sakit lain, atau kamu tidak bisa keluar dari rumah sakit papa Emir dan papa Aksa"


Sebelum merespon, Amara menarik napas panjang, lalu ganti dia yang mengecup punggung tangan Daffa.


"Tetap saja nggak enak, soalnya kan bisa banget aku resign dari rumah sakitnya papa Emir"


"Ya udah si, nggak usah di pikirkan, kamu tolak, selesai. Toh ini demi kebaikan kita juga. Ingat kan kemarin daddy mommy bilang apa? mereka mau membuang jauh-jauh kenangan tentang Pelita, bukan berarti kita melupakannya, tapi seperti yang kakek Ramdan katakan, cukup ingatkan dalam doa"


"Jadi kita juga harus lupakan tentang kenangan buruk itu, kenangan yang justru akan menyakiti kita semakin dalam. Ngerti kan maksud mas?"


"Ngerti, sayang" Jawab Amara.


Detik itu juga, Daffa mengurai tautan jemari mereka, lalu mengusap belakang kepala Amara.


"Kalau begitu kita fokus pada urusan kita saja, jangan pikirkan tuan Kellen, pikirkan mas saja"


Amara menoleh ke samping kanan.


"Memangnya kapan aku memikirkan pria lain?"


"Enggak pernah ya sayang?" tanya Daffa tanpa melihat Amara.


"Ya enggak lah"


"Oo ya, mas kan memang selalu jadi yang pertama sejak dulu" ledek Daffa membuat Amara langsung mencubit pinggangnya lembut.


Sementara Daffa tergelak mendapat cubitan sayang dari istrinya.


"Jadi nanti siang yang jenguk Tita, mommy?"


Daffa menarik rem tangan karena mobilnya sudah berada di halaman gedung bertuliskan RS. Ar-Raudhah.


"Iya mas, aku sama mas kan sama-sama menghadiri pertemuan nanti siang"


"Kamu pasti maksa mommy buat jenguk Tita di TPA?"


"Iya"


"Demi nona Eve?" tanya Daffa sambil memalingkan wajah ke arah kiri.


"Iya"


"Dasar kamu"


Wanita itu menerima uluran tangan sang suami, lalu mengecup punggung tangannya yang di balas dengan ciuman di kening.


"Nanti mas jemput pas makan siang ya?"


"Ok sayang, makan siang di kantor saddy saja nanti. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam. Hati-hati dek"


"Hemm" respon Amara lalu membuka pintu mobil dan beranjak turun.


*****


Hufft.. hari ini akan bertemu dengan tuan Daffa dan istrinya lagi.


Eve sedikit mengerucutkan bibir, lalu menghirup napas panjang.


Semoga jantungku tidak seliar kemarin. Aku tidak kuat kalau harus menahan detakan sekencang itu.


Tapi, apakah ada kelainan dengan jantungku?


Masa iya, selain berdekatan dengan si camar, jantungku juga berdetak tak karuan ketika berhadapan dengan tuan Daffa dan nona Amara.


Apa aku harus memeriksakan jantungku ke rumah sakit?


Tapi kalau dokter mengatakan aku gagal jantung bagaimana?


Apa aku tidak akan hidup lebih lama?


Eve menggeleng-gelengkan kepala.


No, no, positive thingking Eve.

__ADS_1


"Ve" panggil Kellen.


"I-iya tuan?"


"Kenapa sering sekali melamun si, hah? ada apa denganmu? kau baik-baik saja?


"Aku baik, tuan?"


Kellen mengernyit.


"Apa kau sakit?"


Hening, Eve tak langsung menjawab pertanyaan bosnya.


"Ve! Kau merasa tidak enak badan?"


"Sebenarnya_"


Eve menggantung kalimatnya, sementara Kellen mengangkat satu alisnya.


"Aku ingin memeriksa jantungku, tuan?"


"Memeriksa jantungmu?"


Eve mengangguk.


"Memangnya kenapa dengan jantungmu?"


Duh, apa aku harus jujur karena detakannya sangat tak normal jika berhadapan dengannya.


Ah, pasti nanti dia melayang ke udara, dia pasti besar kepala dan menyangka aku sudah jatuh cinta padanya.


Tapi kan tidak hanya dengan dirinya saja, dengan tuan Daffa juga, dengan nona Amara pun iya.


"Eve"


Mendengar panggilannya, Eve tersadar lalu mempertemukan netranya.


"Semenjak sampai di sini, kau terlihat sangat aneh, banyak melamun, dan sering sekali tak fokus. Kau tidak suka tinggal disini?" Kellen terheran.


"Sejujurnya si iya, tuan. Tapi ada alasan lain kenapa aku suka hilang konsentrasi dan menjadi tidak fokus"


"Apa?" tanya Kellen penasaran.


"Tuan, aku ingin memeriksakan jantungku"


Terkejut, begitu mendengar ucapan asistennya.


"Detakan jantungku sangat liar tuan, apalagi kalau sedang berhadapan dengan tuan" akunya ragu-ragu.


Sama sepertiku?? Eve juga merasakan detak jantung yang tak wajar jika berhadapan denganku?


Apa dia juga jatuh cinta padaku?


Ah sepertinya tidak mungkin dia kan membenciku, tapi kenapa bisa sama denganku. Dan pas aku cek di artikel, itu termasuk tanda-tanda menyukai seseorang.


"Tapi tuan" Suara Eve persekian detik membuat Kellen kembali fokus.


"Jantungku juga berdetak sangat kencang ketika berhadapan dengan tuan Daffa"


"Dengan nona Amara juga" tambahnya sendu. "Aku takut kalau memang ada yang tidak beres dengan jantungku tuan, itu sebabnya kau ingin memeriksannya"


Kemudian hening, Alih-alih merespon kalimat Eve, Kellen justru memindai tubuhnya.


"Tuan"


"Ya"


"Maukah tuan mengantarku ke rumah sakit?"


"Ya sudah, nanti setelah pertemuan, kita ke rumah sakit"


"Terimakasih tuan" ucapnya dengan sorot kelam.


Merasa kasihan, Kellen menolak bantuan dari Eve yang hendak membantunya mengenakan sepatu.


"Berikan padaku!"


"Apanya tuan"


"Sepatunya nona"


"Biar aku pakaikan tuan"


"Tidak usah, kau langsung ke meja makan, tunggu aku disana"


"Yakin?"


"Iya" sahut Kellen lalu mengambil sepatu dari tangan Eve.


Sempat ragu, akhirnya Eve pun melangkah ke ruang makan.


***


Panasnya terik matahari, tak membuat Eve merasakan panas di sekujur tubuhnya. Badannya justru semakin gemetar seperti tengah menggigil karena kedinginan.


Tepat ketika sampai di depan gedung tinggi milik angkasa group, jiwanya merasa damai, resah serta gelisah mendadak sirna.


Apalagi saat langkahnya memasuki area lobi yang ber-AC, seolah hatinya merasakan ketenangan dan kenyamanan yang sangat luar biasa. Euforia itu seperti tak di ijinkan beranjak dari dalam pikirannya.


Baru kali ini dan di gedung orang asing ia merasakan kedamaian yang hakiki, yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan ia seolah tak ingin pergi dari sini ketika ketenganan itu menyergap kian dalam.


Suara riuh dari para karyawan pun tak mampu membuyarkan konsentrasinya. Yang ingin ia lakukan hanya menikmati perasaannya dengan menghirup napas dalam yang serasa begitu ringan, bak ada selang oksigen yang terhubung ke hidungnya.


Wangi soft dan sejuknya AC pun menambah ketentraman dalam jiwa dan raga, hati serta pikirannya.


Tempat apa ini? kenapa sangat nyaman?.


Tak sadar buliran bening meluncur dari pelupuk mata. Dengan cepat Eve menghapus menggunakan tangan.


"Silakan duduk tuan, nona" ucap Arfan, anak dari Aldika.


"Terimakasih"


Eve hanya mengikuti gerakan Kellen dan Ben, dia sama sekali tak mengerti apa yang Arfan katakan.

__ADS_1


Selang dua menit, pria paruh baya yang masih tegap dan tampan memasuki ruangan di dampingi oleh sang menantu.


Astaga,,


Tuan Daffa,,


Dan jantungku, aku tidak tahu bagaimana cara menenangkannya.


Melihat Kellen dan Ben berdiri, Eve pun turut berdiri sambil terus menahan detak jantung yang kian menggila.


"Kellen Austin"


"Gautama"


Dua pria itu saling berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing.


"Ini Ben, sekertaris saya"


Ben menerima uluran tangan Tama.


"Tama"


"Ben"


"Dan ini" lanjut Kellen menunjuk Eve "Asisten pribadi saya. Evelyn"


"Tama"


"E-evelyn"


Alih-alih tenang, jantung Eve justru semakin liar ketika bersalaman dengan Tama, bahkan ia tak mampu lagi berdiri lebih lama. Untung saja usai berjabat tangan, Tama langsung mempersilakan duduk kembali.


Mereka tampan, tidak menakutkan


Tapi kenapa membuat jantungku berantakan?


Siapa orang-orang ini?


Mafia, penjahat, atau bosnya para mafia?


Setelah melalui rapat yang cukup alot, sesuai dengan permintaan Nara, Tama dan Daffa bersedia bekerja sama dalam urusan bisnis, tapi dengan tegas menolak memberikan dukungan pada family care. Daffa pun mewakili sang istri yang sepertinya terlambat datang karena ada operasi dadakan untuk menolak dengan ramah penawarannya. Meskipun Kellen berusaha memberikan iming-iming akan membantu mencarikan bayinya yang hilang, tetap saja tidak mampu menggoyahkan pendirian pria yang sudah menyebabkan sang tante masuk penjara hingga meninggal di dalam sel.


Tanpa sadar, tangan Kellen mengepal kuat, rahangnya pun terkatup rapat.


"Kalau boleh tahu pak, siapa pemilik IMC Hospital?" tanya Ben mengalihkan topik ketika melihat perubahan raut wajah Kellen.


"Pemilik IMC hospital?" Tama mengulang pertanyaan Ben.


"Iya pak?"


"Maaf tapi kenapa dengan pemilik IMC?"


Jelas Tama sangat tahu siapa pemiliknya, tapi tak tahu kenapa pihak Kellen menanyakan itu.


"Kami akan kembali mengusut kasus penculikan bayi itu, pak"


"Untuk apa pak Ben?"


"Untuk mengembalikan nama baik Family care bahwa rumah sakit kami sama sekali tak terlibat dengan penculikan itu, dan kami ingin menghukum pelakunya yang masih bebas berkeliaran"


"Pemiliknya bernama Mishella" kata Tama tenang. "Tapi saat ini rumah sakit itu sudah berubah nama menjadi Suryadaya Hospital"


"Suryadaya Hospital?"


"Benar"


"Terimakasih untuk informasinya" jawab Ben sopan. "Dan mohon maaf, sepertinya kami tidak bisa melanjutkan kerjasamanya, terimakasih atas pertemuan ini, semoga ada kesempatan di lain waktu untuk menjalin kerjasama lagi"


"Tunggu" Dafa mencegah tiga orang yang bangkit dari duduknya.


"Bisa duduk sebentar!"


Tama tercenung dengan kalimat sang menantu.


"Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan"


Kellen, Ben dan Eve pun kembali mendudukan dirinya.


"Apa boleh saya tahu maksud sebenarnya anda menanyakan pemilik IMC yang kini sudah berubah menjadi Suryadaya?" tanya Daffa dengan sangat hati-hati.


"Seperti yang saya katakan tadi, tuan Daffa" Pungkas Ben. "Kami hanya ingin mencari siapa dalang yang sudah mencemarkan nama baik family, saya dan atasan saya menaruh curiga jika perbuatan itu di lakukan oleh IMC yang saat itu popularitasnya menurun karena family berhasil mengalahkannya"


Mendengar jawaban Ben, tiba-tiba Tama teringat akan kejahatan Shella.


"Kami permisi, tuan" Imbuh Ben lalu berdiri dan menyalami satu-persatu petinggi Angkasa group. Ketiganya keluar dengan tenang setelah di persilakan dengan hangat.


Berjalan keluar, Hati dan pikiran Kellen seolah tak terima dengan keputusan dari CEO Angkasa dan Starlight plaza.


Pria itu terus melangkah sembari menahan kesal yang berada di level paling atas.


Tiba-tiba, langkahnya terhenti ketika berpapasan dengan sosok Amara yang berjalan bersisian dengan sang mommy.


Eve yang melihat wanita di depannya, mendadak jantungnya kembali bertabuh ketika sempat mereda beberapa saat lalu.


Pandangan Eve dan Nara pun bertemu.


Ada perasaan haru di hati Nara ketika melihat Eve.


Siapa gadis ini? Nara membatin.


Kenapa memiliki mata seperti Pijar, dan bibir milik Amara, Alisnya seperti mas Tama, siapa Dia?


Nara terus menelisik wajah Eve.


Sementara Eve batinnya pun turut berontak.


Kenapa lagi dengan jantungku, dan kenapa kali ini aku tak bisa menahannya.


Aku sangat lemas, ingin teriak, tapi mulutku seperti terkunci, ingin menangis, tapi apa yang ku tangisi?


Tiba-tiba semua terasa begitu terang menyilaukan kemudian kondisi sekitar mendadak gelap.


Eve tak mampu lagi menopang tubuhnya hingga tiba-tiba dia tumbang karena kehilangan kesadaran.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2