
Di meja makan, Kellen merasa sikap Eve sangat aneh. Wanita itu bahkan merespon seadanya ketika Kellen bertanya, hanya ya atau tidak jawaban yang keluar dari mulut Eve. Dan kondisi saat ini sudah berlangsung satu bulan.
"Nanti aku pulang agak telat"
"Hmm" jawab Eve tanpa menatapnya.
"Kalau bisa jangan tidur dulu sebelum aku pulang, aku mau makan di rumah"
"Ok"
Mata Kellen memicing, namun hanya sekian detik lalu meraih gelas dan meneguk isinya.
"Ve"
"Iya" masih tanpa melihatnya. Fokus Eve terus tertuju pada roti yang sedang ia makan.
"Akhir-akhir ini aku sering sekali muntah, kira-kira kenapa?"
"Jangan terlalu jahat jadi orang" Meskipun jawaban Eve terlalu frontal, tapi ada senyum tipis tersungging di sudut bibir Kellen. Setidaknya, sang istri mulai mengeluarkan jawaban lebih dari satu kata. Bukan hanya, iya, hmm, ok serta jawaban singkat lainnya.
"Kau tidak mengkhawatirkan suamimu, begitu?"
Eve menoleh, kemudian menatap Kellen dalam-dalam. "Tidak"
Setelah itu kembali menunduk kali ini menatap buah yang mengisi piringnya.
Habis kesabaran, Kellen akhirnya bangkit lalu berkata.
"Apa kau masih menginginkan kebebasan dengan para pria?"
"Menurutmu?" Eve bertanya balik, dan itu membuat emosi Kellen kian naik.
"Tidak akan pernah bisa"
"Terserah kau saja, aku lebih menikmati hidupku saat ini, hanya makan, tidur, melakukan sesuatu yang ingin aku lakukan di rumah ini, sesekali berenang, mencoba resep masakan Indonesia, tidak perlu lelah pergi bekerja tapi apapun yang ingin aku makan, aku bisa memakannya hanya dengan menyuruh ayik Nuri untuk membelikanku. Tidak masalah dan jika bosan, aku bisa mendengarkan musik, nge-Gym, dan lain sebagainya"
Merasa tertampar, Kellen mengeratkan rahangnya lantas meninggalkan Eve tanpa sepatah katapun.
Sementara Eve nafasnya kembali terembus cukup panjang, ada gelisah yang di sertakan di sela-sela nafasnya.
***
"Nona sakit?"
Eve menggeleng sambil mengulas senyum pada Nuri yang duduk di depannya sambil mengupas apel usai selesai memasak makan siang.
"Tapi kelihatan pucat non"
"Kurang tidur mungkin ayik" elaknya, padahal ia tengah menahan keinginannya mengantar kotak makan siang untuk sang suami.
"Memangnya kenapa tidak bisa tidur, kalau rindu tidur dengan tuan, balik saja ke kamarnya"
"Bukan itu Ayik" sanggahnya cepat.
"Terus kenapa?"
"Pengin antar makan siang ke rumah sakit buat El"
"Tapi nanti tuan El marah gimana nona?"
"Iya makannya itu ayik, aku ragu-ragu"
"Tapi kalau pengin banget, pergi saja, nanti ayik yang tanggung jawab"
__ADS_1
"Tidak, aku takut ayik di pecat"
Saat Eve meliriknya, Nuri tengah tersenyum simpul. "Tuan El mana berani memecat ayik nona, bahkan dia takut dengan ayik.
Eve mengernyit dengan alis terangkat satu. "Kok gitu?"
"Kalau boleh ayik bangga, ayik Nuri ini tangan kanannya pak Pandu, bahkan pak Pandu pernah mempercayakan bu Nayla pada ayik"
"Oh ya?"
"Hmm, tidak hanya bu Nayla, tapi juga bu Risa"
Ah ngomong-ngomong soal genma, aku jadi merindukannya, jadi ingin dengar suaranya.
Mungkin nanti malam ku telfon dia.
"Non"
"I-ya ayik?"
"Kenapa melamun?"
"tidak, tadi ayik bicara soal genma, jadinya rindu"
"Ya sudah telfon saja"
"Nanti malam ayik"
"Jadi, mau ke rumah sakit antar makanan buat tuan El?" tanya Nuri serius setelah terdiam hampir sepuluh detik "Nanti ayik suruh suami ayik buat antar nona ke rumah sakit"
"Tapi takut ayik"
"Tidak usah takut, kan tadi ayik bilang ayik yang akan bertanggung jawab"
"Sudah lebih baik non Eve siap-siap, dandan yang cantik, pakai lipstik yang merah merona biar tidak kelihatan pucat, ayik yang akan siapkan kotak makannya. Nanti selesai nona dandan, ayik selesai siapkan yang akan di bawa"
"Ya sudah, aku siap-siap ya ayik"
"Iya" Nuri tersenyum lalu menggelengkan kepala. Melihat Eve tampak senang, iapun turut merasa senang.
Selang lima belas menit, semua sudah siap begitu juga dengan Nuri yang sudah menyiapkan kotak makan untuk Kellen.
Eve yang turun dari tangga, langsung tersenyum begitu pandangannya bersirobok dengan netra milik sang ART.
"Sudah siap non?" tanya Nuri saat Eve sudah berada di area makan.
"Sudah"
"Ini kotak makan untuk tuan El, lengkap ada buahnya juga"
"Makasih ya ayik"
"Sama-sama non, ayo ayik antar ke depan, tadi ayik sudah ngomong ke pak Banu, supaya menyiapkan mobil, dan sepertinya mobilnya sudah siap"
Eve mengangguk.
Keduanya berjalan bersisian sambil membawa kotak makanan yang berada di tangan Nuri.
"Mari non" kata Banu, suami Nuri.
"Terimakasih paman"
Banu menutup kembali pintu mobil setelah Eve benar-benar sudah masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Bu, jalan dulu ya" Banu menggunakan bahasa Indonesia saat berpamitan pada istrinya. Eve yang sering sekali mendengar percakapan antara suami istri itu, sedikit banyak sudah mahir berbahasa Indonesia. Hampir tujuh puluh lima persen kosakata bahasa Indonesia sudah ia kuasai, namun tanpa sepengetahuan Kellen, Nuri dan juga Banu.
"Iya, hati-hati pak"
"Iya bu"
**
Mengisi paru-paru dengan oksigen lebih banyak, Isi kepala Eve seolah di buat bekerja seperti menyusuri labirin, membayangkan ekspresi Kellen ketika tiba-tiba dirinya berada di rumah sakit tanpa sepengetahuannya. Ia berharap kedatangannya akan membuat Kellen menyadari kebaikannya.
Jujur, Eve pernah bahkan sering berfikir untuk menyerah, ia bisa meminta tolong pada Amara untuk membantunya kabur, tapi setiap ingat sang mama, rasanya jahat sekali kalau sampai mengorbankan wanita yang sudah merawatnya dari sejak ia masih bayi.
Bukan karena ingat suami, terus sayang buat ninggalin pria setampan Kellen. Tapi kalau harus menilai secara fisik dan obyektif, banyak sekali pria yang lebih tampan dari suaminya, salah satunya Pijar. Saudara kembarnya yang belum ia ketahui hingga detik ini.
Sembari terus melamun dan menikmati perjalanan, sesekali pandangan Eve menatap takjub pada gedung-gedung tinggi yang ia lalui, hingga tahu-tahu, mobil sudah memasuki area rumah sakit.
Banu menghentikan mobilnya tepat di pintu masuk utama rumah sakit.
"Makasih ya paman"
"Iya sama-sama non. Nanti kalau sudah nona bisa telfon saya, akan saya jemput di sini"
"Baik paman"
Usai mengatakan itu, Pelan Eve membuka pintu mobil, lalu bergerak turun.
Bersamaan dengan tangannya yang menghempaskan pintu mobil, sepasang netra Eve menangkap sosok Amara tengah mengobrol dengan salah satu dokter lainnya.
Berjalan mendekat, Eve menyapa Amara lebih dulu saat langkahnya sudah di depannya.
"Selamat sore"
"Eve" mata Amara berbinar, reflek langsung memeluknya seakan sudah sangat lama tak bertemu dengannya.
Begitupun dengan Eve yang langsung merasakan kenyamanan dan rasa takut seketika terhempas.
"Apa kabar Ve?" tanyanya setelah mengurai pelukannya.
"Baik"
Pandangan Eve beralih pada dokter muda yang tampak cantik dan berkelas.
Samira??
Eve membaca nickname yang ada di dada sebelah kiri.
Oh, jadi ini dokter yang pernah mengirim pesan singkat ke nomor suamiku.
Cantik..
Lamunan Eve di interupsi oleh Amara.
"Oh ya Ve, ini dokter Samira, dia sudah bergabung di sini sekitar satu bulan lebih. Dok, ini Nona Evelyn, istri pemilik family care" Ucapnya mengacu pada dokter cantik itu.
"I-istri" lirih Samira seperti terkejut.
"Evelyn" Eve mengulurkan tangan.
Tanpa Eve sadari, di ujung lorong rumah sakit, ada sepasang mata yang menyorot penuh Amarah, pria itu sangat tidak suka jika Eve datang ke rumah sakit apalagi jika sampai bertemu dengan keluarga Nalendra.
Reflek, tangan Kellen mengepal kuat, dadanya naik turun menahan gelegak emosi yang terus memuncak.
Bersambung
__ADS_1