Personal Assistant

Personal Assistant
Dimensia atau pikun


__ADS_3

Tatapan yang kian menghujam dari masing-masing netranya, membuat Kellen serta Eve kian kikuk dan Akhirnya kompak menunduk.


Mereka sama-sama menormalkan debaran jantung dengan mengalihkan tatapan ke arah lain.


Sekian detik kemudian, Eve berjalan ke arah nakas sementara Kellen melangkah menuju walk-in closet.


Setelah meletakkan teh jahe, Eve langsung keluar dan memasuki kamarnya yang berada tepat di samping kamar Kellen. Bahkan, ia membawa serta nampan ke dalam kamarnya.


Dadaku??


Eve menyandarkan punggung di balik pintu, matanya terpejam dengan kedua tangan menangkup nampan di depan dada.


Ada apa dengan jantungku? kenapa debarannya begitu tak karuan? Disisi lain aku juga merasa nyaman yang berlebihan?


Aku juga merasa tidak suka ketika pria itu menyebut nama kekasihnya.


Perasaan apa ini?


Tak ingin larut dengan perasaannya yang kian aneh, Eve menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Butuh waktu hampir tiga puluh menit sampai tubuhnya benar-benar kembali segar dan otakpun terasa lebih ringan.


Eve melangkah menuju ranjang lalu bersiap untuk mengistirahatkan badan. Sampai beberapa menit kemudian alam mimpi mulai mengambil alih kesadarannya.


Sementara di dalam kamar Kellen, pria itu terus menatap layar ponsel yang menampilkan potret dirinya dan Eve tengah bersenang-senang seharian ini.


Folder khusus yang menyimpan foto-foto Eve, ia namai dengan my muse.


Jelas sosok Eve menjadi inspirasi untuk Kellen. Wanita yang selalu menjaga imagenya, pemberani, pantang menyerah dan lucu. Apalagi ketika membayangkan tubuh Eve yang bergetar ketika sedang merasa gugup, panik ataupun takut. Merupakan sebuah lelucon atau obyek yang sangat langka.


"Wanita limited edition" Gumamnya lirih kemudian menggelengkan kepala, tangannya terulur meraih teh jahe buatan sang asisten lalu meneguknya hingga tandas.


*****


Seperti pagi-pagi sebelumnya, semua pekerjaan di pagi hari selalu bisa Eve atasi dengan mudah bahkan sangat gesit. Seperti dalam moto hidupnya bahwa waktu tidak akan pernah kembali, itu sebabnya dia benar-benar memanfaatkan waktunya dengan sebaik mungkin.


Saat ini, mereka tengah sarapan dalam diam. Hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring mengisi kesunyian di antara mereka.


"Tuan, hari ini saya di minta pergi ke rumah pak Pandu untuk membantu bik Chou sementara waktu"


Kening Kellen mengernyit mendengar perkataan Janet yang mendadak.


"Kenapa?"


"Sudah beberapa hari ini nyonya Risa sering menanyakan nona Tania, mereka kewalahan jika dimensia nyonya Risa kambuh, jadi untuk sementara saya harus membantu bik Chou di rumah utama"


Tak jauh berbeda dengan sang atasan, Eve pun nampak serius menyimak ucapan Janet.


"Nyonya Risa merasa sedang bermimpi saat nona Eve menemaninya makan malam tempo hari, dan saat ini nyonya mengira jika nona Tania masih hidup"


"Tapi bukankah genma tahu kalau aunty sudah meninggal? genma juga menyaksikan sendiri saat pemakaman aunty?"


"Iya tuan, tapi bu Nayla bilang jika dimensianya kambuh, nyonya menjadi lupa dan menganggap nona Tania masih hidup. Bahkan kemarin bu Nayla telfon kesini menanyakan nona Eve untuk datang kerumahnya dan berpura-pura menjadi nona Tania supaya nyonya Risa bisa lebih tenang, tapi saya bilang kalau nona Eve sedang menemani tuan ke Hongkong"

__ADS_1


"Dimensia genma kambuh kemarin?"


"Iya tuan"


What? dia mengira aku ini Tania, putrinya yang sudah meninggal?


Apa wajahku mirip dengannya, sehingga dia mengira kalau aku ini Tania?


Oh ya Tuhan, kenapa aku bisa masuk sejauh ini ke dalam ranah keluarga Mahardani?


"Ya sudah nanti sekalian kau ikut denganku, Ben akan mengantarmu ke rumah daddy" ucap Kellen yang langsung membuat Eve tersadar.


"Sopir Adan akan menjemput saya, tuan"


"Jam berapa?"


"Katanya setelah mengantar tuan Pandu ke kantor Star company"


"Ya sudah, nanti kau kunci pintunya, pastikan kompor dalam keadaan off, listrik dan yang lainnya dalam kondisi aman"


"Baik tuan"


Usai kepergian Janet, reflek pandangan Kellen dan Eve bersirobok. Keduanya langsung menelan saliva dengan gugup.


Sampai tiba di kantor, suasana masih terasa canggung. Kellen dan Eve masih saling diam, hanya mengeluarkan suara untuk urusan pekerjaan, itupun jika di perlukan.


Kondisi yang bagi mereka terasa begitu kaku sebab biasanya saling menjunjung tinggi egonya masing-masing dan saling berargumentasi, tapi kali ini seolah tak ada keberanian di antara mereka untuk membenarkan pendapatnya.


"Tania? kau di sini nak?"


"Bu Risa?"


"Sayang, kenapa kau ada di sini? kau sedang apa disini?" tanyanya penuh heran.


"Bu, s-saya_"


Belum sempat Eve menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba suara decitan pintu terdengar, membuat Eve sekaligus Risa kompak menoleh.


"Genma?" Kellen terkejut dengan kehadiran sang nenek.


"Ada perlu apa genma kemari?"


"Siapa kau? kenapa ada di ruangan anak saya?"


"Genma, ini El, cucu Genma"


"Cucuku perempuan, Aku tidak punya cucu sepertimu" sahutnya mantap.


Merasa heran, Kellen mengalihkan netranya pada Eve. Dari sorot matanya tersimpan pertanyaan 'Ada apa?'


Eve menggeleng pelan merespon sorot mata Kellen.


Sejujurnya, Eve ingin sekali tertawa usai mendengar ucapan Risa, tapi sebisa mungkin ia tahan, sebab akan terlihat konyol jika ia mengeluarkan gelak tawanya.

__ADS_1


Akhirnya, ia hanya bisa tertawa dalam hati.


Haha,, neneknya saja tidak mengakuinya, malang sekali.


Aku tidak punya cucu sepertimu.


Tuan El, kau tidak di akui sebagai cucunya.


Makannya jangan jahat-jahat jadi manusia.


"Ayo sayang temani ibu jalan-jalan, setelah itu kita lunch sama-sama" kata Risa membuyarkan fokus Eve.


"T-tapi bu"


"Ayolah, ibu akan mengajakmu berbelanja, kakakmu sudah memberi ibu uang untuk bersenang-senang, ibu akan mentlaktirmu" Risa menarik paksa tangan kanan Eve.


"S-saya bukan Tania bu"


"Jangan bercanda Tania, ibu ini yang melahirkanmu, jangan pernah berbohong di depan ibumu"


"Saya benar-benar bu_"


"Eve" potong Kellen cepat. Otomatis pandangan Eve beralih ke wajah pria di samping kirinya. "Ku mohon turuti Genma, dia sedang merindukan putrinya, karena hanya kaulah yang bisa menuntaskan semua kerinduannya"


"T-tapi pekerjaan saya sangat banyak, tuan"


"Aku yang akan menghandlenya"


Risa hanya bengong menyimak pembicaraan Kellen dan Eve. Sepasang matanya menatap


Kellen lalu Eve bergantian.


"Tuan muda yang baik, terimakasih sudah mau menyelesaikan pekerjaan anak saya" kata Risa pada Kellen. "Ayo nak, kita jalan sekarang" tambahnya yang jelas di tujukan untuk Eve.


"I-iya bu"


Sebelum melangkah, Eve melirik Kellen yang masih menampilkan sorot bingung.


"Saya permisi tuan"


"Pergilah! pak sopir akan mengantar kalian, tolong jaga genmaku"


"Baik tuan"


Kellen menatap kepergian Risa dan Eve.


Dimensia genma pasti kambuh.


Pikun?? genmaku yang energik pikun?


Ohh Genma!!!


Bersambung

__ADS_1


Sabar ya, nikmati setiap alurnya, resapi kalimat demi kalimat. Karena dimensia Risa menjadi salah satu sebab Kellen menikahi Eve.


Balas dendam dan Memanfaatkan. itulah tujuan Kellen nantinya untuk Eve, sebelum akhirnya menyadari perasaannya.


__ADS_2