Personal Assistant

Personal Assistant
Kerinduan


__ADS_3

"Hei tuan sialan" Risa dengan serius menatap Kellen. "Jangan kau sakiti putriku satu-satunya, jika dia mengadu padaku kau membuatnya menangis, maka detik itu juga tamat riwayatmu" Lanjut Risa mengancam.


Kellen yang tak di anggap cucu oleh Risa ketika dimensianya kambuh, hanya bisa menelan saliva tak berani membantah.


"Mengerti?" Tanya Risa dingin.


"Iya genma"


"Apa? kau panggil ibu mertuamu dengan sebutan apa? Aku ini mertuamu, panggil aku ibu"


"I-iya bu" sahut Kellen.


Eve terkikik dalam hati.


Jahatnya kayak setan, pantas kalau genmanya tak mengakuinya, manusia jahanam.


"Apa sakit genma separah ini mom?" bisik Kellen di telinga Nayla.


"Iya nak, bahkan dia suka sekali menjambak rambut mommy dan aunty Deli jika sedang kambuh"


Kellen mengeratkan rahangnya, lalu beralih melirik Eve yang tengah berpelukan dengan Pelita.


Sialan kau Eve, lihat! genmaku pun jadi korban keegoisan daddymu, padahal mereka tahu kalau hilangnya kau, adalah sebuah musibah. Bukan auntyku yang menyebabkan kau di culik, tapi auntyku yang harus menanggung akibatnya. Lihat saja, bukan fisikmu yang ku siksa, melainkan batinmu.


Fokus Kellen buyar ketika mendangar suara adik perempuannya.


"Selamat ya Kak Eve" Zea memberikan ucapan selamat seraya memeluk kakak iparnya.


"Makasih Ze"


"Sabar menghadapi jelmaan es kutub yang judesnya setengah mati ya kak"


"Dia itu kakakmu Ze"


"Ya ya, sekarang istrinya akan menjadi garda terdepan untuk membelanya"


Eve tersenyum.


"Tapi kakakku baik kok kak, yakin deh, dia orangnya tak tegaan sebenarnya"


"Iya Ze, kakak percaya"


Setelah semuanya mengucapkan selamat, tak terkecuali Ester yang menyorot tak suka. Kellen membawa Eve ke Hotel miliknya untuk bermalam selama dua hari karena di hari ke tiga, mereka akan langsung terbang ke Indonesia.


Mereka pun sudah sekalian berpamitan pada Risa. Berbagai bujukan serta pesan dari Eve untuk Risa agar tak lagi menjambak rambut Nayla dan Delita sudah ia sampaikan. Risa pun mengangguk patuh dengan syarat Eve harus mengunjunginya sesering mungkin.


"Selamat menikmati malam pengantin nak, segera kasih cucu untuk kami" ucap Pandu meledek, tapi nadanya terdengar serius.


"Iya dad" sahut Kellen seadanya.


What!! cucu? aku tidak sudi punya anak dengannya, tuan Pandu.


"Ya sudah, pergi dan istirahatlah"


****


Indonesia 20:15 Wib, Tama duduk termenung di kursi balkon, pandangannya lurus menatap jalanan yang tampak masih ramai.


Ada sebatang rokok terapit oleh kedua jarinya, sementara mulutnya sedikit mengerucut memainkan asap rokok membentuk seperti bola-bola.


Nara yang melihatnya reflek menggelengkan kepala dengan tingkah sang suami yang berlagak layaknya kaum muda-mudi.


Melangkah mendekat, Ia meletakkan secangkir kopi yang masih mengepulkan asap. Wanita itu duduk di kursi sampingnya yang di batasi oleh sebuah meja.


Dia tahu persis, jika sang suami merokok, itu tandanya sedang di landa kerinduan pada putrinya. Putri yang tak tahu seperti apa wajahnya saat ini.


"Daddy"


Tama menoleh ke samping kanan kemudian mengangkat kedua alisnya.


Nara membalasnya dengan mengangkat kedua alisnya juga, tapi ekor matanya menunjuk ke cangkir berisi kopi.


"Makasih ya mom, semoga jadi pahala"


"Aamiin" Nara mengangguk. "Lagi kangen ya?" imbuhnya bertanya.


Ganti Tama yang mengangguk.


"Sama Pelita?" tanya Nara penuh selidik.


"Bukan?"


Mendengar jawaban Tama, kening Nara mengernyit. "Lalu?"


"Sama Eve mom"


"Eve?" Kening Nara kembali mengernyit kali ini di iringi dengan lirikan tajam.


Tama yang melihat respon sang istri, langsung menjulurkan tangan dan mengapit mulutnya yang agak mengerucut.


"Ish dad, bau rokok tahu" Nara menepisnya lembut.


"Berapa hari nggak ketemu Eve mom?"


Nara bergeming, dengan bibir mengatup dan manik hitamnya bergerak seperti berfikir.


"Tujuh hari kayaknya dad"

__ADS_1


"Lama juga ya, neneknya belum sembuh memangnya?"


"Nggak tahu, Amui nggak crita lagi"


"Ada rencana kesini lagi nggak mom?"


Alih-alih menjawab, Nara malah hanya bergeming sambil memicingkan mata.


"Kenapa? mommy su'uzon pasti kan?" tanya Tama menahan senyum ketika wajah istrinya memberengut.


"Enggak" sanggah Nara di iringi gelengan kepala.


"Terus, kenapa matanya kaya singa gitu tadi?"


"Heran aja sama daddy yang kangennya malah sama daun muda"


Tama tergelak mendengar jawaban istrinya.


Lalu hening, sekian detik kemudian pria itu memadamkan bara dengan menekan puntung rokok di atas asbak.


"Mommy tahu, melihat Eve itu seperti melihat Pijar? daddy sempat berharap kalau Eve itu putri kita, saudara kembar Pijar, tapi setelah menyadari kalau Eve berasal dari negara lain dan memiliki orang tua, daddy langsung menepis harapan itu"


"Mommy juga merasa begitu, setiap menatap wajah Eve, rasa rindu yang terpendam seolah sirna" Nara berkata sambil melempar pandangan ke atas langit. "Mommy juga merindukannya dad"


"Sedang apa kira-kira dia mom, seharian ini daddy terus teringat padanya"


Nara mendesah "Entahlah dad, tapi kata Amui dia mau balik lagi kesini, soalnya kan tuan Macau itu juga perlu asisten"


"Bukankah Amui bilang tuan Macau sedang pulang ke Macau mom?"


"Daddy tahu? kok mommy nggak tahu" Nara menatap suaminya intens.


"Iya, Daffa yang crita, Daffa tahu dari Amui, dan Amui tahu dari sekertarisnya, pak Ben"


"Oh ya?"


"Hmm, kata Amui si ada urusan di sana"


"Berarti, tuan Macau dan Eve sama-sama di sana?" Nayla bergerak menopang dagu dengan tangannya.


"Iya, sehari setelah Eve pulang, tuan Macau itu menyusul dan mungkin mereka akan balik ke sini sama-sama"


"Kapan itu dad?"


"Kapan apanya?" pria itu melirik istrinya.


"Eve sama si tuan Macau, ke sini laginya kapan?"


"Ya daddy nggak tahu lah mom"


"Mommy mau kemana?"


"Ambil ponsel" Nadanya agak meninggi.


Pria yang masih duduk di tempatnya, meraih cangkir kemudian menyesap isinya yang sudah mulai menghangat.


Kurang dari satu menit, Nara kembali dengan tangan menempelkan ponsel di telinga kanannya.


"Tefon siapa mom?" Tanya Tama sambil meletakkan cangkirnya kembali.


"Amui"


Tak lama kemudian terdengar suara si kecil Tita.


"Assalamualaikum oma"


"Waalaikumsalam, sayang! Tita lagi apa?"


Nara duduk, sementara Tama yang mendengar nama sang cucu di sebut, langsung memintanya untuk mengeraskan suara.


"Lagi lihat mami dandan?"


"Dandan? memangnya mami mau kemana?"


"Mau bobo"


"Mau bobo kok dandan?"


"Iya oma, dandannya yang nggak pake itik merah-merah"


Tama dengan serius mendengarkan celoteh Tita.


"Cuma pake kapas aja, kapasnya di tuang-tuang air tapi enggak banyak-banyak, terus di oles-oles ke wajahnya mami"


"Boleh oma ngomong sama mami"


"Bentar dulu dong oma" Tama menyolot. "Opa masih pengin dengar suara cucu" tambahnya.


"Tita"


"Iya Opa" Suaranya lucu dengan gaya khas anak kecil.


"Tita kapan ke rumah opa?"


"Nanti opa, kata papi tunggu papi sama mami selesai sibuknya"


"Okey deh, opa tunggu ya"

__ADS_1


"Iya opa"


"Telfonnya kasihkan ke mami ya nak" sambar Nara.


Tak berselang, suara Amara terdengar.


"Iya mom"


"Kamu ada telfon sama Eve nak?"


"Ada, kenapa mom?"


"Kapan katanya balik kesini?"


"Besok lusa, kenapa?"


"Enggak, mommy cuma nanya aja"


"Katanya dia nikah sama tuan Kellen mom"


"Nikah?" Nara terperanjat, pun dengan Tama.


"Nikah gimana Mui?" Tama ikut menyerukan suaranya.


"Ya nikah dad, kata sekertaris Ben, Kellen dan Eve menikah hari ini"


"Oh ya?"


"Iya dad"


"Kok nggak bilang-bilang? nggak ada omongan gitu, kayak mendadak?"


"Ish daddy, mereka udah merencakannya jauh-jauh hari, tapi emang kitanya aja yang enggak di beri tahu, soalnya kata pak Ben itu privat pesta, hanya keluarga inti aja dad"


"Oh begitu"


"Kenapa daddy mommy nanyain Eve?"


"Sudah lama nggak lihat Eve kan, heran aja kenapa lama balik" sahut Nara pelan.


"Pengin ketemu ya mom?"


"Iya Mui"


"Sama mom, Amui juga pengin ketemu, malah seharian ini Amui kayak nggak konsen kerja, pikirannya terus tertuju pada Eve"


"Kok sama si sayang, daddy mommy juga begitu" Timpal Tama.


"Dia baik-baik saja kan?" Tanya Nara menyelidik.


"Baik-baik aja kok mom, baru aja Amui smsan sama dia, katanya mereka mau malam pengantin, jadi ya udah Amui nggak berani ganggu lagi"


"Oh ya sudah nak, di tutup dulu ya"


"Ok mom, good night"


"Good night baby, assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Hening sejenak usai panggilan terputus.


"Kellen dan Eve menikah dad" Nara seakan tak percaya.


"Kenapa memangnya mom?"


"Enggak, heran aja"


"Heran kenapa?" tanya Tama lalu jeda sekilas menghabiskan kopinya. "banyak kok bos yang nikahin asistennya. Contohnya daddy. Mereka terbiasa sama-sama, dunia mereka hanya berdua, jadi cinta pasti tumbuhlah"


Mereka kembali terdiam, sama-sama tak bersuara.


Detik berikutnya Tama mengernyit ketika kalimatnya tak mendapat respon.


"Mommy kenapa?"


Nara tak langsung menjawab hingga beberapa detik.


"Mommy" panggil Tama.


"Mungkin nggak si, pernikahan bos dan asisten itu di restui orang tuanya?"


Apa mommy berfikir orang tua Kellen juga nggak merestui mereka?"


Nara mengangguk, mengeluarkan apa yang mengganjal di hati.


"Nggak semua orang kayak bunda mom" kata Tama lalu meraih tangan Nara dan menggenggamnya. Mengingat udara semakin malam, suhu pun kian terasa dingin.


"Sepertinya orang tua si tuan Macau merestui mereka, kita doakan saja ya, pernikahannya langgeng"


Nara menekan bibirnya ke dalam, lalu mengangguk meski pelan.


"Tidur yuk, sudah malam" ajak Tama.


"Ayo"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2