
Sehari setelah mendapat kabar jika sang menantu pergi dari rumah, Pandu dan Nayla langsung terbang dari Macau menuju Indonesia.
Ada Amarah tertahan di hati Nayla, ingin rasanya ia mengeluarkan rentetan omelan untuk sang putra yang sudah melanggar nasehatnya, tidak hanya itu, dia juga sudah membuat menantu kesayanganya keluar dari rumah. Namun Pandu terus menenangkannya yang terus menggerutu selama dalam perjalanan.
Pandu dan Nayla sudah tahu semua yang terjadi. Mereka pun tak habis pikir padahal ini bukan salah Eve yang hanyalah korban. Lagi pula hal wajar jika Tama serta Nara menuntut pihak rumah sakit karana hanya pada rumah sakitlah mereka meminta pertanggungjawaban atas hilangnya putri mereka.
Seandainya Pandu berada di posisi Tama saat itu, mungkin sesuatu yang sama akan Pandu tempuh demi sang putri yang baru di lahirkan.
"Dimana anak itu Vin?" tanya Nayla begitu sampai di kediaman rumah peninggalan Tania.
"Ada di kamarnya kak, dia sakit"
"Dia sakit?" Nayla berdecih. "Benar-benar sakit atau hanya pura-pura Vin?"
"Duduk dulu Nay" sambar Risa. "Putramu benar-benar sakit, Alvin bilang tadi malam dia tidak bisa tidur, paginya jadi sakit terus muntah-muntah"
"Kenapa? bukankah seharusnya Eve yang sakit karena sudah di kurung di ruangan yang gelap? tidak di beri makan hingga hitungan jam?"
Tak ada yang berani menimpali ucapan Nayla. Dengan langkah lebar wanita itu terus melangkah ke arah tangga untuk menuju ke kamar putranya.
"Pandu, kau susul Nayla, tengahi istri dan putramu" perintah Risa.
"Iya bu"
Pandu pun mengayunkan kakinya dengan setengah berlari menaiki anak tangga.
Sementara Nayla yang sudah berhasil membuka pintu, memanggil nama putranya dengan sinis.
"Kellen Austin" pekiknya sambil berjalan masuk.
"M-mommy!" Kellen yang tengah rebahan seketika bangkit.
Tak mampu mengendalikan emosi yang terus naik, reflek tangan kanan Nayla mengudara lalu mendarat di pipi kiri Kellen. "Ini untuk kau yang sudah melanggar nasehat mommy"
"Dan ini" Satu tamparan lagi di pipi yang sama. "Untuk rasa sakit yang menantu mommy rasakan"
"M-maaf mom"
Mommy wanita yang selalu berkata lembut, menyenangkan, dan menenangkan. Yang nyaris tak pernah marah dan bersikap keras pada putra-putrinya. Wanita yang melahirkanku, selalu menjadi cinta pertama dan selalu aku prioritaskan. Mommy adalah standar untuk urusan wanita yang ingin aku kencani dan ku jadikan istri. Beliau justru jauh lebih menakutkan jika marah di bandingkan daddy. Tapi di saat aku sudah mendapatkan wanita seperti mommy, aku malah menyia-nyiakan.
"Kau apakan menantu mommy sampai dia pergi dari rumah?" Mata Nayla tajam, membuat Kellen persekian detik langsung menurunkan pandangan. Tangannya masih menyentuh bekas tamparan dari sang mommy.
"Harus berapa kali mommy bilang supaya jangan memiliki sifat dendam, kau tahu dendam akan merugikan diri sendiri?"
Hening...
"Sabar dulu mom" sela Pandu berusaha menenangkan istrinya.
"Sabar apanya dad? daddy tahu kan bagaimana kejamnya putra daddy itu? dia sudah menyakiti mommy, dia sudah membuat Eve pergi dari rumah. Padahal daddy tahu sendiri Eve sudah berkorban banyak terutama untuk ibu"
__ADS_1
"Daddy tahu, tapi pelan-pelan ngomongnya okay"
"Pokoknya mommy tidak mau tahu, kau harus segera membawa Eve pulang" Nayla menudingkan jarinya tepat di wajah Kellen.
Tak mengatakan apapun lagi, dia keluar setelah puas menampar sang anak kemudian melangkah hendak meminta Banu mengantarkannya kemana dia membawa menantunya pergi malam itu.
****
Setelah cukup lama si satpam berkelit dan berdebat dengan Nayla yang tak di ijinkan masuk, akhirnya Nayla bisa menemui Eve setelah si satpam menelfon majikannya.
"Sayang, maafin Kellen ya?" Mereka duduk di sebuah gazebo samping rumah. "Daddy, mommy janji akan mengembalikanmu ke orang tuamu. Tapi please sayang, pulang ke rumah, mommy juga menjamin keamanan buatmu. Kellen, tidak akan pernah berbuat sesuka hatinya lagi"
Eve bergeming seraya menatap ibu mertuanya dalam-dalam. Ingin kembali, tapi bayangan mimpinya kemarin pagi terus berputar-putar mengelilingi kepalanya.
"Ya nak, pulang ya!"
"Belum bisa mom, aku ingin menenangkan diri dulu, sampai aku siap bertemu dengan orang tua kandungku"
"Sampai kapan nak?"
Eve menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan.
"Belum tahu mom"
"Jangan terlalu lama Ve, kau tahu kalau kau sudah menjadi tanggung jawab Kellen, mommy pastikan pria itu tidak akan berani macam-macam padamu. Jika dia masih nekad, mommy tidak segan-segan memutus hubungan darah dengannya"
Eve tak melepaskan sepasang netranya dari manik hitam Nayla yang tengah bergerak seakan penuh harap. Mereka sama-sama terdiam dengan kondisi batin yang mungkin tak sejalan. Eve yang di selimuti resah dan tak ingin kembali, sementara Nayla yang begitu menginginkan Eve bisa pulang ke rumahnya. Eve yang sibuk mencari dan menyusun kata, serta Nayla yang was-was menunggu jawaban dari sang menantu.
Hingga satu menit berlalu, akhirnya Eve memberanikan diri untuk bersuara.
"Maaf mom, aku tidak bisa menentukan kapan akan pulang, sudah cukup anak mommy menyakitiku"
"Apa Kellen sangat jahat padamu?"
Eve mengangguk dan seketika menunduk.
"Dia bahkan begitu kasar saat di ranjang" Keluh Eve menepis rasa malunya. "Dia juga tidak mengijinkanku keluar rumah"
"Benar-benar anak itu" gumam Nayla lirih. "Okay, mommy beri waktu kau untuk menenangkan diri di rumah kakakmu, tapi daddy mommy akan ke rumah tuan dan nyonya Gautama untuk memberitahu semua tentangmu, sekaligus kami ingin meminta maaf"
"Jangan dulu mom, aku dan kak Amara sedang menunggu hasil tes DNA, takutnya aku bukan anak kandungnya"
"Kau sedang melakukan tes DNA?"
"Iya mom, hanya untuk membuktikan saja"
"Ya sudah, tapi nanti setelah hasil DNAnya keluar, tolong beri tahu daddy sama mommy, biar kami bisa menyerahkanmu pada orang tuamu secara baik-baik"
"Tapi jangan libatkan Kellen ya mom"
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Nayla mengintimidasi.
Kemudian hening.
"Apa kau belum bisa memaafkan Kellen?"
Eve menjawab dengan anggukan kepala.
"Ya sudah mommy ngerti, mommy paham"
"Makasih mom"
"Kenapa makasih? mommy ini mommymu, tidak perlu berterimakasih pada mommymu sendiri"
Eve tersenyum kemudian berkata "Aku beruntung punya ibu mertua seperti mommy"
"Mommy yang beruntung punya menantu sepertimu"
Mereka saling berpelukan, selain untuk melepas rasa rindu, juga sebagai rasa kasih sayang antara mertua dan menantu.
"Ya sudah mommy pulang dulu, untuk sementara mommy akan tinggal di sini buat merawat anak tak tahu diri itu"
"Kellen sakit mom?" tanya Eve sambil mengurai pelukan mereka.
"Iya Ve, uncle Alvin bilang dia sering muntah-muntah di pagi hari, tapi pas di cek ke dokter, anehnya tidak ada penyakit apapun di tubuh suamimu"
"Itu tidak mungkin mom"
"Entahlah sayang, nanti kalau masih seperti itu, terpaksa mommy bawa ke Hongkong untuk berobat di sana"
"Itu sejak kapan mom?"
"Katanya si sudah seminggu lebih"
Mendengar jawaban Nayla, kening Eve mengerut. "Seminggu mom?"
"Iya sayang"
Kok aku tidak tahu?
"Okay, mommy pulang sekarang" lanjut Nayla. "Aktifkan terus ponselmu! mommy harus tahu kondisimu setiap saat, setiap menit"
"Iya mom"
Mereka saling berpelukan sekali lagi.
"Mommy hati-hati ya, salam buat daddy dan genma, buat uncle Alvin juga, sampaikan maafku buat daddy"
"Iya sayang" Nayla mengusap punggung Eve. "Kau juga ya, baik-baik disini, jangan khawatirkan apapun, jika mereka orang tua kandungmu, mommy pastikan kau akan kembali ke pelukan mereka"
__ADS_1
"Iya"
Bersambung