Personal Assistant

Personal Assistant
Pertemuan kedua


__ADS_3

Baru saja mata terbuka, keributan sudah mengusik pendengaran Nuri yang tengah memasak sarapan. Eve dan Kellen, tengah berebut kamar mandi sebab air di dalam kamar Kellen tiba-tiba mati.


Pria itu terpaksa masuk ke kamar Eve dan langsung menerobos pintu kamar mandi. Namun, langkah Kellen di cegah oleh Eve sebab dirinya juga harus ke toilet.


"Tidak bisa tuan, ini kamar mandiku"


"Sebentar saja Ve, tanggung ini rambut penuh dengan busa shampo"


"Tidak bisa" Eve menegaskan. "Aku buru-buru mau ke toilet"


Tangan Kellen mencengkram pergelangan tangan Eve.


"Ini rumahku, jadi aku dulu yang masuk"


"Tapi ini kamar mandi di kamarku"


"Minggir atau ku_"


"Apa? kau mau menghamiliku, ayo lakukan kalau berani" potong Eve sinis tangannya terus menahan agar Kellen tak memasuki kamar mandi.


Apa-apaan gadis ini? kalau handukku sampai terlepas kan bahaya.


"Please Eve, mataku sangat pedih"


"Aku akan masuk terlebih dulu, setelah itu akan ku berikan kamar mandiku padamu, tuan"


Usai mengatakan itu, dengan sangat percaya diri Eve berlenggang, namun karena busa sampo yang menetes dan membuat lantai menjadi licin, Eve terpeleset.


Dengan gerak cepat Kellen menangkap tubuh Eve yang nyaris terjatuh dengan posisi setengah terlentang. Kellen sedikit merunduk dengan tangan yang melingkari pinggang Eve, sementara tangan Eve reflek melingkar di leher Kellen.


Hening, mereka diam dengan mata lekat saling menatap.


Satu detik,


Dua detik,


lalu berganti menjadi tiga detik. Mereka masih diam dengan sorot teduh dari keduanya yang menunjukkan bahwa mereka saling terpesona satu sama lain.


Daya tarik dari pancaran matanya, bak magnet yang terus tarik-menarik hingga keduanya justru menempel penuh rapat.


Empat detik hingga lima detik, Eve kian terpesona dengan bentuk dada Kellen yang tak tertutup kain. Kokoh dan bidang, ada sedikit bulu halus yang tumbuh menghiasi tengah perutnya.


Sedangkan Kellen, justru terkesima dengan penampilan wanita yang kini tertahan oleh tangkupan tangannya. Meski terkesan acak-acakan khas bangun tidur, namun kecantikannya yang natural tetap terpancar di wajahnya.


Jangan lupakan jantung mereka yang tak mau kalah seolah bertabuh bertalu-talu.


Tanpa mereka sadari, ada sosok pria tengah menatap dengan sorot terluka dari pintu yang tak tertutup.


Pria itu berdesis..


Hhh sarapan macam apa ini?


Tak ingin sakit lebih dalam, Ben akhirnya meninggalkan keduanya dan kembali ke ruang makan.


Cukup lama mereka dalam posisi ini, hingga sebuah dering ponsel menyadarkan keduanya.


Bergegas Eve berdiri tegap lalu melepaskan tangannya dari leher Kellen.


Menelan ludah, mereka merasa kikuk dan kian salah tingkah.


Eve berjalan ke arah nakas untuk menerima panggilan yang entah dari siapa, dan Kellen masuk begitu saja ke dalam kamar mandi.


"Iya mah"


"Apa kau sudah sampai, kenapa tidak mengabari mamahmu?"


"Sudah mah, maaf, Eve belum sempat"


"Kau baik-baik saja kan?"


"Iya, aku baik"


"Ya sudah kalau kau sudah sampai dan baik-baik saja. Mamah tutup ya"

__ADS_1


"Okay mah"


"Jaga dirimu sayang"


Setelah panggilan tertutup, ingatan tentang beberapa menit lalu seolah di putar ulang dengan gerakan lambat di otaknya.


Eve menutup wajahnya dengan kedua tangan. Berusaha menormalkan perasaannya yang kian tak nyaman.


Kenapa setiap berdekatan dengannya jantungku berdegup sangat kencang? aku juga tak suka jika pria itu dekat dengan wanita lain?


Debaran jantung dan cemburu??


Tanda-tanda pertama dari cinta?


Tidak, aku tidak boleh mencintainya, aku dan dia sangat berbeda.


Setelah sekian menit termenung dengan tatapan kosong, kepala Eve menoleh ke arah pintu kamar mandi yang tahu-tahu terbuka.


Pria yang baru saja membuka pintu, keluar dengan gestur santai, seolah tak ada kejadian apapun yang menimpanya barusan.


"Mandilah, setelah itu bersiap kita akan ke suatu tempat"


Tanpa menunggu jawabannya, Kellen berjalan keluar dari kamar Eve.


Di dalam kamar, kilas balik jatuhnya Eve tiba-tiba terlintas di pikiran Kellen, reflek bibirnya menyunggingkan senyum ketika mengingat kejadian itu.


Dia melirik ke arah nakas, meraih ponsel lalu membuka menu galery, tangannya menyentuh folder bernama my muse.


"Eve Eve" Kellen menggelengkan kepala sambil menatap foto-foto Eve yang sebagian besar di ambil tanpa sepengetahuannya. "Maaf, tadi aku memakai sabunmu"


****


Usai sarapan, Kellen, Eve dan Ben pergi mengunjungi mall. Ben sudah membuat janji dengan general manager dari Starlight Plaza, Noah Sanjaya.


Kellen mendapat informasi jika pemilik Starlight adalah Gautama Nalendra yang saat ini di ambil alih oleh menantunya, Daffa Bimantara yang tak lain adalah suami dari Amara. Dokter muda yang akan di percaya untuk memimpin Family Care.


Selain menjalin hubungan baik guna rencana balas dendam atas rasa sakit hatinya pada Tama, Keluarga Nalendra juga memiliki nama baik di kalangan para pengusaha. Sudah pasti kerja samanya akan sangat menguntungkan bagi Kellen jika menggandeng Angkasa group dan Starlight Plaza untuk mendukung rumah sakitnya yang akan kembali beroperasi.


Jam dan lokasi untuk pertemuan sudah di tentukan. Mereka akan bertemu di ruang meeting Starlight Plaza lantai tujuh.


"Selamat pagi"


Kompak mereka menoleh ke arah sumber suara.


Pria itu? Seperti pria yang ku lihat di bandara.


Eve membatin. Sampai ketika langkahnya semakin mendekat,


Benar sekali, aku sangat yakin kalau dia kakaknya si atlet tampan itu.


Aku bertemu dengannya lagi?


Hufftt kenapa wajah para CEO selalu tampan. Aku belum pernah melihat CEO yang jelek.


Eve tersadar ketika lengannya mendapat sentuhan.


"Jabat tangannya Ve" Lirih Kellen.


"This is my personal assistant, Evelyn" Ucap Kellen ketika memperkenalkan dirinya.


Eve mengulurkan tangan lalu menyalami tangan Daffa.


Kenapa jantungku berdetak begini? Eve, apa kau juga jatuh cinta padanya? Dia sudah punya istri Ve, anaknya juga sangat manis.


"Daffa" ucapnya.


"Evelyn"


"Nice to meet you" lanjut Daffa lengkap dengan senyuman. "She is my daughter" Daffa memperkenalkan putrinya. "Tita"


"Hallo Tita"


"Hi, aunty"

__ADS_1


Oh,, manis sekali. Bagaimana tidak cantik, daddynya saja sangat tampan. Beruntung istrinya memiliki suami sepertinya.


"Mari silakan duduk"


Setelah di persilakan, tanpa basa basi Kellen mengutarakan niatnya. Mereka membicarakan tentang kerjasama dan permohonan permintaan dukungan untuk rumah sakitnya.


Dengan sangat hati-hati, Kellen juga menyinggung tentang bayi yang hilang serta meminta dokter Amara supaya bersedia menjadi pemimpin di Family Care.


"Kalau untuk masalah itu" Kata Daffa tenang. "Saya tidak bisa menentukan karena keputusan ada di tangan istri saya. Saya juga tidak bisa memutuskan apakah mertua saya bersedia memberikan dukungan pada family care, mengingat kami memiliki kenangan buruk di rumah sakit itu"


"Saya tahu tuan" Balas Kellen dengan ketenangan yang luar biasa. "Saya akan mencoba menemui langsung pak Gautama dan bu Nara selaku pemilik Angkasa group"


Daffa mengangguk sebelum kemudian berkata. "Soal permintaan anda pada istri saya, anda bisa meminta langsung padanya. Kebetulan, istri saya juga sedang berada di sini, saya akan memanggilnya jika di perlukan"


"Oh kebetulan sekali pak, jika berkenan, bisa di panggilkan supaya bisa kita tuntaskan hari ini juga"


Daffa kembali mengangguk lalu beralih menatap sang putri.


"Nak, panggil mami ya sayang, om Noah akan mengantar Tita ke tempat mami"


"Ok papi"


"Masih ingat tadi mami dimana?"


"Ada di tokonya aunty Meira pi"


"Ok sekarang pergi dengan Om Noah" Daffa beralih menatap Noah. "Noah, antar Tita ke maminya dan suruh untuk segera ke ruang meeting"


"Baik pak"


Selama membicarakan soal kerja sama, Eve hanya diam menyimak, sebagian pikirannya masih belum percaya dengan pria yang ada di hadapannya saat ini. Pria yang senyumannya terasa menenangkan, membuat Eve tak bisa tidur semalaman karena senyuman itu terus berkelebat dengan bebas di otaknya. Selain itu, Kellen juga menggunakan bahasa Indonesia yang membuat Eve seperti orang bodoh karena sama sekali tak mengerti apa yang mereka bicarakan.


Tenggelam dalam lamunan, suara wanita tiba-tiba langsung membuat jantungnya persekian detik berdesir. Eve memalingkan wajah mencari sosok yang baru saja menyapa.


"Selamat pagi"


"Selamat pagi" jawab Kellen dan Ben kompak sembari berdiri. Mereka bersalaman secara bergantian.


Jadi benar dia istrinya?


Sorot mata Eve kembali kosong tak fokus.


Ada apa sebenarnya dengan detak jantungku? kenapa seperti ini?


Ya Tuhan, aku seperti ingin pingsan, aku benar-benar tidak fokus.


"Eve!!"


"I-ya pak?" Eve melirik Kellen.


Melihat atasannya memberikan kode melalui sorot matanya, Eve langsung paham apa maksudnya, dan tanpa lama-lama ia mengulurkan tangan.


"Amara"


"Amara?" Lirih Eve tanpa sadar, namun bisa di dengar oleh Kellen dan yang lain. Entah kenapa mendengar namanya langsung bisa membuat dadanya berdetak kencang. Apalagi ketika menatap wajahnya, seolah ada sesuatu atau perasaan yang membuatnya tiba-tiba menyimpan rindu.


"Sorry, Im Evelyn Stevanie?"


"Evelyn Stevanie?" Amara mengernyit.


"Yes" sahut Eve gugup.


Amara sempat terkejut, namun keterkejutannya tak berlangsung lama sebab dia berfikir memiliki kesamaan nama adalah hal biasa.


"We have the same name, Stevani" Kata Amara. "Im Amara Stevanie" lanjutnya menyebutkan nama panjang.


Amara Stevanie??


Ternyata di Indonesia juga ada nama sepertiku.


Bersambung


Kakak adik tapi nggak tahu, mencoba berada di posisi mereka, benar-benar sedih...

__ADS_1


kasihan...


Kapan mereka menyadari kalau mereka saudara?? 😢😢


__ADS_2