
Setelah tiga hari di buat makan hati oleh Ester, kini Eve bisa bernapas lega.
Adik sepupu dari suaminya itu baru saja pergi dan akan kembali ke negaranya.
Eve sedikit merasa ngeri dengan sumpah yang Ester ucapkan sebelum berangkat ke bandara tadi, apalagi saat mengingat ucapan Ester jika hidupnya berada di tangannya. Berani bermacam-macam maka jentikan jarinya akan membuat Eve langsung kehilangan nyawa.
Fokus dengan fikirannya tentang Ester, tahu-tahu air yang sedang ia masak sudah mendidih. Eve buru-buru memberikan dua sendoh teh kopi hitam dan satu sendok teh gula ke dalam cangkir. Takaran yang pas sesuai dengan kesukaan sang suami. Selesai menyeduh kopi, dia membawanya ke ruang kerja dan meletakkannya di samping laptop yang masih menyala. Saat akan beranjak pergi, layar ponsel Kellen yang tepat berada di depannya berkedip lalu menyala.
Eve mengerutkan kening membaca pesan yang terbaca melalui pop-up.
Dokter Samira
15:35 WIB
"Are you busy? I want meet you now. Can or not?"
"Dokter Samira?"
Eve bergumam di iringi rasa penasaran.
***
Malam harinya, usai melepas dahaga, yang tak seperti biasanya Kellen melakukan dengan kasar, kali ini pria itu menyentuhnya dengan sangat lembut. Bahkan Eve sampai terhanyut dan lupa diri merasakan gelenyar aneh yang merasuk ke aliran darah.
"Boleh aku tanya?" Eve bangkit untuk menyandarkan punggung di sisi kepala ranjang, tangannya menarik selimut hingga batas dada. "Dan kau harus jawab dengan jujur pertanyaanku?"
Kellen memberi jeda sebelum bersuara. "Silakan tanyakan!" ucapnya datar.
Eve menarik napas dalam-dalam. Anehnya ia justru di sergap rasa grogi, bercampur dengan takut. Entah kejujurannya atau kebohongannya yang akan mebuat hatinya teriris. Keduanya sama-sama menakutkan untuk di dengar.
Netra kelam dan tajam yang terus menatap Eve penuh lekat, membuat wanita itu berfikir mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Kau memang senang sekali mengulur waktu, jadi plin-plan setelah ku sentuh. Lupa dengan apa yang ingin kau tanyakan? atau takut?"
Perkataan Kellen membuat Eve terpancing hingga akhirnya meluncur juga kalimat.
"Bisa di jelaskan siapa itu dokter Samira dan ada hubungan apa antara kau dengannya?"
Pria itu diam, menatap lawan bicaranya dengan bibir terkatup rapat dan ekspresi tak terbaca.
Hening, hanya terdengar detak jarum jam bersahutan yang tergantung di dinding, dan meja nakas kamar mereka.
__ADS_1
Kontak mata mereka belum terputus. Dan entah dari mana datangnya keberanian Eve sampai bisa membalas tatapan tajam sang suami. Bahkan netranya tak kalah tajam dengan pria di depannya.
Mungkin karena akumulasi rasa penasaran, cemburu, kecewa, serta takut yang berhambur menjadi satu.
"Ada pertanyaan lain?" tanyanya yang membuat Eve tertegun lalu menelan ludahnya.
Apa???
Pertanyaanku saja belum di jawab, dia malah bertanya apakah ada pertanyaan lain?
"Makannya" katanya santai, bibirnya tersungging seolah mengejek. "Di baca perjanjian pranikah sampai selesai" sambungnya lalu meraih pakaian untuk ia kenakan.
"Kau dan aku, sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi termasuk para wanita yang dekat denganku. Kau tidak lupa kan kalau pernikahan kita terjadi karena sebuah kesepakatan, dan kesepakatan itu sudah kau tanda tangani, itu artinya kau menyetujuinya.
Pria itu mengatakan sembari mengenakan pakaiannya kembali.
"Jadi kau tidak akan mendapat jawaban dari pertanyaanmu itu, sebab pertanyaanmu sudah masuk ke ranah pribadiku"
Kalimat yang meluncur dari mulutnya membuat Eve terkejut. Namun, mengingat bagaimana kesepatan pernikahan, mau tidak mau Eve harus menelan pertanyaannya mentah-mentah, serta melupakan keinginannya untuk berumah tangga seperti pada umumnya.
Eve menarik napas panjang lalu menghembusakannya sedikit kasar. Kepalanya yang tadi sempat tertunduk, kini terangkat untuk menatap suaminya yang tahu-tahu sudah berjalan menuju ambang pintu.
"Kalau begitu, beri aku celah untuk berhubungan dengan pria lain"
Tak ingin membalas tatapan suaminya, dia memilih memunguti pakaian yang teronggok di lantai. Dia baru tahu ada poin seperti itu di surat perjanjian pranikahnya. Entah point apa lagi yang tertulis, sebab Eve hanya membaca seperempat dari perjanjian itu.
***
Sejak malam itu, Eve sengaja menjaga jarak dari Kellen. Bahkan dia memilih tinggal di kamar terpisah dan menolak dengan kasar jika Kellen memaksanya untuk kembali ke kamar. Dari situlah mereka kembali ke keadaan awal saat hubungannya terjalin hanya sebagai atasan dan bawahan.
"Ah, sial!!" Kellen bangkit kemudian mengacak-acak rambutnya kasar. "Sudah beberapa malam kenapa aku tak bisa tidur!"
Ia melirik tempat kosong di sampingnya.
"Eve, kau benar-benar keras kepala, kalau saja kau tak mengancam akan mengakhiri hidupnya, aku pasti akan terus memaksamu untuk kembali ke kamar ini.
Pria itu berdecih dengan gumaman-gumaman kecil.
"Tapi kenapa aku bisa seperti ini? kenapa rasanya ingin sekali tidur dengannya, menghirup aroma manis di tubuhnya?"
Tiba-tiba, perutnya merasa mual ketika keinginannya itu tak terpenuhi. Kellen langsung mengibaskan selimut lalu beranjak dan melangkah menuju kamar mandi.
__ADS_1
Hampir tiga bulan pernikahan, baru kali ini ia ingin sekali tidur sambil memeluk istrinya. Dan dia selalu mual di setiap pagi.
Kellen sampai berkunjung ke dokter untuk berkonsultasi mengenai lambungnya. Namun hasil diagnosa dokter mengatakan jika lambungnya baik-baik saja. Dokter juga mengatakan jika rasa mual itu bisa saja di sebabkan karena perubahan hormon serta kurangnya jam tidur dan asupan gizi.
Puas mengeluarkan isi di perutnya, ia kembali ke tempat tidur, mencoba memejamkan mata yang belum berhasil ia pejamkan bahkan ketika waktu sudah melewati tengah malam.
Selang setengah jam, dia akhirnya keluar dari kamar, dan mengendap-endap masuk ke kamar Eve yang tak pernah terkunci.
Begitu langkahnya sampai di sisi ranjang, Kellen menatap dalam-dalam wajah yang tetap cantik meski tengah tidur sekalipun.
Oh ya ampun Eve, kau membuatku lupa diri, aku benar-benar merindukan permainan ranjangmu.
Pria itu berkacak pinggang membayangkan percintaan mereka satu bulan lalu. Sentuhan lembutnya membuat Kellen berkali-kali harus menelan salivanya dengan susah payah.
Ternyata lebih memuaskan jika di lakukan dengan pelan, lembut dan penuh penghayatan. Apalagi saat teringat ekspresianya yang begitu menikmati sentuhanku, ah aku harus menahan diri dan menyingkirkan semua ingatanku tentang indahnya percintaan kami waktu itu.
Eve dan segala daya tariknya, benar-benar membuatku melupakan segalanya, seolah hanya dialah satu-satunya wanita yang ada di dunia ini.
Usai berperang melawan bisikan hati, pelan Kellen merebahkan diri di samping sang istri. Jangan sampai wanita itu terbangun dan mendapatinya tidur di ranjangnya yang pasti akan membuat harga dirinya turun di level terendah.
Beruntung, kondisi Eve yang terlalu lelah karena di siang hari ia selalu ingin melakuan aktifitas tanpa kenal lelah, dari memasak, sampai berenang sehingga ia bisa tidur dengan nyenyak di malam harinya dan tak menyadari ada lengan kokoh yang melingkari perutnya.
Dengan kualitas tidur yang sangat bagus, juga membuatnya tampak fresh di pagi hari dan bahkan kecantikannya terpancar kian lebih dari wajahnya.
Hanya menunggu sekian menit, Kellen berhasil memejamkan mata hingga tahu-tahu ia terbangun pada pukul 04:40. Pria itu langsung bangkit dan berpindah ke kamarnya. Jelas Kellen tak ingin Eve tahu jika dirinya tidur sambil memeluk dan menyesap aromanya.
Meski hanya tidur tak kurang dari empat jam, tapi Kellen merasa seperti tidur lebih dari delapan jam, sementara di pagi harinya ia bahkan tak merasakan mual seperti pagi-pagi sebelumnya.
Ah, sialan apa aku harus diam-diam memasuki kamarnya setiap malam, dan bangun pagi-pagi setiap hari?
Kurang ajar.
Bersambung.
Yang kurang ajar Eve apa bayinya, El??
Libur kemarin ya 😀😀
__ADS_1
Oleh-oleh healing Mahameru...