Personal Assistant

Personal Assistant
Panggilan pulang..


__ADS_3

Sudah satu bulan ini Kellen dan juga Eve di sibukkan dengan aktivitas barunya di rumah sakit. Eve tak lagi mendapat getaran aneh yang berasal dari dadanya ketika bertemu dengan anggota keluarga Nalendra. Baik Nara maupun Tama, sesekali membantu Eve dalam mempromosikan family care.


Kebersamaannya dengan Tama dan Nara, membuat Eve merasa berada di dekat orang yang dia rindukan. Pun dengan Tama dan Nara, seakan mereka lupa dengan Pelita ketika berada si dekat Eve. Lalu Pijar, perasaan senang bisa bertemu dengan Atlit tampan yang ternyata memiliki tanggal lahir yang sama pun membuat Eve kian betah berada di Indonesia.


Sementara Kellen dan Ben sudah menjalankan rencana selanjutnya. Mereka dan para anak buahnya mulai mencari informasi tentang pemilik IMC dan orang-orang terdekatnya.


"Sejak kapan dia sering datang ke rumah sakit?" tanya Kellen. Mereka bertemu dengan Pijar di halaman rumah sakit yang mendapat perintah dari Nara untuk memberikan titipannya pada Eve.


"Dia hanya di suruh sama nyonya Nara untuk mengantar makannan, jadi dia sering kesini"


"Sejak kapan?"


Eve sempat berfikir dengan bibir terkatup. "Sudah semingguan ini"


Mendengar jawaban Eve, Kellen berdecih dalam hati.


Keluargamu benar-benar mengusik ketenanganku. Kurang ajar sekali kau Tama, mengirim putramu untuk mendekati Eve. Kalau saja bukan karena family care, aku tidak pernah sudi berhubungan dengan keluargamu.


"Tuan?" Eve mengernyit.


Sementara Kellen melirik ke kotak makannan bersusun lalu merebutnya.


"Sini makannannya"


"Kita tidak sendiri hidup di semesta ini tuan, jadi jangan egois, sini kotak makan siangnya"


Alih-alih menyerahkan, Kellen justru menjauhkannya dari jangkauan tangan Eve yang terulur.


"Kau akan makan siang denganku, jadi ini tidak perlukan" Kellen melirik petugas pengantar makannan.


"Mbak" Panggil Kellen sambil melambaikan tangan. "Kemari!"


"Saya, pak?"


"Ya, kau, siapa lagi memangnya yang ada di sana?"


Petugas pengantar makanpun mendekat.


"Iya pak, ada yang ingin saya bantu?"


"Ini untukmu"


"No, no" sambar Eve cepat.


"Evelyn Stevani?" pekik Kellen dengan mata memicing.


Mendengar nama panjang Eve, dada Shola sontak berdetak. Nama yang tidak asing baginya. Dengan hati penuh menerka-nerka, Petugas pengantar makanan menerima sodoran tangan Kellen.


"A-apa ini pak"


"Makan siang, kau bisa memakannya, setelah itu cuci bersih kotak itu lalu berikan pada nona Amara"


"B-baik tuan"


"Kau, ikut aku" Kellen menarik paksa tangan Eve.


"Ada apa denganmu, kenapa memberikan kotak makan itu padanya?"


"Kau akan makan siang denganku nanti nona Eve, jadi tidak membutuhkan itu"

__ADS_1


"Tapi itu pemberian orang, seharusnya hargai mereka yang sudah memberi, bukan malah memberikan pemberian orang ke orang lain"


Kellen menghentikan langkahnya, dan otomatis Eve turut berhenti. Pria itu menghembuskan napas kasar dengan mata menyorot tak suka.


"Siapa kau?" tanya Kellen.


Melihat raut wajah Kellen yang memerah, sepertinya Eve harus menahan diri untuk tak mengucapkan kalimat yang membuatnya kian emosi.


"Kau itu bawahanku, kurangi protesmu, kurangi komplenmu, dan perbanyak menurut pada atasanmu"


Mentang-mentang atasan, kenapa memangnya? kalau bukan karena hutang-hutangku, sudah sejak lama ku tinggal pergi. Dasar bos laknat, otak jahanam, mulut berbisa.


"Ngomong apa kau?"


"Hah?" Eve tergagap.


Apa dia mendengar kata hatiku?


"T-tidak tuan"


Kellen menatap penuh lekat, mengikuti gerakan manik hitam Eve yang terus bergerak gelisah.


Mendapat tatapan itu dari sang bos, perasaan was-was mendadak bersarang di benak Eve, apalagi ketika manik hitamnya menyorot sangat tajam. Ingin sekali dia memutus kontak mata mereka, namun tatapannya itu seolah mengunci dan menahannya untuk tetap beradu pandang.


Hingga suara dering ponsel membuat keduanya melirik ke saku celana Kellen.


"Halo mom?"


"El, bisakah Eve kembali ke Macau hari ini juga?"


Kening Kellen mengerut. Sementara atensinya langsung terarah ke wajah Eve.


"Genma, sudah satu minggu ini sakit, dia terus menanyakan aunty Tania, dia bahkan menuduh mommy jahat karena sudah mengusir auntymu dari rumah, tidak hanya itu sayang, genma juga menjambak rambut mommy, dan aunty Delita"


"Kenapa bisa mom?"


"Iya, Genma menganggap mommy dan aunty Delita adalah menantu yang jahat, mengusir adik iparnya sendiri"


Alis Eve menukik tajam, ia bertanya-tanya mengenai perubahan wajah Kellen.


"Bisakan nak, Eve pulang hari ini juga? demi genma nak"


"Bisa mom"


Usai melakukan panggilan dengan mommynya, Kellen langsung menelfon Ben untuk mencari tiket ke Macau hari ini juga.


"Ben, cari satu tiket ke Macau untuk hari ini"


Tanpa banyak bertanya, di sana Ben langsung mencari penerbangan ke Macau. Begitu mendapatkan tiketnya, Ia kembali menghubungi Kellen melalui pesan singkat.


"Apa kau mau ke Macau tuan El?" tanya Eve saat Kellen membuka pesan dari Ben.


"Bukan aku, tapi kau?"


"A-aku?"


"Iya kenapa?" tanya Kellen memicingkan mata.


Harusnya aku yang tanya kenapa, bodoh.

__ADS_1


"Saya akan ke Macau, tuan?"


"Hem"


"Sendirian?"


"Iya"


"Tapi kenapa tuan?"


"Genma sakit, dia membutuhkanmu"


"Apa dia mencari nona Tania" tebaknya yang tepat sasaran.


"Iya, dia baru saja pulang dari rumah sakit, dia ingin bertemu dengan Tania, dan mommy menyurumu kembali ke Macau"


"Apa aku akan kembali ke sini?"


"Tentu saja, kau harus mengurusku bukan?"


"Harusnya kau mencari istri untuk mengurusmu, bukan asisten"


"Kau yang kan menjadi istriku" ucap Kellen tanpa sadar.


"Aku tidak sudi menikah denganmu, kalau boleh memilih, aku lebih memilih menikah dengan Pijar. Pria yang lembut, murah senyum, sabar, dan suka menolong, bukan pria sepertimu. Pria pemarah, minim kesabaran, kalau ngomong kayak mau ngajak berantem"


"Eve!!!"


"Iya tuan?"


"Kau bilang apa?"


"Aku hanya mengeluarkan unek-unek di dalam hatiku"


"Sekali lagi kau memuji atlit itu, ku nikahi kau sekalian" Kata Kellen mencebik."Jangan banyak bicara, setelah genma membaik, kau bisa kembali kesini, minta pak Adan untuk mengantarmu menemui mamahmu selagi di sana"


Huffftt...mau menolak tapi tak kuasa. Mau tidak mau, aku harus meninggalkan Indonesia, negara yang sudah membuatku merasa nyaman. Rasa nyaman yang tak pernah ku dapatkan selama aku berada di negaraku.


"Melamun lagi" pria itu mendengkus kasar. "Dari Macau ke Indonesia kau sedih. dari Indonesia mau pulang ke Macau, sedih juga. Kau mau ku kirim ke London?"


"T-tidak tuan"


"Kita pulang, kau harus berkemas karena penerbangan pukul satu siang ini"


"Saya sendirian tuan?"


"Iya, nanti ku antar sampai kau menaiki pesawat"


"Kau tidak ikut bersamaku?" tanya Eve.


"Tidak"


Eve menghela napas panjang merasa keberatan dengan perintah bosnya.


Harusnya aku senang bisa kembali ke tempat asalku, aku bisa bertemu dengan mamah? Olivia dan ayik Mareta, tapi kenapa aku merasa berat harus keluar dari sini?


Bersambung...


Besok Kellen nikahi Eve...😂 hari ini rundingan dulu sama Pandu Nayla dan Alvin.

__ADS_1


__ADS_2