Personal Assistant

Personal Assistant
Menginterogasi dan tatapan intimidasi


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju bandara, Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut Kellen, pun dengan pria yang fokus dengan kemudinya. Ia sama sekali tak berani mengganggu sang bos yang kemungkinan tengah di rundung kekecewaan.


Sangat tampak dari raut wajahnya yang kelam sekelam malam.


Sembari terus menyetir, sesekali pandangan Ben menatap spion luar, lalu beralih melirik spion tengah melihat kondisi bosnya yang duduk di bangku belakang.


Hingga tak terasa tahu-tahu mobil sudah berada di area bandara. Kellen langsung melepas seatbelt begitu mobilnya berhenti.


"Ben kau urus semuanya, aku akan segera kembali"


"Baik tuan"


"Pastikan tidak ada yang tahu tentang rahasia ini selain kita bertiga"


"Siap tuan"


"Okey aku pergi"


"Hati-hati, tuan"


"Kau juga"


Usai mengatakan itu, Kellen membuka pintu mobil, lalu bergegas turun untuk segera cek in.


Tepat pukul 23:15, pesawat bertolak dari bandara International Soeta yang akan sampai di Changi airport sekitar pukul satu dini hari. Pada pukul dua akan take of menuju Macau dan akan sampai di pagi harinya.


Perjalanan dari Indonesia ke Singapura, Kellen sama sekali tak memejamkan mata barang sejenak. Pikirannya terus tertuju pada Eve yang kemungkinan besar adalah Pelita, putri dari pria yang sangat ia benci, atau saudara kembar dari atlit bulu tangkis ternama.


Namun begitu memasuki pesawat yang akan membawanya menuju negara asal, Dia tertidur hingga tahu-tahu telinganya menangkap suara pramugara, memberitahukan bahwa pesawat yang ia tumpangi sudah mendarat dengan selamat di bandara internasional Macau.


Ia menghela napas panjang dengan fokus sepenuhnya menatap jalanan yang sedang ia lalui.


Kepulangannya ke Macau, bahkan tak di ketahui oleh keluarganya dan juga Eve.


Saat ini, pria itu sudah berada di dalam taxi yang akan membawanya menuju rumah Pelita.


Pertama ia akan memastikan kebenaran tentang status Eve sebagai anak kandung Pelita atau bukan. Setibanya taxi di area tempat tinggal asistennya, Kellen langsung turun, dan sebelumnya ia mengatakan pada supir taxi untuk menunggunya sejenak.


"Selamat pagi bu" ucap Kellen setelah beberapa kali mengetuk pintu.


"S-selamat pagi T-tuan El?" Pelita menatap bingung wajah Kellen ketika pintu itu sudah terbuka.


"Boleh saya masuk?"


"B-boleh, masuklah tuan!"


Kellen memasuki rumah Pelita yang jauh dari kata mewah. Pandangannya sempat mengedar ketika langkahnya sudah berada di ruang tamu.


"Silakan duduk tuan" ucap Pelita ramah. Beruntung hari ini dia mendapat jatah sift siang untuk menjaga apartemen tempatnya bekerja.


Kellen duduk.


Sementara Pelita pun turut duduk. Wanita itu melihat wajah kuyu dan lesu dari atasan sang anak.


"T-tuan El, tuan tidak apa-apa?"


"Tidak"


Kening Pelita mengernyit. Ia merasa heran atas kedatangan Kellen yang mendadak dan tanpa pemberitahuan.


Terlebih lagi di pagi-pagi seperti ini dengan kondisi wajah yang menyorot lelah.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya lagi setelah sempat hening beberapa saat.


"Apa Eve bukan anak kandung anda?" tanya Kellen tanpa basa basi.


Tertegun Pelita mendengar pertanyaan Kellen. Entah ada urusan apa Kellen menanyakan hal itu. Dalam hati, Pelita bertanya-tanya dari mana El tahu tentang Eve yang bukan anak kandungnya.


"D-dia_"


"Dia?" kata Kellen ketika Pelita menggantung kalimatnya cukup lama.


"Kenapa tuan menanyakan itu?"


"Aku" kata Kellen ragu.


Hening sesaat.

__ADS_1


"Aku akan membantu Eve menemukan orang tua kandungnya"


Kemudian hening kembali.


"Apakah Eve bukan anak kandung ibu?" tanya Kellen lagi ketika pertanyaanya belum mendapat respon.


Pelan, Pelita mengangguk dengan pandangan lurus tertuju ke arah meja.


"Apa bu Pelita tahu siapa orang tua kandung Eve, dan di mana mereka berada?"


Kali ini Pelita menggeleng.


Kellen menghela napas frustasi. Satu persatu ia akan sinkronkan ucapan Shola dengan ucapan Pelita.


Lalu, dimana anda bertemu Eve?"


Sempat ragu, namun akhirnya Pelita menceritakan semuanya berharap sang putri akan segera menemukan orang tua kandungnya dengan bantuan atasannya.


"Saya menemukan Pelita di depan gereja yang tak jauh dari bandara" Pelita mengerjap, menjeda ucapannya untuk mengambil napas.


"Saya menemukannya ketika dia berumur tiga bulan" imbuhnya lalu menelan saliva.


"Darimana anda tahu jika Eve berusia tiga bulan saat itu?"


"Saat saya menemukannya, ada secarik kertas bertuliskan nama dan tanggal lahirnya di box bayi. Dari situ saya tahu kalau Eve baru berusia tiga bulan"


Jantung Kellen di dalam sana seolah bertalu-talu dengan sangat luar biasa.


Ucapannya dan ucapan Shola sangat sinkron, sulit untuk di percaya jika Eve memang benar bayi yang hilang di rumah sakitnya.


"Kebetulan, saya masih menyimpan box bayi, baju, sepatu, dan apapun yang melekat di tubuh Eve. Serta kertas bertuliskan nama Eve lengkap dengan tanggal lahirnya"


"Bisa saya lihat?"


"B-bisa tuan" sahut Pelita kilat.


"Sebentar saya akan ambilkan"


Kellen mengangguk meresponnya.


Selang sekitar lima menit, Pelita kembali dengan membawa serta barang yang ingin ia perlihatkan.


Perlahan, Kellen membukanya. Satu persatu ia menatap lekat-lekat barang milik Eve ketika masih bayi.


Aku yakin nyonya Nara pasti tidak tahu baju ini milik siapa.


Sepatu, dan yang lainnya, pasti Mishella yang membelinya.


Ia kembali meletakkan baju bayi lalu meraih kertas dengan tulisan tangan tertulis nama serta tanggal lahir.


Benar tanggalnya sama dengan tanggal lahir Pijar.


Sebenarnya Kellen ingin sekali menanyakan tentang tanda lahir di punggung Eve, tapi setelah di pikir-pikir, ia mengurungkan niatnya karena takut Pelita akan curiga dan bertanya-tanya dari mana Kellen tahu tentang tanda lahir itu. Wanita itu pasti akan menyangka jika Kellen tahu siapa orang tua kandung Eve. Kellen tak ingin Pelita mengetahui semua tentang Eve itu sebabnya dia berusaha menyembunyikan fakta yang ia dapat dari Shola.


"Tuan?"


"I-ya?" Kellen tersentak kaget mendengar suara Pelita.


"Benar, tuan akan membantu Eve mencari orang tua kandungnya?"


"Benar bu"


"Tapi dari mana tuan tahu kalau Eve bukan anak kandung saya?"


"Saya tahu dari pihak rumah sakit" Dustanya terpaksa. "Saat itu saya menanyakan pada salah satu dokter yang membantu menangani proses trasnplantasi ginjal anda. Dari situ saya tahu jika DNA Eve tidak cocok dengan anda, itu sebabnya Eve tidak bisa mendonorkan ginjalnya untuk anda"


"Oh" Balas Pelita singkat. Ia percaya begitu saja dengan ucapan Kellen.


"Bu, saya ingin menikahi Eve"


Ucapan Kellen membuat Pelita tercenung. Ia menatap bola mata Kellen bermaksud untuk mencari kesungguhan dari sorot matanya.


"M-menikahi Eve?"


Kellen mengangguk serius.


"Saya tidak bisa memutuskan tuan, untuk urusan pasangan, saya menyerahkan sepenuhnya pada Eve"

__ADS_1


"Saya tahu, dan saya minta agar ibu merestui kami"


"Saya akan merestui jika itu baik untuk Eve"


"Terimakasih, kalau begitu saya permisi"


"Iya, silakan"


"Selamat pagi" ucap Kellen lalu bangkit dari duduknya.


Kellen akan menikahi Eve?


Apa aku tidak salah dengar tadi?


Eve, kau beruntung di nikahi oleh atasanmu.


Ini luar biasa nak bisa di cintai oleh pria seperti Kellen.


Bahkan mamah pun tak pernah bermimpi kau akan di pinang oleh pria muda dengan bisnis berkancah internasional.


Pelita kembali menutup pintu setelah Kellen benar-benar pergi dari rumahnya.


Kali ini tujuan Kellen adalan apartemen miliknya, yang kemungkinan besar Eve sedang berada di sana.


Iya, Selama dengan Eve, Risa merasa sangat bahagia, itu sebabnya dimensianya jarang kambuh. Di siang harinya Eve di minta menemani Risa, tapi di malam hari, dia akan pulang ke rumah Pelita. Namun semalam saat hendak menuju bandara, Kellen sudah berpesan pada Eve untuk tidur di apartemennya.


Pria itu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan saat sampai di unit apartemen di lantai lima belas. Ia menekan bel dan tidak berapa lama pintu terbuka.


Sepasang matanya langsung bertemu pandang begitu Eve membuka pintu. Gadis itu terperangah dengan kemunculan Kellen.


Cukup lama mereka saling bersitatap.


Ingin rasanya Kellen langsung menghambur ke dalam pelukannya, namun bayangan Tama justru menari-nari di sekeliling kepalanya, membuatnya reflek mengepalkan kedua tangan.


Begitu juga dengan Eve yang ingin sekali memeluk pria bertubuh proporsional itu.


Siapa aku?


Aku hanya babu berkedok asisten pribadi.


Eve segera menepis keinginannya itu.


"T-tuan El, bagaimana bisa tuan di sini? bukankah tuan ada di Indonesia?"


Alih-alih menjawab, Kellen justru menerobos pintu dengan sedikit menabrak bagian pundak Eve.


Membuat Eve berdecih geram.


Setelah hampir tiga hari tidak beradu kesabaran, bersiaplah Eve, ulur sabarmu panjang-panjang.


Si camar pasti mulai membuat darahmu mendidih.


Eve menghembuskan napas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan.


Huftt, harus sabar dengan pria labil sepertinya.


Dia menutup.


Tepat ketika berbalik, sudah ada Kellen di hadapannya dengan tatapan mengintimidasi.


Persekian detik, Eve menelan salivanya dengan setengah mati. Jaraknya nyaris ta terkikis, bahkan bagian dadanya yang membusung nyaris menempel di dada pria itu.


Ada apa dengannya? wajahnya tampak begitu menakutkan.


Eve membatin ketika mendongak untuk mempertemukan netranya.


"Ikut aku" ucap Kellen datar dan dingin lalu berbalik sambil mencengkram kencang pergelangan tangan Eve.


Cengkraman itu sampai-sampai menimbulkan bekas merah melingkar di pergelangan tangannya.


Sementara Eve tak tahu apa yang akan Kellen lakukan. Yang jelas perasaan was-was seketika singgah dalam dirinya. Diam-diam, ia menelan saliva seraya menatap punggung Kellen yang berjalan satu langkah di depannya sambil menggandeng tangannya.


Perasaannya kian gelisah ketika pria itu membawanya melangkah ke arah kamar.


Melihat bagaimana ekpsresi wajahnya yang di kuasai api amarah, apakah dia akan membunuhku?


Sekali lagi, Eve menghembuskan napas berat. Seberat isi kepalanya yang di penuhi tanda tanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2