Personal Assistant

Personal Assistant
Pagi penuh cinta


__ADS_3

"Ini benar-benar kamu, El?"


"Tentu saja"


Mereka masih belum menyadari ada banyak pasang mata yang memperhatikannya termasuk orang tua dan kakaknya.


"Aku asisten pribadimu, akan selalu ikut denganmu kemanapun kamu pergi"


El mengurai pelukannya.


"Kenapa?"


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri, aku akan menemani perjalanan bisnismu, jadi jika kamu celaka, maka aku juga akan celaka"


Mata Kellen memanas menahan sesuatu. Ia tak percaya wanitanya bisa mengatakan hal itu.


"Tapi aku tidak akan membiarkanmu celaka" Kata Kellen sambil menunduk. Sementara Eve sedikit mendongak agar bisa menatap kilat mata suaminya. "Cukup sekali dalam hidup aku melakukan kebodohan itu, aku tidak akan mengulanginya lagi, Ve. Aku janji, kamu bisa pegang erat kata-kataku"


"Aku percaya, dan jika kamu mengulanginya? ingat selalu, bahwa aku akan tetap mencintaimu"


Andai saja bukan di tempat umum, mungkin El sudah memakan bibir ranum Eve yang tampak menggoda.


Sekian detik berlalu, karena Nara sudah tidak tahan hanya menatap kedua putra-putrinya, pelan ia melangkahkan kaki untuk mengiris jarak. Ia langsung memeluk menantu serta putrinya.


Otomatis tangan Kellen bergerak lalu melingkar di punggung Nara.


"Mommy nggak mimpi kan El?" Suara Nara teredam.


"Enggak mom, aku nggak menaiki pesawat itu sebab ada meeting mendadak"


"Syukurlah"


Tama, Daffa, Amara dan Pijar menghampiri tiga orang yang masih dalam posisi berpelukan.


Tak mau Kalah, Tama turut melingkarkan kedua tangan di punggung Nara dan Eve. telapak tangannya mengusap punggung istri serta putrinya.


"Kita pulang yuk" ucap Tama sendu.


"Kita istirahat, besok El harus jelaskan kenapa bisa batal menaiki pesawat itu"


Nara mengangguk merespon kalimat sang suami.


"Ayo sayang, kita pulang" sambung Nara seraya melepas pelukannya.


***


Di dalam sebuah kamar, sepasang suami istri baru saja melepas dahaganya setelah sekian lama tak melakukannya. Baik Eve dan juga Kellen, sama-sama berjanji untuk tidak meninggalkannya dan akan selalu menjadi pasangan yang saling membutuhkan.


"Bahkan, kalau aku boleh berkata,Ve" Kellen menatap Eve penuh intens. Ia menelisik wajah wanitanya yang kian hari makin cantik.


"Berkata apa?" tanya Eve ketika Kellen menjeda kalimatnya cukup lama. Eve yang berada di atas tubuh suaminya hanya bisa menatap manik hitamnya yang menyorot lekat.


"Bahkan maut pun tidak bisa memisahkan cinta kita. Aku berjanji padamu, akan selalu mencintai dan memperlakukanmu bak ratu"


"Nggak gombal kan, El?"


Tangan Kellen menyisikan helaian rambut yang sedikit menutupi mata Eve.


"Di depanmu, semua yang ku katakan memang dari hatiku yang paling dalam. Itulah kenyataannya. Cukup sekali dalam seumur hidup aku menyakitimu, Next time nggak kan lagi. Aku jamin itu"


"Aku percaya, El"


"Satu lagi" Kata Kellen sambil bergerak membalikkan posisinya. "Bukan hanya raga dan jiwaku yang kamu miliki, bahkan hidupku aku serahkan padamu. Kamu berhak mengendalikanku semaumu"


"Seperti sutradara yang memegang penuh sebuah film, atau seperti author yang menuliskan sebuah novel?"


"Tidak hanya itu, bahkan seperti layang-layang, dan kamu yang menerbangkanku" potong Kellen cepat.


"Itu berlebihan, El, dan aku tidak suka sesuatu yang berlebihan"


"Tidak untuk wanita yang ku cintai" Sorot lekat Kellen sepenuhnya ke wajah Eve. "Tidak untukmu, seseorang yang paling berharga dalam hidupku"


Mungkin kalimat Kellen itu berlebihan yang cukup membuat Eve mengudara. Tapi dari binar matanya yang menyiratkan kesungguhan, Eve harus menghargai ucapan suaminya.


Wanita itu lantas mengalungkan lengannya di leher sang suami.


"Kalau begitu, aku berani mati untukmu El"


"Kalau itu baru berlebihan, Ve"


"Tidak untuk pria yang ada di hatiku, tidak untukmu, suami yang paling luar biasa dalam hidupku"


"Kamu memang pintar mematahkan kalimatku"


Eve tersenyum sebelum berucap.


"Ingat" Satu tangan Eve bergerak mengusap pipi Kellen sementara tangan lainnya masih menggantung di leher pria yang masih di atas tubuhnya. "Aku adalah asisten pribadimu, semua pekerjaanmu tentu aku yang melakukannya, kamu hanya mengecek, menyetujui, lalu menandatanganinya. Jika ada point yang salah, kamu hanya menandai kemudian menyuruhku memperbaikinya, so jelas aku lebih pintar darimu"


"Iya, iya, aku akan mengalah untukmu" Pria itu mengecup pipi, kening, bibir, kemudian turun ke leher, membuat Eve tergelak.

__ADS_1


Saat Kellen menggigit lehernya dengan bibir menekan ke dalam, Eve kian menggeliat menahan sesuatu yang membuat akal sehatnya berserakan di mana-mana.


"Cukup-cukup"


Tak memperdulikan erangan sang istri, Kellen terus menciumi ceruk leher istrinya. Bahkan bibirnya kini sudah turun ke bawah dan menyesap butiran kecil berwarna pink di atas dadanya.


Tak ada penolakan dari Eve membuat Kellen semakin liar menjamah tubuhnya.


Mereka pun kembali meneguk manisnya madu untuk kedua kalinya, pagi ini.


"I love you, Evelyn"


"I love you too" Balas Eve nyaris tanpa suara, mereka sibuk menormalkan nafasnya yang tak beraturan.


Hembusan nafas keduanya, bahkan saling bertubrukan karena jarak wajah yang tak terkikis.


Tiba-tiba, suara ketukan pintu menginterupsi aktivitas mereka yang tengah bersitatap penuh cinta.


Selang tiga detik, terdengar suara Nara dari balik pintu kamar mereka.


"Eve, El? apa kalian belum bangun?"


"Mommy sayang" ucap Kellen agak panik.


"Kalau begitu tunggu apa lagi"


"Tunggu apa memangnya?"


"Menyingkir dari atas tubuhku, dan jangan lupa, pakai baju sebelum buka pintu"


"Oh iya"


"El, bangun nak, Eve harus sarapan, kasihan bayinya" Teriak Nara dari balik pintu.


"Eve sudah sarapan mom" jawab Kellen tapi dengan suara lirih, membuat Eve menggelengkan kepala sambil tersenyum geli.


"Dua kali malah" lirihnya lagi sambil mengenakan kaos tipisnya.


Mereka sama-sama mengenakan pakaian dengan gugup.


"Ev, El?"


"Iya mom" Pria itu membuka pintu kamarnya.


"Kalian baru bangun?" Nara mencermati rambut Kellen yang masih berantakan lalu turun hingga batas lutut.


"Iya mom"


"Belum mom" Dustanya.


"Bangunin dia, suruh sarapan ini sudah jam sembilan"


"Mommy nggak ke kantor memangnya?"


"Ke kantor, mommy nunggu kalian bangun, tapi nggak bangun-bangun"


"Mommy bisa pergi tanpa menunggu kami"


"Gimana mommy bisa pergi kalau kalian belum sarapan" Kata Nara "Cepat cuci muka, bangunkan istrimu terus turun, makan!"


"Iya mom"


"Oh iya tadi mommy kamu telfon ke ponsel mommy, katanya telfon kamu nggak di angkat"


"Nggak dengar mom"


"Tadi pas telfon, daddy dan mommymu lagi antri boardingpass, sekarang pasti sudah sedang dalam perjalanan menuju kemari, dia memintamu untuk menjemputnya di bandara. Nanti kamu jemput, tapi di temanin supir daddy, kalau mau, ajak Eve juga"


"Iya mom"


"Ya udah, jangan lupa sarapan, mommy ke. kantor dulu"


"Ok, hati-hati mom"


"Iya"


Bersambung.


yang belum mampir, silakan mampir


Cuplikan Bab


Entah sudah berapa kali Dinda melirik jam yang tergantung di dinding. Merasa hari ini waktu berjalan begitu lambat ,dia ingin jam kerjanya segera berakhir dan bisa pulang untuk mengistirahatkan badan yang sudah terlampau letih. Tapi sebelum pulang, dia harus menemui Adam terlebih dahulu.


Selagi menunggu jam kerja yang hanya tersisa tak kurang dari satu jam, Adinda menyibukkan diri dengan memeriksa rekam medis para pasiennya.


Hingga jam kerja berakhir, wanita itu segera bersiap dan mengemasi barang-barangnya.


Baru saja bangkit dari duduknya, terdengar notif chat masuk ke ponselnya.

__ADS_1


Mas Adam : "Sudah pulang?"   (16:02) Wib.


Dinda menatap layar ponsel selama beberapa saat. Ada keraguan saat akan membalas pesannya.


Mas Adam : "Aku di depan, di tempat parkir"  (16:03) Wib.


Mata Dinda mengerjap tak percaya membaca pesan kedua dari Adam. Setelah memastikan dengan membaca kembali pesan darinya, Dinda akhirnya memasukkan ponsel ke dalam tas kemudian beranjak dari ruangannya dan melangkah menuju tempat parkir di mana Adam telah menunggu.


Adam berdiri bersandar di samping pintu penumpang bagian depan. Ketika melihat Dinda tengah berjalan menghampirinya, pria itu langsung mematikan rokok yang sempat di isapnya.


Langkah Dinda kian dekat, sementara sorot mata Adam terus terarah padanya.


"Sepertinya, tidak ada yang perlu kita bicarakan, mas" kata Dinda saat sudah berdiri di hadapannya.


"Assalamu'alaikum" Alih-alih menjawab pertanyannya, Adam justru membalas dengan ucapan salam sambil membuang puntung rokok lalu menginjaknya.


"Wa'alaikumsalam" Sahut Dinda tak berani menatap Adam. Pandangannya jatuh pada kancing kemeja bagian dada.


"Kita bicara di taman"


"Kita duduk di sana!" balas Dinda cepat dan langsung melangkahkan kaki menuju area taman. Jantungnya berdebar selagi melangkah, perasaannya juga mulai gelisah. Sempat ragu sejenak, akhirnya Dinda duduk di bangku yang beberapa saat lalu ia tunjuk.


"Apa aku sudah setuju duduk di sini?" tanya Adam yang sudah berdiri di depan Dinda.


"Memangnya kenapa?" wanita itu mendongak menatap Adam. "Aku ingin duduk di sini, apa itu masalah?" 


"Pindah kesana!" Adam menunjuk dua bangku kecil dengan dagunya. "Aku lebih suka duduk berhadapan dengan lawan bicara"


Mendengar ucapannya, Dinda menelan ludah dengan susah payah. Wanita itu tak sempat menolak sebab Adam sudah lebih dulu jalan menuju bangku pilihannya. Mau tak mau Dinda pun mengekor dan duduk menghadap Adam yang sudah terlihat nyaman di posisinya.


"Apa yang mau di bicarakan?" Tanya Dinda sembari menguatkan mental.


"Bukannya kamu sudah tahu apa yang akan kita bicarakan?"


"Bukannya sudah ku bilang, itu tidak perlu?"


Kemudian hening. Mereka sama-sama diam dengan kondisi batin yang mungkin berlawanan. Dinda yang di selimuti was-was karena sudah menjebak Adam, sementara Adam yang tampak santai dan berniat menikahinya.


Beberapa menit Berlalu, Dinda yang duduk dengan gelisah di buat makin resah karena fokus Adam tak teralihkan menatap dirinya.


"Sepertinya kamu ini adalah wanita yang keras kepala dan susah di ajak diskusi" Kata Adam akhirnya.


Dinda merasa kalau saat ini tengah di hakimi melalui sorot mata Adam.


"Katakan apa yang ingin mas diskusikan denganku"


Tak langsung menjawab, Adam tampak menilai atau mungkin menyusun kata-kata yang pas untuk mengawali diskusi mereka.


"Aku akan membawamu ke hadapan orang tuaku dan memperkenalkanmu sebagai calon istriku"


"Sepertinya itu nggak perlu mas"


"Sudah ku bilang kan, kalau keputusanku sudah bulat"


"Kalau keputusan mas menikahiku untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah kita lakukan, lebih baik urungkan niat mas" Jantung Dinda rasanya berdetak lebih cepat saat mengatakan itu. "Aku punya trik agar hubungan kita tidak menghasilkan anak, jadi mas tidak perlu bertanggung jawab"


Adam terdiam sambil lekat menatap wanita di depannya.


"Lagi pula, ini bukan hanya kesalahan mas, ini kesalahanku juga, jadi aku yang akan menanggung resikonya sendiri"


Adam masih bertahan menatap Dinda tanpa suara, dan jujur saja kondisi ini membuat Dinda mulai geregetan sebab pria yang tadi mengajak diskusi justru hanya diam ambigu.


"Pembicaraan kita selesai, Permi_"


"Duduk" potong Adam cepat ketika melihat Dinda bangkit. "Kita belum selesai bicara"


Menarik napas panjang, Dinda pun mengalah dan akhirnya kembali duduk.


Ada jeda sekitar lima detik sebelum kemudian Adam bersuara. "Kenapa kamu bilang seperti itu?"


"Karena aku nggak mau menikah dengan pria yang masih mencintai kekasihnya. Jadi lebih baik, kita lupakan semuanya anggap saja kita tidak pernah saling kenal, akan ku pastikan kalau aku tidak hamil"


"Aku tahu kamu seorang dokter, mudah bagimu membuat hubungan itu tidak menyebabkan hamil. Tapi hamil nggak hamil, aku akan tetap menikahimu"


"Berapa kali harus ku bilang, jangan karena kita sudah melakukan itu, lantas membuat mas terpaksa menikahiku dengan dalih bertanggung jawab. Aku tahu persis seberapa besar cinta mas ke Prilya"


Adam sempat terlihat kaget setelah mendengar ucapan Dinda, tetapi dalam hitungan detik, wajahnya kembali normal.


"Kamu bilang begitu seolah-olah kamu sangat tahu perasaanku seperti apa"


"Memang faktanya seperti itu" lirih Dinda, sangat lirih seraya menunduk. Namun masih bisa di tangkap oleh telinga Adam. Secara reflek, pria berusia dua puluh delapan tahun itu langsung mengangkat satu alisnya.


"Maksudku, maaf karena aku sudah merusak rencana mas untuk melamar Prilly"


"Aku sarankan kamu jangan terlalu banyak protes"


"Protes?" pungkas Dinda cepat sambil kembali mengangkat kepala. "Ini bukan protes, aku cuma nggak mau menikah kalau pada akhirnya bercerai dengan alasan hubungan rumah tangga yang datar karena pernikahan yang di dasari atas pertanggungjawaban saja"


"Jadi secara tersirat, kamu menilaiku sebagai pria yang suka mempermainkan hubungan, hubungan yang sakral, begitu?"

__ADS_1


"B-bukan begitu mas?"


"Lantas apa?"


__ADS_2