Personal Assistant

Personal Assistant
Flashback


__ADS_3

Seharian ini seolah waktu berjalan begitu lambat. Kellen yang tidak sabar ingin segera menginterogasi bawahannya, hampir di setiap detik ekor matanya melirik ke arah jam yang menggantung di dinding.


Dia juga sudah menyuruh anak buahnya menyekap kediaman Sholla secara diam-diam. Sementara Ben, dia akan membawa Shola ke rumah Kellen untuk di mintai penjelasan atas semua yang Kellen dengar tadi pagi.


Dan malam ini, tepat pukul 19:00, sesosok pria duduk dengan perasaan gelisah. Dia sedang menunggu sang sekertaris yang di perintahkan untuk membawa Shola ke rumahnya.


Kellen, matanya menyorot tajam, wajahnya tampak serius dengan gurat sedikit was-was, duduk di kursi singgasananya dengan siku tangan kiri bertumpu di sandaran tangan, kelima jarinya terlipat menopang dagu. Sementara tangan kanannya mendarat di atas meja, dan jarinya mengetuk-ngetuk meja seakan tak sabar menanti kedatangan wanita itu.


Sejujurnya, Kellen sangat takut jika Evelyn adalah bayi yang dia cari, bayi yang ingin dia bunuh secara perlahan.


Di satu sisi, dia yang sudah mencintai sang asisten tak ingin kehilangannya, tapi di sisi lain, ada segudang rasa benci pada keluarga Tama yang sudah berlaku tidak adil pada Tania, justru ingin membuat wanita yang ia cintai tiada.


Sang tante yang sudah meninggal, atau wanita yang dia cintai. Mengesampingkan dendam dan merajut cinta dengan wanitanya, atau mengutamakan dendamnya dan membunuh Eve??


Pria itu menggelengkan kepala.


Jangan, Eve tidak boleh menjadi bayi yang kucari, Eve bukan bayi itu. Mereka orang yang berbeda.


Seketika ingatan Kellen jatuh pada Pelita.


Astaga, kebetulan apa lagi ini? Eve bukan anak kandungnya. Apa itu artinya Tama Nara adalah orang tua kandung Eve?


Dadanya semakin bergemuruh dengan sangat hebat, tubuhnya juga bergetar yang menyebabkan lemas seketika.


Benar-benar tidak ingin jika Eve adalah targetnya selama ini.


Jangan biarkan fakta itu benar Tuhan, Aku mencintainya, aku tidak ingin melenyapkannya.


Eve berpihaklah padaku kali ini saja, please!


Larut dalam buaian lamunan yang terasa begitu mencengangkan, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


Kellen yang mendengar ketukan itu jantungnya kian berdetak liar. Apalagi saat sepasang penglihatannya menangkap sosok Sholla dan Ben yang berjalan perlahan memasuki ruang kerja, sontak perasaan resah dan gelisah yang membelitnya seakan naik level.


Dengan susah payah pria itu meneguk ludahnya sendiri. Wajahnya memerah berharap apa yang di katakannya nanti akan membuatnya lega.


"Silakan duduk" Perintah Ben setelah menarik kursi untuk wanita itu


Dengan perasaan gugup campur penasaran, Sholla mendudukkan dirinya. Sebagian dari filingnya mengatakan jika pria yang menyorot dengan tajam akan menanyakan sesuatu tentang bayi yang dia curi. Tapi sebagian filingnya yang lain menangkisnya sebab tak mungkin Kellen mengetahui rahasianya yang ia pendam selama bertahun-tahun.


Jika tahu, dari mana pria itu mengetahuinya?


Kurang lebih seperti itulah spekulasi yang di buat Sholla. Ia berusaha berfikir positif jika sang atasan hanyalah ingin mengatakan hal lain, sesuatu hal yang tidak ada hubungannya dengan bayi bernama Evelyn Stevanie.


Sholla semakin takut saat melirik pria yang duduk bersebrangan melempar tatapan penuh intimidasi. Namun, gestur santai yang tampak dalam dirinya membuat Shola sedikit bisa tenang.


Tapi sayangnya tidak, sikap santai dari pria itu justru menyimpan sesuatu yang tidak bisa orang lain jabarkan.


"Jelaskan padaku apa yang kau ucapkan tadi pagi?" Kata Kellen akhirnya.

__ADS_1


Mendengar ucapannya, leher Shola seakan tercekat. Untuk mengambil napas saja ia tak mampu. Mendadak rasa takut itu merongrong hingga membelitnya sangat kuat.


"U-ucapan apa, t-tuan?"


Sudut bibir Kellen terangkat, ia menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi, kedua sikunya bertumpu pada sandaran tangan dan jemarinya saling bertaut di depan dada.


"Saat kau membuat minuman di pagi hari untuk para dewan direksi"


Kali ini Kellen menggerak-gerakkan salah satu jarinya yang menyatu. Matanya masih mengintimidasi menunggu jawaban dari Sholla.


Sedangkan Shola, jantungnya berdetak sangat kencang begitu mendengar kalimatnya.


"I-itu_"


"Jelaskan sedetail mungkin tentang bayi bernama Evelyn Stevanie sebelum kau ku pendam hidup-hidup" Sentaknya yang langsung membuat Sholla beringsut lalu menunduk.


Setelah itu hening. Sebisa mungkin Kellen menahan diri agar tak meledak saat itu juga, Sebuah amarah yang akan membuat Sholla justru terluka, karena dia seperti hilang kendali dan ingin sekali mencekik wanita di depannya.


"Kau tidak bisa lari dariku Sholla, Ben sudah mengunci pintunya, dan mau tidak mau kau harus menjelaskannya padaku" ucapnya tajam, setajam sorot matanya yang berkilat merah.


"Ku beri waktu lima detik untuk diammu, tapi jika dalam lima detik kau tak kunjung bersuara, kau akan melihat keluargamu menderita"


Kellen mengurai tautan tangannya, lalu menggeser laptop untuk di arahkan pada Sholla. Sebuah panggilan visual dengan para anak buahnya yang sedang berjaga di rumahnya.


"Jelaskan, atau kau _"


"S-saya akan jelaskan tuan" katanya memenggal kalimat Kellen. "T-tapi tolong jangan beritahu dia bahwa saya yang sudah mengatakannya"


"S-Shella tuan" sahut Shola, jarinya saling bertaut di atas pangkuan menahan rasa takut.


"Siapa Shella?" Kellen melirik Ben sekilas lalu kembali menatap Shola.


"CEO IMC hospital yang kini berubah nama menjadi Suryadaya hospital tuan"


"Maksudmu Mishella?"


"Iya tuan"


"Jelaskan semuanya, mulai dari awal tanpa ada yang terlewat sedikitpun"


Satu detik, dua detik, Shola mulai bersuara.


"Saat itu, ada seorang wanita cantik mendatangi saya tuan"


...🌷Flashback On.🌷...


"Kau petugas pengantar makannan di family care?" tanya Shella.


"Iya nona"

__ADS_1


"Kau mau uang?"


"Maksud nona?"


"Cari informasi apa saja tentang rumah sakit yang sudah membuat IMC semakin kolap, beritahu dimana semua letak CCTV berada"


Pada saat itu, Shella sudah tahu jika Tama dan Nara akan melaksanakan peroses kelahiran anak kembarnya di familly care.


"Maaf nona, saya tidak bisa" Tolak Sholla ramah.


"Aku akan membayarmu berapapun yang kau mau"


"Tapi nyonya_"


"Ayolah, bahkan saya akan memberimu satu unit apartemen jika kau menerima kerjasama ini"


Berfikir beberapa saat, hingga akhirnya Sholla mengalah dengan uang.


"Apa yang harus saya lakukan nona?" Tanyanya.


"Katakan padaku dimana saja tata letak cctv, saya akan memadamkan semua cctv di rumah sakit itu"


"Hanya itu?"


"Tidak" Sahut Shella cepat. "Kau tahu Gautama Nalendra dan Naraya Stevani?"


"Tahu nona"


"Dia akan melahirkan di rumah sakit itu, bukan?"


"Iya nona"


"Saat dia sudah melahirkan, culik bayi mereka, lalu serahkan bayi itu padaku, aku tunggu di area dekat rumah sakit"


"Tapi nona, Nara akan melahirkan anak kembar, jika harus menculik kedua bayi itu, itu artinya harus ada orang lain yang membantuku membopong bayi itu"


"Kembar?"


"Iya nona, menurut kabar yang saya dengar, bayi kembar itu laki-laki dan perempuan"


"Ambil salah satu dari mereka, terserah kau ambil yang laki-laki atau perempuan. Kau tenang saja, perbuatanmu tidak akan di ketahui orang karena saat penculikan terjadi, cctv sudah saya off kan, dan kau akan aman, kau hanya perlu menutup mulutmu dan jangan pernah mengatakan apapun pada siapapun. Kita akan melakukannya pada dini hari"


"Baik nona, saya siap"


"Bagus..."


Hingga hari itu tiba. Sholla mulai melancarkan rencanya.


Dia membawa bayi perempuan yang menurutnya tak serewel bayi laki-laki. Shola tahu sebab sebelum melakukan penculikan itu, dia terus mengawasi kedua bayi itu baik ketika bayi itu berada dalam box, maupun saat para suster merawatnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2