
Selagi Alvin membawa Eve masuk, Kellen terduduk lesu. Ia memikirkan hukuman yang akan di berikan oleh sang mommy jika dirinya tahu bahwa putranya melakukan hal yang paling di benci.
Nayla yang terus mewanti-wanti Kellen untuk jangan memiliki sifat dendam yang justru akan merugikan orang lain dan dirinya sendiripun seakan hanya di anggap bualan semata. Apalagi sang daddy yang pernah mengatakan hukuman itu harus di terima oleh siapa saja yang memiliki kesalahan, jelas membuat nyalinya seketika menciut.
Penyesalanpun seakan tiada artinya.
"Ya ampun non, kenapa bisa begini?" tanya Nuri saat berpapasan di ruang tengah.
"Tolong ambilkan segelas air dan makanan Nur, aku akan bawa Eve naik"
"Baik tuan"
Dengan langkah gugup, Nuri menuju Dapur.
Sementara Alvin menaiki anak tangga dan membawa Eve masuk ke kamar Kellen.
"Ayo duduk dulu, nak" perintah Alvin agar Eve duduk di tepi ranjang.
Kondisinya benar-benar memprihatinkan. Wajah kuyu dan pucat, menandakan kalau dia seperti ketakutan. Tubuhnya pun lemas serta gemetar seakan sudah berhari-hari tidak makan dan minum.
Begitu Eve duduk, Alvin menarik selimut untuk menutupi bagian kaki yang dingin agar sedikit hangat.
Pria itu lalu menarik kursi dan menempatkannya di samping ranjang untuk dia duduki.
"Jangan takut Ve, ada uncle disini, ada genma juga"
Mendengar ucapan Alvin, Eve langsung mempertemukan netranya, seakan menyorot lekat mencari kesungguhan atas ucapan pamannya. Saat pandangan mereka bertemu reflek butiran bening jatuh dari pelupuk mata.
"Uncle akan melindungimu, don't be afraid, okay!"
Menelan ludah, sebelum kemudian mengangguk.
"Jangan menangis, nanti kalau genma tahu, pasti genma sedih"
"Nona, mari makan dulu" kata Nuri dari balik punggung Alvin.
Alvin bangkit, lalu mempersilakan Nuri duduk.
"Duduk di sini Nur, dan tolong suapi Eve"
"Iya, tuan" sahutnya kemudian duduk. "Makan dulu non"
Satu demi satu, suapan masuk ke dalam mulut Eve, hingga di suapan terakhir barulah Nuri menempelkan gelas berisi air bening di mulutnya.
"Ibu sudah tidur Nur?"
"Sudah tuan"
Reflek mata Alvin melirik jam yang sudah hampir pukul sepuluh malam.
"Duduk dulu sebentar ya non, saya kembalikan piring ini ke dapur, nanti saya balik lagi siapin air hangat buat mandi"
Baru saja akan bangkit, Eve menahan lengan Nuri. Otomatis sepasang netra Nuri memindai tangan Eve di lengannya.
__ADS_1
"Butuh sesuatu non?"
Eve bergeming dengan buliran yang terus mengalir deras. Nafasnya tersengal menahan isak. Detik berikutnya dia memeluk sang ART erat-erat seolah tengah menumpahkan segala, ketakutan, kecemasan, dan gundah gulana lainnya.
Alvin yang masih berdiri di dekatnya langsung membuang muka ke arah lain seolah tak tega melihat pemandangan di depannya yang begitu miris.
"Tenang non" hibur Nuri seraya mengusap balik punggungnya.
Tak ada satu kata yang mampu Eve keluarkan. Hanya isakan yang terdengar begitu memilukan.
Selain Alvin yang di penuhi banyak pertanyaan, Nuri pun merasa sangat ingin tahu apa yang terjadi dengan nona mudanya.
Aku saja menangis melihat kondisi Eve, lalu bagaimana dengan kak Nay?
Bagaimana bisa Kellen bersikap sekejam itu pada istrinya, padahal dia selalu memperlakukan adik-adiknya , Zea, Ester, dan Astara dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang?
Dia yang tidak pernah menyakiti hati kak Nay, kenapa bisa setega itu menyakiti Eve?
Ada apa dengan anak itu?
Apa keselahan Eve padanya?
Apakah Kellen merasa jika Eve sudah merusak masa depannya karena kami menjodohkannya?
Karena Eve harus menjadi istinya, wanita yang tidak ia cintai?
Sikapmu benar-benar keterlaluan nak?
Alvin membatin dengan mata yang tiba-tiba menghangat dan mengabur.
Pria itu menarik napas panjang saat berdiri di depan jendela. Sepasang netranya menatap jauh ke arah gemerlapnya cahaya lampu di malam hari, sementara tangannya masuk ke dalam saku celana.
Ia masih belum percaya jika Kellen sudah mengurung Eve di dalam gudang dengan kondisi tanpa lampu menyala. Entah sejak kapan dia mengurung Eve pun tak luput dari pemikiran Alvin.
Saking larutnya dengan lamunan yang menyedihkan, Alvin sampai tak sadar jika Nuri sudah turun dan kembali naik ke kamar Eve.
Puas merenungi kelakuan keponakannya, pria itu menyugar rambutnya pelan, lalu melangkah menuruni anak tangga menuju ruang kerja.
Di dalam ruang kerja, sudah ada Kellen dengan kondisi tubuh yang menyorot lelah, namun sama sekali tak membuat Alvin iba.
Alvin menempatkan diri duduk di kursi kerja, sementara Kellen duduk di depan meja kerjanya.
Tak ada sepatah katapun, tak ada pergerakan apapun. Yang Alvin lakukan hanya diam dengan kondisi mata berkilat merah menatap penuh dalam wajah keponakan yang sudah seperti anaknya sendiri. Punggungnya bersandar pada sandaran kursi sementara kedua tangannya menyatu di bawah dagu.
Tatapan yang lewat bemenit-menit. Hingga akhirnya ia bersuara.
"Kau manusia atau bukan El?" tanya Alvin sarkastis.
Hening.
Kellen masih menutup mulutnya rapat-rapat.
"Sudah berapa hari kau mengurung istrimu di dalam gudang tanpa penyinaran apapun?"
__ADS_1
Nada Alvin masih rendah, karena emosi masih bisa ia kuasai.
"Kenapa kau tega melakukan itu padanya? kau punya masalah dengannya? atau apa dia sudah menyakitimu?"
Kellen yang tadinya menunduk seketika mendongak.
Tanpa mereka sadari, ada Eve berdiri di depan pintu ruang kerja yang tak tertutup rapat.
"Dia musuhku uncle?"
Alvin mengangkat satu alisnya sesaat setelah Kellen bersuara.
"Apa dia sudah mengalahkan bisnismu?"
"Tidak" jawab Kellen kilat.
"Lalu apa?" bentak Alvin dengan intonasi tinggi.
"Dia adalah bayi yang hilang di rumah sakit aunty Tania, dia adalah anak dari Gautama Nalendra yang sudah membuat kami kehilangan aunty kami satu-satunya"
Tak hanya Alvin, Eve yang sudah mahir dalam berbahasa Indonesia pun sangat terkejut dengan percakapan Kellen dan pamannya yang menggunakan bahasa Indonesia.
"Uncle ingat, siapa yang menjebloskan aunty ke dalam penjara?" teriaknya lantang dengan mata membola. "Pria itu adalah Gautama Nalendra, uncle, daddynya Eve"
Alvin benar-benar tercenung dengan ucapan Kellen, seperti luka yang sudah kering, tiba-tiba kembali menganga. Apalagi Tania adalah adik perempuan yang seayah dengannya. Sesuatu yang tak terduga jika bayi yang hilang dan sempat menggemparkan media online dan cetak itu adalah Evelyn, orang yang justru sangat dekat dengan mereka.
Menghela napas panjang, Alvin mengeluarkannya agak sedikit berat.
"Apa kau bermaksud balas dendam El?" tanya Alvin yang memang tapat sasaran.
"Iya, gara-gara daddynya, aunty Tania di penjara hingga depresi dan akhirnya meninggal, padahal uncle tahu aunty tidak bersalah, tapi aunty yang harus menanggung hukumannya. Itu sebabnya aku balas den_"
"Kellen" pekik Alvin. "Turunkan nada bicaramu!"
Seketika pria itu menelan ludahnya mendengar interupsi dari pamannya.
"Bukan Eve target kita untuk membalas kematian Tania" kata sang paman dengan nada merendah. "Tapi orang yang sudah menculik bayi itulah target kita sesungguhnya. Eve, hanyalah korban atas kejahatan dari seseorang yang belum kita ketahui hingga detik ini, dia harus berpisah dengan orang tuanya bahkan sesaat setelah di lahirkan. Dan Tania sebagai pemilik rumah sakit yang harus mempertanggungjawabkan perbuatan si penculik itu. Karena mereka pikir, kita tidak memprioritaskan keamanan di rumah sakit milik aunty."
"Sudah cukup dan jangan kau tambah lagi penderitaan istrimu kalau tidak ingin kau bermusuhan dengan daddy and your uncle" Tambah sang paman yang tersisip sebuah ancaman.
"Jangan sampai menyesal karena perbuatanmu, kemungkinan akan membuat Eve meninggalkanmu. Beri tahu keluarganya dan kembalikan Eve pada orang tuanya, setelah itu, kita akan cari siapa dalang di balik penculikan Eve, kita hukum pelaku yang sebenarnya"
"Dan jangan lupa" lanjut Alvin lembut "Meminta maaflah pada Eve serta
keluarganya"
El tertegun mendengar kalimat sang paman yang panjang kali lebar, ia berusaha keras mencerna setiap kata yang tersusun itu.
Sejujurnya ada luka di hati Alvin mengingat bagaimana perjalanan hidup sang adik yang begitu ia manjakan. Tidak hanya dirinya, bahkan Pandu yang seibu dengan Taniapun sangat memanjakannya. Tapi seakan takdir tak bisa di hindari, mereka harus kehilangan adik perempuan satu-satunya yang mereka miliki.
Sementara di sana, Eve langsung berlari ke kamar dengan deraian air mata yang mengalir deras.
Sekarang, dia tahu dari mana jati dirinya berasal dan alasan kenapa Kellen begitu kejam padanya.
__ADS_1
Sebuah dendam yang mendorongnya melakukan itu.
Bersambung.