
Amara mendadak panik ketika Eve hanya bergeming, tak lama setelah itu keduanya tersungkur ke lantai.
Berusaha menahan kepala Eve agar tetap berada di tangannya, dengan cepat wanita beranak satu itu memangkunya.
"Mas" teriaknya memanggil sang suami. Panik dan cemas terlukis di wajahnya.
"Innalillahi bu, kenapa ini teh embaknya?"
"Cici, tolong panggil bapak"
"Iya bu, iya" Cici bergegas naik menuju kamar Amara.
"Ada apa Ci?"
"Itu pak, teman bu Ara teh pingsan, bapak di suruh turun buat bantu ibu"
"Pingsan?"
"Iya pak"
Tanpa pikir panjang dan tanpa banyak tanya, pria itu melangkah menuruni tangga.
"Ada apa ini dek?"
"Tolong bawa nona Eve ke kamar tamu mas"
"Iya sayang" Daffa mengambil alih kepala Eve lalu mengangkat tubuhnya dan membawanya ke kamar.
Amara berjalan mendahului untuk membukakan pintu dan menata bantal.
Pelan, Daffa membaringkan tubuh Eve di atas kasur.
"Mas tolong ambilkan tas kerjaku di kamar, sekalian ambil infus di lemari P3K"
"Iya sayang"
"Jangan lupa selangnya"
"Okay"
Selagi Daffa berlari mengambil apa yang di minta istrinya, Amara berusaha membangunkan Eve lalu memeriksa denyut nadi di pergelangan tangannya. Tak lama kemudian datang Cici dengan membawa segelas air bening.
"Ini airnya bu"
Taruh di nakas Ci"
Selang sekitar tiga menit, usai Amara mengoleskan minyak kayu putih, Eve tersadar, matanya perlahan terbuka, kemudian pandangannya mengitari ruangan yang tampak asing baginya.
"Nona Eve, gimana? sudah agak baikan?"
"Sudah, nona"
"Minum dulu!"
Eve bergerak bangkit untuk menyandarkan punggungnya, lalu meneguk air dalam gelas sedikit demi sedikit.
"Dek ini infusnya"
"Oh iya, makasih mas"
Melihat kondisi Eve yang tampak lemah, Amara berniat memberikan cairan infus padanya. Apalagi saat memeriksa denyut nadinya yang kemungkinan besar Eve tengah berbadan dua. Jelas membuat tubuhnya sangat lemah. Apalagi sebelumnya dia di kurung selama hampir dua belas jam.
Sebelum memasang infus, ia menempelkan alat pendengaran stetoskop di kedua telinganya lalu mulai menempelkan diafragma di permukaan dada Eve.
Wanita itu memeriksa denyut nadi di tangannya untuk memastikan sekali lagi.
"Nona, apa kamu sedang hamil?"
"H-hamil?"
__ADS_1
"Denyut nadi wanita normal yang tidak hamil biasanya sekitar 60-80 denyut per menitnya. Berbeda denganmu yang justru meningkat sekitar 10-20 denyut per menit"
"J-jadi aku hamil?"
"Belum pasti juga si" sahut Amara sambil memasang infus. "Ini baru prediksiku."
Eve termangu seperti tak percaya.
"Kamu belum tahu kalau kamu hamil, nona Eve?"
Eve menggeleng.
"Ya udah, besok pagi kamu coba cek urin. Sekarang istirahat ya, sudah mau tengah malam"
"Makasih" Eve menjeda sejenak. "Kak" lanjutnya sangat lirih, sayangnya Amara tak mendengarnya, dia tersenyum kemudian menimpali. "Sama-sama, nanti akan aku suruh Cici buat temani kamu di sini"
"Iya"
"Aku tinggal dulu ya"
Amara keluar setelah di iyakan, lalu menyuruh ARTnya tidur di sofa kamar tamu untuk menemani Eve.
Sebenarnya ada banyak tanya dalam diri Amara, namun ia tak mau buru-buru menanyakannya sebab waktu sudah malam, di samping itu kondisi Eve juga masih sangat lemah.
***
Paginya, Eve sudah lebih baik, ketika netranya melirik jam, waktu sudah menunjuk di angka pukul tujuh. Tiba-tiba pintu terbuka menampilkan Amara dengan membawa nampan berisi sarapan dan gadis kecilnya.
"Aunty" seru Tita riang. "Good morning"
"Good morning baby"
"How are you, aunty?"
"Aunty baik sayang"
"Aunty bisa ngomong kayak Tita?"
"Aunty hebat bisa ngomong kayak Tita"
"Sudah dulu ngomong sama aunty ya nak, aunty mau istirahat dulu, Tita juga sudah di tunggu papi sekolah kan"
"Ya udah, Tita sekolah dulu ya aunty, aunty jangan takut, ada mami Ara yang jagain autny sampai sembuh"
"Iya sayang"
"Dada aunty, dada mami, asalamualaikum"
"Waalaikumsalam" sahut Amara menatap kepergian putrinya.
"Di cek urin dulu ya, nona Eve"
Amara benar-benar harus merawat Eve sebaik mungkin, karena ini adalah permintaan Kellen. Pria itu ternyata mengirim pesan pada Amara sesaat setelah Banu kembali. Setelah Eve sudah agak tenang, barulah dia datang untuk membujuk Eve agar mau pulang bersamanya.
Amara sama sekali belum tahu permasalahan antara Eve dengan Kellen.
"Ayo nona, aku bantu ke kamar mandi"
Beberapa menit berlalu, Eve sudah membawa hasil testpacknya yang menandakan garis dua.
Amara tersenyum lalu memberikan selamat. Ia sedikit heran kenapa Eve tidak merasa bahagia. Padahal, dulu saat ia mendapat kabar kehamilanny, ia begitu senang begitu bahagia sampai-sampai tak mampu menahan genangan air di kelopak matanya.
"Nona Eve, kamu nggak apa-apa kan?"
Amara membawanya duduk kembali.
"Tidak apa-apa, nona"
"Makan dulu ya" Amara hendak meraih piring yang ia letakan di atas nakas, namun dengan cepat Eve mencegahnya.
__ADS_1
"Bisa tolong aku untuk tes DNA?"
Amara mengernyit dengan alis terangkat.
Paham dengan kebingungan Amara, Eve kembali bersuara.
"DNAku dan bu Naraya"
Kerutan di dahi Amara kian nampak setelah mendengar kalimat kedua dari mulut Eve.
"Maksudmu"
"Kellen bilang, aku adalah bayinya bu Nara yang hilang di rumah sakitnya dulu"
"A-apa?"
"Tapi tolong nona, jangan beri tahu dulu pada pak Tama dan bu Nara" Tambah Eve membuat Amara menelan ludah sekaligus tak percaya.
"Pelita?" gumam Ara dengan mata yang mengembun.
"Pelita? kakak kenal dengan Pelita?"
Amara mengangguk. "Benar, kamu Pelita?" tanya Amara memastikan.
"Mamahku Pelita kak, apa kakak kenal dengan mamah yang membesarkanku?"
"Tidak"
"Tidak" ulang Eve.
Baik Eve dan Amara sama-sama tak paham dengan arah pembicaraan mereka.
"Kami menamai adik kembar kami dengan Pijar dan Pelita"
"Kembar?"
Amara mengangguk.
Eve memang tak tahu jika dirinya adalah kembaran Pijar.
"Jadi Pijar kembaran bayi yang hilang?" tanya Eve.
"Kamu tahu dari mana kalau kamu adalah Pelita, adikku, putrinya daddy dan mommy?"
"Aku mendengar pembicaraan Kellen dan uncle Alvin, nona, itu sebabnya aku langsung kemari menemuimu"
"Okay sekarang begini, aku ambil bercak darah kamu untuk aku cocokkan dengan mommy dan daddy. Nanti hasilnya bisa keluar setelah tiga hingga lima hari"
Mereka saling diam dengan pandangan lekat saling menatap.
Semoga benar kamu adalah Pelita. Amara.
Aku harap hasilnya cocok, dan aku adalah anak mereka.
Reflek keduanya saling berpelukan.
"Tolong jangan beritahu bu Nara dulu sampai hasilnya keluar nona Amara, aku takut mereka kecewa"
"Aku tahu nona Eve, sama sepertimu, aku juga nggak mau membuat mommy kecewa jika hasilnya tidak cocok"
Eve mengerjap dengan senyum terkembang.
"Kalau benar kamu adikku, itu artinya kamu adalah kakaknya Pijar? karena daddy bilang kamu lahir lebih cepat sepuluh menit dari Pijar"
"Kalau iya, jadi selama ini aku mengidolakan adikku?"
"Kau mengidolakan dia?" tanya Amara. "Asal kamu tahu, dia itu menyebalkan"
"Dia jago bulu tangkis nona"
__ADS_1
"Tapi di rumah dia sangat usil, sangat menyebalkan. Kamu belum tahu saja aslinya dia seperti apa"
MMMMMMMM