Personal Assistant

Personal Assistant
Naluri orang tua


__ADS_3

Mentari kembali bersinar, Aktivitas rutin kembali di jalankan, Tama dan Nara sudah siap dengan pakaian kantor untuk bekerja. tapi sebelumnya, ia akan ke rumah sakit terlebih dulu untuk menjenguk Eve.


Merasa kejadian itu terjadi di area kantornya, Tama serta Nara beritikad baik dan menyempatkan diri membesuknya. Selain itu, Nara juga ingin menatap wajah itu sekali lagi. Wajah yang membuatnya


tidak bisa tidur hingga larut malam, sebab wajah cantik Eve terus terngiang dalam ingatannya.


Sesampainya di rumah sakit, mereka saling bergandengan tangan sambil terus melangkahkan kaki menyusuri lika-liku koridor rumah sakit menuju bangsal sesuai arahan dari petugas resepsionis.


"Mama, papa"


Langkahnya terhenti ketika berpapasan dengan Mita. Dokter muda itu langsung menyalami keduanya.


"Nak, papa sama mama mau jenguk Eve, kamarnya yang mana?" Ucap Tama.


"Itu pah ada di kamar Marwah, barusan Mita abis cek kondisinya"


"Kamar marwah sebelah mana sayang?"


"Sebelah kamar Safa pah, di sana"


Nara dan Tama kompak mengarahkan pandangan kemana tangan Mita menunjuk.


"Okey nak, makasih ya"


"Sama-sama pah"


Masih berdiri mematung di tempatnya, mita terus memusatkan perhatian pada Tama dan Nara sampai keduanya memasuki ruangan VIP bertuliskan Marwah.


"Tuan, nyonya" ucap Kellen berusaha ramah dan sopan.


"Selamat pagi tuan El, nona Eve" balas Tama.


"Selamat pagi, tuan Gautama"


Pelan, langkah kaki Tama dan Nara kian dekat menuju ranjang.


Seolah sudah terbiasa, Eve sedikit bisa mengendalikan irama jantungnya meski perlahan-lahan.


Tatapan sendu dan tulus dari keduanya, membuat Eve tanpa sadar meneteskan air mata. Namun dengan cepat dia menghapusnya.


Sementara Nara, melihat Eve menangis, naluri keibuannya seolah muncul. Ingin sekali mengusap pipinya yang basah. Namun apalah daya, siapa dia, dan siapa Eve.


Cantik sekali?


Bisik Nara dalam hati.


Apa kami membuatmu teringat dengan orang tuamu yang sedang kamu tinggal?

__ADS_1


Apa kamu merindukan orang tuamu di Macau sehingga kamu menangis?


Seperti yang pernah Nara rasakan saat menempuh pendidikan di luar negri. Dia juga pernah berada di posisi Eve, hanya menangislah yang bisa ia lakukan ketika jauh dari orang tua dalam kondisi sakit.


Sedangkan Tama, kisah rindunya terhadap sang putri seakan tuntas saat itu juga begitu menatap wajah Eve dengan penuh lekat.


"How are you?" Tanya Tama sendu.


"Im Fine, Mr"


Bibir Tama terulas lebar membalas senyuman Eve. Entah apa yang sudah mendorongnya, rasa ingin memeluk gadis asing seakan meronta-ronta di dalam benaknya. Konyol memang, pria paruh baya ingin memeluk seorang gadis asing yang muda dan cantik.


Apa jadinya jika sang istri mengetahui keinginan itu, sudah bisa di pastikan ia akan mendapat kartu merah sekaligus darinya.


Tak ingin tenggelam lebih dalam dengan keinginannya, Tama mengalihkan pandangan pada Kellen.


"Tuan El, maaf jika penyambutan dan situasi kantor kami sangat tidak berkenan"


"Tidak tuan. Ini bukan soal itu, hanya saja asisten saya terlalu lelah karena ini pertama kalinya dia melakukan perjalanan bisnis sampai ke luar negri"


"Tetap saja kami harus meminta maaf" Tama melirik Eve yang kini tengah tersenyum.


"Apa hari ini nona Eve sudah di ijinkan pulang, tuan?" Sela Nara ingin tahu.


"Sudah nyonya, kami sedang menunggu suster datang untuk melepas infus"


"Kami belum bisa menentukan sampai kapan kami di sini, tapi sesegera mungkin kami akan meninggalkan Indonesia"


Sesegera mungkin? Nara membatin.


Setelah mendengar kalimat pria tampan di depannya. Nara seperti tak terima jika Eve meninggalkan Indonesia.


"Sesegera mungkin itu kapan? maaf kalau boleh tahu"


Kening Tama mengerut, terheran dengan pertanyaan istrinya.


"Mungkin dua atau tiga hari lagi"


"Begitu ya"


"Iya nyonya"


"Lalu, anda bilang jika anda kerabat dekat dari Tania, Apa kabarnya dia sekarang?"


"Dia sudah meninggal ketika masih di penjara, nyonya" Saat mengatakan itu, ada gejolak amarah yang tertahan di dada Kellen.


Tecenung, Tama dan Nara mendengar ucapannya, mereka baru tahu jika Tania meninggal saat menjalani hukuman.

__ADS_1


"M-meninggal?"


Kellen merespon dengan bahasa tubuh. Mengangguk.


"Kedatangan kami ke sini, karena ingin membuka kembali Family care, tapi berhubung tuan dan nyonya selaku pemegang perijinan itu menolak, jadi kami memilih untuk secepatnya kembali ke Macau"


"Tinggal di sini?" Ulang Nara. "Itu artinya jika family care beroperasi, Anda dan nona Eve akan tinggal di sini?"


"Benar nyonya"


Kemudian Hening. Eve hanya diam menyimak pembicaraan mereka.


Kalau aku mengijinkan family beroperasi, itu artinya nona Eve akan tinggal di sini.


Fokus Nara sepenuhnya mengarah ke wajah Eve.


Pasti aku akan sering bertemu dengannya karena kami terikat kerja sama.


Apa lebih baik ku berikan ijin untuk tuan Kellen? lagi pula aku sudah mengikhlaskan Pelita. Ku pasrahkan dia pada penjagaan-Nya. Allah Ta'alla. Kalau aku tidak memberikan ijin, itu artinya aku masih menyimpan ketidak ilhlasan. Benar kan?


"Na, kita pulang sekarang?" Kalimat Tama membuyarkan lamunan Nara.


"I-iya mas"


"Tuan El, kami permisi" pamit Tama.


"Iya tuan, terimakasih atas kunjungannya"


Kini ganti ia menatap Eve.


"Nona, get well soon"


"Thankyou Mr and Mrs Gautama" jawab Eve sembari mengulas senyum.


"Mari tuan El"


"Silakan tuan" balas Kellen.


Eve terus menatap kepergian Tama dan Nara.


Kenapa terasa berat melihat kepergian mereka?


Kenapa aku merasa ingin mereka tetap ada di sini?


Apa aku merindukan mama?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2