Personal Assistant

Personal Assistant
Permintaan Rena


__ADS_3

Tak ada drama dalam penangkapan Shella, dan malah terbilang sangat singkat. Selain Shella tak memiliki tenaga kerena sudah tidak lagi muda, sepertinya orang kepercayaannya juga telah berpindah haluan pada Rena yang sudah kembali menguasai harta warisan peninggalan orang tuanya. Beberapa hari yang lalu, Rena dan Shella memang melakukan kesepakatan, Shella berani menandatangani pengalihan kepemilikan aset, sebab dirinya merasa terancam. Ia lebih memilih tinggal di rumahnya sebagai ART dari pada harus mendekam di penjara. Namun siapa sangka, pilihannya justru tak serta merta membuat Rena membiarkan Shella bebas begitu saja.


Bisa di bilang, Rena sudah mengkhianati Shella agar tetap tutup mulut tentang penculikan itu. Tapi tidak, dia justru langsung menyerahkan bukti rekamannya pada polisi dari pada harus membalas rasa sakit hatinya dengan menyiksa orang.


Untuk masalah memaafkan, itu memang sudah menjadi wewenangnya, tapi untuk hukuman, bagi Rena biarlah karma yang bekerja. Dan keputusannya ada di tangan polisi.


Aku harap, hukumannya akan lama dan membuatnya sadar, kalau perbuatannya selama ini sudah membuat orang lain menderita.


"Oh iya, nona Rena" ucap Ben memecah keheningan sekaligus memutus lamunan Rena. "Ini tuan Kellen Austin. Tuan, ini nona Rena, yang sudah membantu kita menangkap Shella"


Rena mengulurkan tangan, dan Kellen langsung menerimanya.


"Kellen"


"Rena"


Mereka saling memperkenalkan diri. "Terimakasih sudah membantu kami" kata Kellen, meskipun dalam hati pria itu sedikit bingung.


"Sama-sama, tuan El"


"Saya akan memberikan tanda terimakasih pada anda, anda bisa mengatakan padaku apa yang harus saya berikan"


"Anda yakin, tuan?"


"Ya, selama permintaan itu wajar untuk ku penuhi, akan saya usahakan"


"Kalau begitu, apa kita bisa bicara di luar?" tanya Rena agak ragu.


Kellen melirik Ben sebelum memberikan jawaban.


"Bisa" balasnya "Ben, kau ikut denganku"


"Maaf tuan, sepertinya saya tidak bisa ikut, saya harus ke kantor polisi untuk mengurus semuanya"


Kellen mengangguk paham. "Aku serahkan semuanya padamu Ben"


"Iya tuan. Saya permisi" Ben memindai wajah Rena. "Permisi nona Rena"


"Iya, silakan pak Ben"


Setelah kepergian Ben, Rena kembali mengalihkan perhatiannya pada Kellen kemudian bersuara, "Bagaimana kalau kita bicara di mountain cafe, tuan El?"


"Okay, saya akan ke sana sekarang juga"


***


Kellen langsung menempatkan dirinya duduk di sebuah meja bernomor empat setelah sampai di cafe. Selagi menunggu kedatangannya, dia memesan dua minuman untuk dirinya dan Rena.


Di ujung ruangan ada sosok Eve yang tengah menikmati jus Alpokat. Kellen tak menyadari jika ada istrinya yang juga berada di dalam sana. Berbeda dengan Eve yang lebih dulu tahu semenjak pria itu memasuki area cafe.


Kenapa harus melihat bos sialan itu disini?


Tangan Eve mengaduk jusnya menggunakan sedotan.

__ADS_1


Mau ngapain dia kesini?


Ada meeting?


Atau bertemu klien?


Selang sekitar lima menit, ada sosok wanita yang menghampiri suaminya. Wanita dengan dandanan yang super highclass, tanpa sadar memantik api cemburu di hati Eve yang tiba-tiba berkobar.


What?


Apa ini?


Di saat dia memohon maafku, diam-diam dia menemui wanita lain?


Eve menggeleng-gelengkan kepalanya.


Kellen Austin, kamu memang tidak bisa di percaya.


Dasar camar, suami sialan, kurang ajar, awas kamu, El!!


Sepasang mata Eve menangkap dua orang itu saling melempar senyum, kemudian tampak Kellen mempersilakan duduk padanya.


Siapa wanita itu? Apa dokter di family care? aku belum pernah melihatnya.


Ketika Rena tersipu malu dengan pujian Kellen yang mengatakan jika dia sosok wanita baik yang sudah membantu membuktikan kejahatan Shella, rasa cemburu itu justru kian lebih di hati Eve, dan itu membuat Eve semakin membencinya.


Keterlaluan kamu El, satu lagi yang membuatku semakin mantap untuk pisah denganmu.


Tak ingin melihat keakraban mereka, Eve memilih pergi dari sana. Ia berusaha agar sang suami tidak melihatnya.


"Apa yang harus saya berikan untuk membalas kebaikanmu nona?" tanya Kellen to the point. Sejujurnya, dia tidak ingin berlama-lama duduk berdua dengan Rena. Dia ingin segera pulang dan memberitahukan kabar bahagia tentang penangkapan Shella kepada Eve dan juga mertuanya.


"Saya tidak ingin apapun darimu tuan, saya hanya meminta anda untuk membantu saya mencari mamah kandung saya"


"Mamah Kandungmu?"


"Iya, semenjak papah saya bercerai dengan mamah, mamah pergi entah kemana, lalu papah saya menikah dengan Shella. Sejak saat itu juga saya tidak pernah bertemu dengan mamah"


"Apa anda memiliki fotonya?"


Rena mengangguk, sedetik kemudian ia meraih selembar foto pernikahan orang tuanya dari dalam tas.


"Ini foto papah dan mamah saya"


Kellen meraih foto itu, lalu mencermatinya dengan saksama.


Wajahnya seperti tidak asing?


"Kalau boleh saya tahu, ini foto pada saat pernikahan orang tua anda bukan?" Tanya Kellen dengan tatapan penuh pada Rena.


"Iya tuan, itu sudah hampir tiga puluh tahun yang lalu"


"Itu artinya sudah sangat lama. Apa tidak ada foto yang terbaru, nona Rena?"

__ADS_1


"Hanya itu peninggalan dari papah satu-satunya, tuan" sahutnya sembari menggeleng.


"Terakhir anda mendengar, mamah anda pergi kemana?"


"Saya tidak tahu, setelah perceraian papah dan mamah, saya tidak pernah bertemu mamah karena pada saat itu saya masih berusia empat tahun, dan saya ikut bersama papah"


Kellen menghembuskan nafas berat. Merasa tidak mungkin bisa membantu menemukan mamahnya.


Mana mungkin bisa menemukannya. Batinnya sembari terus menatap foto itu dalam-dalam.


"Apa ada petunjuk lain, nona?"


Lagi-lagi Rena menggelengkan kepala "Saya sudah pernah mencoba mencarinya tuan, tapi hasilnya nihil"


Mendensah pelan, Kellen kembali berbisik dalam hati.


Bagaimana bisa aku menemukannya hanya dengan bermodalkan sebuah foto?


Foto lama?


Menarik napas panjang, Kellen kembali bersuara. "Baiklah nona, saya akan coba membantu anda, tapi saya tidak bisa menjanjikan akan menemukan mamah anda, secepatnya"


"Saya maklum tuan"


"Akan saya kerahkan anak buah saya untuk mencari mamah anda, setidaknya itu yang bisa saya usahakan untuk membalas kebaikan anda"


"Terimakasih tuan El"


"Sama-sama, dan kalau boleh tahu, siapa nama mamah anda, agar lebih mudah dalam pencariannya"


"Nama mamah saya Pelita, Pelita Maheswari"


"Pelita?" Mata Kellen membola sebelum kemudian mengerjap. Ia kembali menatap poto itu dalam-dalam.


Pelita? Apakah mamah angkatnya Eve?


Menelan ludah, Kellen benar-benar tak percaya.


Apa ini wajah mudanya bu Pelita?


Foto ini memang agak mirip dengannya.


Tapi kenapa bisa kebetulan seperti ini?


Astaga, sesempit inikah dunia?


Aku harus memastikannya, aku harus ke Macau untuk menanyakan hal ini pada bu Pelita.


"Nona Rena, saya akan bantu anda sebisa mungkin"


"Terimakasih sekali lagi, tuan"


"Saya permisi nona"

__ADS_1


"Iya silakan!" sahut Rena seraya menunduk.


Bersambung


__ADS_2