
Sholla serta Isna sudah berada di genggaman Ben, informasipun sudah berhasil Ben kumpulkan. Sekarang tinggal membuat laporan pada pihak kepolisian agar secepatnya penculik yang sebenarnya bisa di adili.
Sementara malam ini Pandu dan Nayla sedang berada di rumah Tama. Tujuan utama kedatangannya adalah untuk meminta maaf atas peristiwa di masa lampau, dan juga meminta maaf atas perlakuan kasar putranya pada Eve.
Sebelumnya, El juga datang memohon agar Eve mau memaafkannya, dan bersedia kembali ke rumah. Namun bayang-bayang perlakuan El yang membuat Eve sakit hati terus mengacaukan isi kepalanya. Apalagi jika teringat tentang mimpinya saat itu, tentu Eve masih ragu dan langsung berspekulasi jika permintaan El hanyalah pura-pura.
"Jadi yang melakukan semua ini adalah Shella El?" tanya Tama dengan ekspresi terkejut.
"Iya dad, dia di bantu oleh Shola dan Isna, mantan ART opa dan oma Idris"
"Jadi Isna juga terlibat?" sela Idris kaget.
Kellen mengangguk.
"Ben bilang motif Shella menculik Eve karena dia dendam sama daddy dan juga rumah sakit family care" Tambah Kellen mengungkapkan semuanya.
"Kenapa dia balas dendam ke family care, El?"
"Karena pada saat itu family care mampu menggeser posisi rumah sakit terbaik di sini mom"
"Iya oma ingat, saat itu IMC memang kalap karena Shella sempat mendekam di penjara selama tujuh bulan. Iya kan Na, dia kalah melawan kamu di pengadilan" Pungkas Rania saat teringat soal itu.
"Iya bun, aku ingat tatapannya saat dia akan di masukkan ke dalam sel"
"Astaghfirullah" desis Tama tak percaya lengkap dengan gelengan kepala.
Pandu, Nayla dan Eve hanya diam menyimak, karena mereka tidak tahu apapun tentang ini.
"Lalu bagaimana kelanjutannya El?"
"Kita hanya memiliki saksi dad, tapi belum ada bukti. Ben sudah konsultasi dengan pengacara dan besok mereka akan membuat laporan ke kantor polisi"
"Tanpa bukti apakah bisa menjerat Shella El?" tanya Nara sedikit was-was.
"Kita akan berusaha mom"
Kemudian hening hingga beberapa detik. Selama mereka tidak bersuara, tatapan El tertuju pada Eve yang duduk bersandar dengan pandangan tertunduk, sepasang netranya juga memindai perut sang istri yang masih rata.
"Daddy Tama dan mom Nara" Suara El membuat seisi ruangan menatapnya penuh intens. "Aku minta maaf karena sempat menyiksa Eve dengan perlakuan kasarku"
Kening Tama mengerut, sementara alis Nara menukik tajam. Begitu juga dengan Idris dan Rania yang menyorot bingung.
"Perlakuan kasar apa maksudmu El?"
"Aku sudah bersikap kasar pada Eve mom"
"Begini tuan dan nyonya Tama" Potong Pandu melirik Keluarga Eve bergantian. "El memang mencintai Eve sebelum tahu kalau Eve adalah putri kalian, dan setelah tahu, El justru langsung menikahinya karena ingin membalas rasa sakit hati yang auntynya rasakan. Maksud saya, karena tuan dan nyonya melaporkan Tania ke kantor polisi" Tambah Pandu sedikit ragu. "Itu dari sisi Kellen, dan kami sekeluarga tidak membenarkan tindakannya, maka dari itu, saya atas nama daddynya meminta maaf untuk itu"
Menelan ludah, tiba-tiba saja jantung Kellen berdetak tak karuan. Ia takut jika Tama dan Nara akan marah dan memintanya untuk berpisah dengan Eve.
"Maaf dad, mom" Pandangan El jatuh pada Tama dan Nara bergantian.
__ADS_1
Sejujurnya Tama dan Nara sangat kaget dan ingin sekali marah, tapi melihat bagaimana tulusnya ucapan maaf dari Pandu, serta perlakuan baik Pandu dan Nayla pada Eve yang menganggap sang putri tidak hanya menantu tetapi juga anak kandung, Tama dan Nara bisa saja memaafkan Kellen. Tapi putri mereka juga berhak memutuskan apakah akan memberikan maaf atau tidak.
"Daddy mommy memaafkanmu, tapi semua tergantung Eve El"
Mata Kellen beralih ke Eve yang masih menundukkan pandangan.
"Ve, aku minta maaf, aku janji tidak akan mengulanginya"
Eve tak menjawab, ia masih mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Please, Ve! aku menyesal"
"Beri aku waktu sampai aku melahirkan El"
"Itu terlalu lama Ve"
"Aku tidak mau kamu membunuh anakku juga"
Semua orang tertegun mendengar kalimat Eve.
"Tidak ada yang ingin membunuhmu sayang" Suara Nayla membuat Eve menatapnya. "Mommy tahu persis siapa El, dia sangat menyesali perbuatannya. Mommy mohon nak, pulang ya, kami merindukanmu"
"Enggak mau mom"
"Ve" ucap Kellen penuh harap. "Aku tahu perbuatanku memang sudah keterlaluan, aku tahu, sangat susah memberiku maaf, tapi please Ve, aku mencintaimu"
Ini adalah kali kedua Kellen mengatakan cinta. Tapi tetap saja belum bisa mencairkan hatinya yang sepertinya sudah membeku.
"Tuan dan nyonya Pandu, lebih baik kita tinggalkan mereka, mari kita makan malam"
Ajakan Tama, langsung di setujui oleh Pandu dan juga Nayla. Mereka beranjak menuju ruang makan, menyisakan Kellen dan Eve yang masih duduk agak berjauhan.
Setelah para orang tua tak lagi nampak, El bangkit dari duduknya lalu melangkah mendekati Eve.
Pria itu duduk di sebelah istrinya, tempat yang tadi di duduki oleh mommy mertuanya.
"Ve, lihat aku"
Eve menggeleng.
"Lihat aku sebelum kamu menyesal"
Memangnya aku akan menyesal karena apa? dasar bos aneh, suami gila.
Sepertinya kebiasaan Eve mengumpat dalam hati kembali muncul setelah dua minggu tidak adu debat dengan sang suami.
"Bagaimana kalau besok aku mati"
Eve langsung mempertemukan netranya setelah mendengar ucapan absurt suaminya
"Nah kan kamu tidak mau aku mati besok"
__ADS_1
"Apa maksudmu, tuan El?"
"Maksudku supaya kamu menatapku"
Bisa-bisanya dia bercanda saat sedang memohon.
Tanpa aba-aba, tiba-tiba Kellen mengikis wajah mereka.
"I miss You" lirihnya ketika jarak wajah mereka kurang dari sejengkal.
Aroma nafasnya mampu menusuk hidung yang membuat Eve kian kikuk.
"Aku masih ingin di sini, El"
"Kalau gitu, ijinkan aku tinggal di sini"
"Tidak"
"Kenapa?"
"Aku membencimu. Coba pikirkan, jika aku tidak mendengar percakapanmu dengan uncle Alvin malam itu, aku pasti belum bertemu dengan keluargaku, entah sampai kapan kamu menyembunyikan semuanya dariku, dan aku pasti masih terkurung di rumahmu"
"Kamu salah Ve, setelah bicara dengan uncle, aku berniat memberitahumu, tapi saat aku baru saja masuk ke kamar, kamu langsung menamparku, dan kamu langsung pergi begitu saja"
"Aku tidak percaya padamu El, kata-katamu itu dusta"
"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan maafmu?"
"Kita berpisah"
"Berpisah?" Tercenung Kellen mendengarnya. "Apa maksud kamu Ve?"
"Apa lagi? kita bercerai"
"Tidak mau"
"Tapi aku tidak mau hidup dengan pria kejam sepertimu"
"Tapi aku sudah janji tidak akan mengulanginya"
"Kamu lupa El, pernah mengurungku di kegelapan? aku kesulitan bernapas saat di ruangan yang gelap, tuan El"
"Aku seperti di kelilingi ribuan monster kau tahu itu?" Lirih, tapi penuh penekanan.
"Jangan lagi muncul di hadapanku"
Usai mengatakan itu, Eve bangkit kemudian beranjak hendak memasuki kamar untuk menenangkan diri. Dia bahkan mengabaikan panggilan sang suami yang terucap berulang kali.
Sementara Kellen, mendesah frustasi seraya membanting punggungnya ke sandaran sofa.
Bersambung...
__ADS_1