
"kau kenapa, kenapa wajah mu merah seperti habis di tampar" menyentuh pipi Laura , setelah membawa Laura masuk ke ruangan nya
ya tadi wanita yang mencekal lengan reyanza saat di parkiran Lobi perusahaan adalah Laura , dan kini kedua duduk di sofa yang ada di ruangan Presdir
"aku tidak apa-apa, hanya tadi aku berantem sama orang saat aku di mall karena berebut tas branded"
Laura terpaksa bohong karena ia tidak ingin reyanza mengetahui yang sebenarnya
"benar"tatapan reyanza mengintimidasi dirinya belum begitu percaya sama yang di ucapkan Laura
"of course" Laura menggenggam tangan reyanza seolah dirinya benar-benar mengatakan yang sebenarnya
reyanza tampak manggut-manggut, tidak mau mempermasalahkan lagi
"tunggulah disini, nanti pulang nya saya antar , aku mau menyelesaikan pekerjaan ku dulu" tangan reyanza menyentuh kepala Laura sambil mengacak-acak rambut nya
setelah nya ia beranjak dari duduk nya lalu menuju kursi kebesaran nya
di tempat lain
area baru pulang sekolah , hari ini dia pulang di antar teman nya Santi dan Tika
area kluar dari mobil setelah sampai di depan gerbang rumah utama
namun baru beberapa langkah ia berhenti mendengar suara dari Santi
" are , kau enak bisa tinggal di rumah semegah ini" ucap Santi
" aku hanya anak pelayan disini, jadi bukan siapa-siapa dan tidak ada yang istimewa tentang hadir ku" ucap nya dengan senyum
" karena pengabdian ibu ku di rumah ini , ibu ku boleh mengajak aku tinggal disini"
" wah hebat aku salut dengan ibu mu," timpal Tika
" apa kau sering bertemu nona Asmara, beliau sangat cantik aku sering liat di iklan tv, "
" Sangat jarang karena nona muda sangat sibuk" area mengangkat tangan nya ke atas lalu menggerak-gerakkan tanda bahwa ia harus segera masuk , penjaga gerbang sudah menunggu
"silahkan nona" ucap penjaga gerbang seraya menunduk hormat
area memberi anggukan kecil, dan interaksi tersebut tidak terlepas dari pengamatan Santi dan Tika
setiap kali di tanya area pasti bilang hanya anak pelayan , dirinya sengaja menyembunyikan identitas nya karena ingin mandiri bukan terkenal karena ada nama sang kakak yaitu nona Asmara
dan bila di tanya kenapa bisa masuk sekolah SMA favorit, ya jawaban nya karena kebaikan dari majikan ibu nya
setelah punggung area hilang di balik gerbang rumah megah itu , mobil Santi terus melesat pergi
hari sudah mulai malam , mata hari sudah mulai terbenam namun masih menyisakan warna merah dan kuning sebelum benar-benar terbenam
waktu menunjuk pukul setengah enam sore
reyanza keluar dari ruangan nya bersama Laura yang bergelayut manja di lengan reyanza
__ADS_1
para staf menunduk hormat saat melihat pemimpin nya lewat
setelah reyanza dan Laura sudah berada didalam lift , para staf berbisik-bisik
*Presdir kita yang sekarang masih muda lho tampan juga ya
tapi pasti itu tadi kekasih nya
iya, yah kita sudah tidak ada kesempatan
aku gemes sama lesung pipinya, ucap nya dengan kaki menghentakkan di lantai
eh sudah-sudah apa kalian tidak ingin pulang ngerumpi terus*
di dalam mobil Laura tampak mengerut kan kening , karena ini bukan jalan arah menuju apartemen nya
"Loh Rey ini bukan jalan ke apartemen aku"
" malam ini akan aku kenal kan dengan ibu ku dan ayah ku" jawab reyanza santae tanpa mengalihkan tatapan mata nya yang terus fokus berkendara
"kenapa dadakan Rey"
namun reyanza tidak menjawab , bagi nya semakin cepat itu lebih baik
mobil kini sudah masuk gerbang rumah reyanza
Laura keluar mobil dengan perasaan tidak menentu karena dirinya belum ada persiapan apa pun
pintu rumah utama di buka oleh bibi
" duduk lah disini , aku mau panggil ibu dan ayah ku" menuntun Laura untuk duduk di sofa ruang tamu
tok tok
"ibu" suara reyanza memanggil
pintu kamar ibu nya terbuka menampakkan wanita paruh baya
"ada Laura di bawah , aku ingin mengenalkan kepada ibu"
ibu Elisa terlihat malas , kenapa harus membawa wanita itu kesini baginya
" ok tunggu lah nanti ibu kesana"
setelah menggu beberapa menit, Laura mendengar derap langkah , ia menatap ibu dan ayah Reyanza,
"masih cantik" batin nya
"Om Tante" Laura menyapa seraya menunduk memberi perilaku sesopan mungkin
ibu Elisa dan pak Edy suaminya duduk sebelahan , namun tatapan ibu Elisa tidak lepas dari saat dia masuk di ruang tamu mata nya terus menatap Laura
"huh masih cantik nona Asmara" bergumam pelan sambil memandang remeh
__ADS_1
"aku tidak suka cantik versi bule" kali ini ucapan nya lebih jelas, Laura nampak nya dengar
"sialan" batin Laura
pak Edy yang juga mendengar ucapan istrinya langsung menyenggol lengan ibu Elisa
" Bu jangan begitu " ucap pak Edy pelan berbisik di telinga ibu Elisa
ibu Elisa terlihat membuang nafas kasar
tidak berselang beberapa lama reyanza datang, kini wajah nya lebih fresh dan makin terlihat tampan setelah habis mandi dan memakai baju rumahan
reyanza memilih duduk di sebelah Laura
setelah reyanza sudah berada dalam satu ruangan yaitu ruang tamu
ibu Elisa buka suara
" Rey ibu tidak merestui hubungan kalian" ucapan nya langsung menusuk hati Laura , bagaimana tidak mungkin setiap orang menjalin kasih pasti berharab mendapat restu dari orang tua kekasih kita
" ibu tenang lah" pak Edi terlihat menenangkan
namun setelah beberapa saat ibu Elisa berfikir seolah ia menemukan sebuah ide lalu bersuara
" kecuali satu kalo wanita itu bisa memasak menu kesukaan ibu" ucap nya tegas tidak mau di bantah
"ibu Laura ibu Laura namanya" Reyanza membenarkan cara ibu nya memanggil
"ah terserah mau siapa saja namanya , apa kau mau" menatap Laura dengan senyum miring
Laura mengangguk kecil, ia memang bisa masak tapi tidak tau masakan kesukaan ibu reyanza, namun dirinya tetap menyanggupi
setelah nya obrolan terus mengalir , namun hanya pak Edy yang lebih banyak bertanya karena menghargai , berbeda dengan ibu Elisa yang lebih memilih diam
pukul sembilan malam Laura di antara reyanza pulang setelah sampai di apartemen nya Laura , reyanza menghentikan mobil nya
" maaf kan sikap ibu tadi ya" tangan satu nya membelai rambut Laura dengan sayang
Laura mengangguk kecil lalu kemudian keluar dari mobil reyanza
di tempat lain
tepat nya di kamar utama yang luas dan bernuansa indah itu , ada seorang wanita cantik yang sedang duduk di pinggir ranjang tidur nya sambil memegang foto median ayah nya tak terasa bulir bening menetes dari pelupuk mata nya
" ayah terkadang aku merasa tidak kuat"
" ayah terkadang aku ingin menyerah "
jika dulu disaat seketaris ayah nya masih hidup nona Asmara menganggap dia sebagai ayah nya , yang menguatkan ia dikala rapuh
tapi sekarang tidak mungkin menunjukan kelemahan nya di hadapan seketaris Zaki, mau di taruh mana harga dirinya
setelah itu nona Asmara menghapus air mata nya lalu beranjak tidur .
__ADS_1