
Di tempat lain, Sekertaris Zaki sudah menangkap empat orang pelaku yang merencanakan pembunuhan terhadap Reyanza.
Bahkan kini Sekertaris Zaki memiliki rekaman Vidio mobil Reyanza yang saat tertabrak hingga berguling-guling sampai beberapa meter dan berakhir mobil itu meledak.
Empat orang pelaku itu ditemukan saat mau melakukan penerbangan ke luar negeri. Mereka tertangkap di bandara.
Mereka semua kini wajahnya sudah babak belur. Karena sedari tadi sudah Sekertaris Zaki hajar bersama lima orang anak buahnya.
Bugh!
Sekertaris Zaki kembali memukul wajah orang yang masih terlihat kuat, sementara yang tiga sudah lemas terkapar di lantai, bibirnya berdarah.
Brak!
Nona Asmara masuk membuka pintu dengan kencang.
"Nona." Sekertaris Zaki bangkit menghampiri Nona Asmara.
Nona Asmara melihat satu per satu wajah orang yang sudah berani mencelakai suaminya.
Nona Asmara berjongkok lalu menarik kaos pria yang terlihat masih bisa bicara, orang tersebut langsung merasa ketakutan, sekujur tubuhnya merinding mendapat tatapan membunuh.
Mata pria itu semakin terbelalak lebar saat melihat Nona Asmara mengambil pistol dari dalam saku jasnya, dan mengarahkan tepat pada kepala pria itu.
"Ja-jangan," pinta pria itu dengan ketakutan.
Mata Nona Asmara semakin menyipit tajam. "Katakan!"
__ADS_1
Pria itu bingung mendengar kalimat perintah dari Nona Asmara, bila menjawab ia akan mati karena pasti bosnya akan membunuhnya, bila tidak menjawab maka ia juga akan mati.
"Katakan!"
Nona Asmara bicara berteriak dengan wajahnya yang marah dan mulai menarik pelatuk pistol.
Dor!
Dor!
Dor!
Dor!
Dada Nona Asmara masih terlihat naik turun dengan cepat, nafasnya tersengal-sengal wajahnya masih tampak marah, meski empat orang pelaku kini sudah mati.
"Bereskan semua, Zaki. Jangan sampai tercium polisi." Setelah berucap Nona Asmara terus pergi dari tempat tersebut.
Malam hari.
Nona Asmara kembali menjaga Reyanza, beberapa hari ini waktunya hanya habis untuk menjaga Reyanza, sudah satu Minggu ini Reyanza tidak sadarkan dir. Kenyataan pahit yang harus Nona Asmara dengar dan keluarga karena Reyanza koma.
Dengan telaten setiap harinya Nona Asmara mengganti pakaian untuk Reyanza, mengelap tubuhnya juga. Tidur sambil duduk di samping ranjangnya, bahkan kadang sampai lupa makan.
"Sayang, kamu istirahatlah," ucap Ibu Elisa yang baru datang.
Nona Asmara hanya beralih tempat duduk di sofa, memberi waktu untuk Ibu Elisa.
__ADS_1
Beberapa hari ini perusahaan Sekertaris Zaki yang menangani, Nona Asmara terlelap sebentar namun tiba-tiba handphonenya berdering ia langsung mengangkat, dan setelah itu langsung pergi.
Nona Asmara mengendarai mobil sendiri, kini tujuannya menemui seseorang yang tadi baru menelponnya.
Tempat itu seperti di sebuah rumah, Nona Asmara menghentikan mobilnya, lalu masuk ke dalam.
Hahahaha!
Nona Asmara diam berdiri di belakang orang tersebut, orang tersebut balik badan kini menatap wajah Nona Asmara.
"Ahirnya kamu datang, hahaha!"
"Sudah aku katakan, kamu pasti akan mencari aku, hahaha!"
Pria itu mendekati Nona Asmara mau menyentuh dagunya, namun Nona Asmara langsung mundur beberapa langkah dan mengacungkan pistol tepat kearah wajah pria itu.
"Aku akan membunuhmu, Brian!" teriak Nona Asmara dengan marah serta sorot mata tajam bagai kilatan petir.
Hahahaha!
Brian hanya tertawa tidak meladeni ucapan Nona Asmara. Tawanya langsung lenyap kini berubah marah menatap Nona Asmara.
"Sekarang kamu sudah tahu rasanya sakit." Brian menepuk dadanya sendiri.
"Itulah yang aku rasakan dulu, saat kau menolak cintaku!" bentak Brian.
Dor!
__ADS_1
Satu tembakan lolos, tapi Nona Asmara menembak ke arah lain untuk membungkam mulut Brian.
Setelah itu Nona Asmara pergi dari tempat itu, meninggalkan Brian yang marah dan mengepalkan tangan.