
Ibu Elisa terkejut saat mendengar Reyanza mengucap nama Asmara, Ibu Elisa menangis haru, berharap apa yang ia dengar barusan itu nyata, bukan halusinasi.
"Rey ... putraku, kamu sudah ingat kembali." Ibu Elisa menyentuh kepala Reyanza, mengusap wajah dan rambutnya.
Reyanza mengangguk, meski dia tidak tahu apa yang sudah terjadi, tapi saat ini hanya Nona Asmara yang ingin ia temui.
"Aku ... aku harus bertemu Asmara sekarang ini, katakan di mana dia, Ibu." Reyanza gusar seraya memegang tangan Ibunya.
"Rey, tenanglah kamu tidak perlu khawatir, istrimu baik-baik saja." Ibu Elisa mengusap lengan Reyanza supaya lebih tenang.
Bersamaan Ibu Elisa berhenti berkata, telepon rumah berbunyi, pelayan datang lalu mengangkatnya.
Ibu Elisa membawa Reyanza untuk duduk di sofa. Pelayan yang saat ini sedang berbicara dengan seseorang di sambungan telepon, wajahnya berubah sedih setelah mendengar penjelasan dari orang yang berada di sambungan telepon.
"Rumi, siapa yang telpon?" tanya Ibu Elisa setelah melihat Rumi meletakkan kembali telepon pada tempatnya.
Rumi menghampiri Tuan dan Nyonya, dengan kepala menunduk Rumi berkata, "Maaf Nya, saat ini nona Asmara sedang berada di rumah sakit."
Apa!
__ADS_1
Reyanza terkejut dan reflek sampai langsung berdiri. "Aku harus ke rumah sakit sekarang." Rasanya naik ke atas menuju kamar untuk mengambil kunci mobil.
Tidak lama kemudian Reyanza sudah kembali di lantai dasar dan langsung ke luar.
"Rey tunggu! Ibu ikut ..." Ibu Elisa berlari mengejar langkah kaki Reyanza yang lebar.
Di rumah sakit.
Sekertaris Zaki memasukan lagi handphonenya ke saku celana, setelah selesai menghubungi dua keluarga Nona Asmara.
Seorang dokter ke luar ruangan, yang baru memeriksa keadaan Nona Asmara.
Sekertaris Zaki menggeleng. "Bukan, tapi saya termasuk orang terdekatnya."
Dokter tersebut kembali tersenyum lagi. "Baiklah, bila begitu saya sampaikan, bahwa pasien saat ini baik-baik saja, hanya tidak boleh kecapean dan juga lelah, dikarenakan pasien sedang hamil."
Sekertaris Zaki mengangguk mengerti, dokter tersebut ijin pergi.
Sekertaris Zaki kembali duduk, kini bisa bernafas lega setelah tahu keadaan Nona Asmara baik-baik saja, yang tadi sempat khawatir karena Nona Asmara tiba-tiba pingsan.
__ADS_1
Sekertaris Zaki tersenyum kecil saat mengingat ucapan dokter yang mengatakan Nona Asmara hamil.
Dan senyum kecil Sekertaris Zaki ditangkap oleh dokter cantik yang saat ini berdiri di ujung. "Eh, ada si tampan," gumam dokter Yasmine, yang baru ke luar menangani pasien lain.
Dokter Yasmine berjalan mendekati Sekertaris Zaki. "Hei, Anda ada di sini, siapa yang sakit?" tanya Dokter Yasmine yang kini sudah berdiri di depan Sekertaris Zaki.
Sekertaris Zaki menghela nafas, menatap sekilas Dokter Yasmine. "Nona Asmara."
"Nona Asmara sakit!" ulang Dokter Yasmine dengan terkejut lalu duduk di samping Seketaris Zaki.
Belum sempat Sekertaris Zaki menjawab, Reyanza dan Ibu Elisa datang, beruntung batin Sekertaris Zaki.
Sekertaris Zaki dan Dokter Yasmine berdiri menyambut Reyanza dan Ibu Elisa, lalu semuanya masuk ke dalam bersama.
Ternyata Nona Asmara sudah sadar saat ini, ia tersenyum ke arah Reyanza yang saat ini berjalan mendekatinya.
Nona Asmara yang belum tahu bila Reyanza sudah ingat semua, bingung saat tiba-tiba Reyanza menggenggam tangannya dan melabuhkan ciuman di keningnya.
Nona Asmara memejamkan matanya seraya berpikir, apa mungkin Reyanza sudah ingat kembali, namun itu semua tidak begitu penting, karena kesehatan Reyanza kini lebih penting bagi Nona Asmara.
__ADS_1