
Delapan bulan kemudian.
Nona Asmara dan Reyanza saat ini sedang di dalam mobil, siang-siang hari seperti ini setiap hari, Nona Asmara selalu mengajak makan di luar, dan permintaannya selalu aneh-aneh.
Pokoknya Reyanza sampai merasa bingung sendiri, tapi tetap akan ia lakukan.
Mobil sudah melaju sedari tadi tapi Nona Asmara juga belum mengatakan apa yang ia inginkan.
"Sayang, kita sudah putar-putar lho dari tadi, kamu mau makan apa sebenarnya?" Reyanza berkata lembut seraya menyetir mobil.
"Jalan terus aja, aku belum menemukan yang aku inginkan." Nona Asmara sambil melihat-lihat pedagang di pinggir jalan.
Reyanza menghela nafas panjang, dan mengikuti kemauan Nona Asmara.
Sampai akhirnya mata Nona Asmara menangkap makanan pinggir jalan soto Betawi.
"Berhenti." Nona Asmara langsung memegang tangan Reyanza untuk berhenti, tapi matanya masih melihat warung pinggir jalan tersebut.
Agak lewat sedikit Reyanza menepikan mobilnya.
"Aku aja yang turun, atau kamu ikut turun?" tanya Reyanza seraya menatap Nona Asmara.
"Ikut turun." Nona Asmara meringis.
Reyanza tersenyum kecil seraya bicara dalam hati, sambil membuka pintu mobil.
Awas saja nanti kalo aku yang di suruh ngabisin makanan lagi, bisa-bisa perutku yang juga ikutan buncit.
__ADS_1
Hah! Reyanza menggelengkan kepalanya seraya berjalan mendekati Nona Asmara, yang sudah semangat ingin segera masuk ke warung tersebut.
Reyanza menggandeng tangan Nona Asmara, berjalan bersama masuk ke dalam warung soto Betawi.
Hanya di waktu hamil Nona Asmara selalu makan makanan di pinggir jalan, di tawarin masakan restoran juga tidak mau.
Kadang Reyanza berpikir bahwa calon anaknya itu sepertinya ramah lingkungan, yang kelak tidak akan membedakan golongan kaya atau pun miskin.
Bila benar seperti itu, Reyanza bersyukur, karena tidak suka bila anaknya nanti sombong.
Karena sambil melamun, Reyanza tidak sadar bila kini sudah berdiri di depan kursi.
Nona Asmara menepuk bahu Reyanza. "Rey, duduk!" bisiknya tegas di telinga Reyanza.
"Ah! iya." Reyanza terperanjat kaget.
"Soto Betawi dua porsi, dan es teh manis dua."
Setelah menerima jawaban yang Nona Asmara pilih, ibu pemilik warung kembali ke belakang untuk menyiapkan soto.
"Sayang, kali ini kamu pokoknya harus habiskan! aku tidak mau lagi." Reyanza berkata serius.
"Iya! iya." Nona Asmara menjawab seraya menghela nafas panjang.
Tidak janji si, hihihihi.
Nona Asmara senyum-senyum sendiri, Reyanza yang menangkap hal itu sudah curiga bila nanti akan di suruh ngabisin makanan, bukan tidak mau, karena satu porsi saja Reyanza sudah merasa kenyang.
__ADS_1
Reyanza berkaca melalui hpnya.
Lihat sekarang pipiku jadi chubby kan, batin Reyanza seraya menghela nafas kesal.
Aku tidak mau gendut titik!
Ibu pemilik warung datang membawakan pesanan makanan.
"Silahkan dinikmati," ucap ibu pemilik warung setelah soto Betawi dan teh manis tersaji di atas meja.
Nona Asmara menuangkan sedikit saus sambal dan juga kecap, kemudian mulai menyuap.
Kunyah-kunyah merasakan lezat di lidah, Nona Asmara kembali menyuap lagi.
Reyanza menyuap soto Betawi ke dalam mulutnya seraya melirik Nona Asmara yang lagi makan.
Reyanza merasa aman sepertinya kali ini tidak akan disuruh menghabiskan.
Reyanza menyuap dan kunyah-kunyah dengan semangat, tanpa khawatir lagi.
"Sayang, habisin dong. Aku sudah cukup." Nona Asmara menggeser mangkuk isi soto Betawi ke dekat Reyanza.
Reyanza langsung menghela nafas panjang seraya menatap Nona Asmara yang tersenyum imut ke arahnya, bahkan sendok yang sudah di depan mulutnya, ia letakkan kembali di piring.
Ah! sial, tiap kali aku melihat senyum imutnya aku selalu lemah, baiklah karena dia tersenyum imut aku akan habiskan, batin Reyanza seraya mengalihkan pandangannya melihat sisa soto Betawi di mangkuk Nona Asmara.
Ah! gila! ini sama saja aku makan dua porsi, ucapnya dalam hati Reyanza, saat melihat mangkuk itu masih berisi banyak soto Betawi.
__ADS_1