
Nona Asmara membuka mata saat merasakan saat ini di peluk erat dan menempel di dada bidang seseorang.
Matanya seketika terkejut yang ternyata saat ini ia tengah di peluk Reyanza, berarti bukan mimpi pikirnya, Nona Asmara mengubah posisi tidurnya seraya mencari Reza, yang semalam ikut tidur bersamanya.
Batinnya penuh tanya saat mendapati Anak kecil itu tidak ada di kamarnya.
"Reza udah aku pindahkan ke kamarnya." Reyanza yang terusik pergerakan Nona Asmara ia bangun dan buka suara seraya mengeratkan kembali pelukannya.
Ahhww.
Nona Asmara mencubit dada Reyanza yang tidak memakai baju.
"Jangan mencubit aku, atau aku." Reyanza mengancam, saat ini bibirnya sudah berada di leher Nona Asmara dan memberi warna merah di situ.
"Rey ..." Reyanza mengangkat kepalanya lalu menatap Nona Asmara. "Ayo tidur kembali ini masih pagi." Membawa Nona Asmara untuk tidur di posisi ternyaman.
Waktu memang masih menunjuk pukul lima pagi, keduanya kembali tidur karena untuk aktivitas masih lama.
Tepat pukul setengah delapan Nona Asmara ke luar kamar, ia sudah berpakaian rapih menggunakan stelan kerja.
Tepat pintu lift terbuka Nona Asmara disambut oleh suara riang Reza.
"Mommy, cudah bangun ..." Reza berlari ke arah Nona Asmara, rambutnya yang basah terlihat bahwa Reza sehabis mandi.
Tangan mungil Reza menunjuk dapur, ia memberitahu bahwa Daddy angkatnya sedang memasak.
__ADS_1
Sampai di ruang dapur, Nona Asmara melihat punggung kokoh yang sedang sibuk menggerak-gerakan spatula.
"Mommy, Leja langsung lapal," berbisik di telinga Nona Asmara.
"Sabal." Keduanya tertawa kecil, saat Nona Asmara mengikuti cara Reza berbicara.
Aroma wangi masakan begitu kentara di indra penciuman, aroma wangi nasi goreng yang menyebar ke seluruh ruangan.
Masakan nasi goreng sudah selesai, Reyanza terkejut saat membalikkan badan ia melihat dua kesayangannya sudah bangun dan tersenyum manis ke arahnya.
Reyanza mendekat lalu membawa Nona Asmara untuk duduk di ruang makan, Reyanza menyiapkan nasi goreng di piring lalu ia letakkan di meja makan.
Reza makan dengan lahap di suapi pengasuhnya.
Sementara Nona Asmara jadi merasa malu, karena ia tidak bisa masak sama sekali.
"Kalo tidak enak jangan di makan ya, nanti aku belikan makanan." Reyanza menahan sendok makan yang mau masuk ke mulut Nona Asmara.
Nona Asmara menggelengkan kepalanya lalu meraih lagi sendok tersebut dan menyuap nasi goreng.
Setelah sarapan selesai Nona Asmara mengutarakan niatnya, bahwa ia ingin belajar masak dan akan ambil kursus masak.
"Pintar masak untuk siapa?"
"Untuk." Nona Asmara menunduk malu.
__ADS_1
"Untuk siapa?" Reyanza mendekatkan wajahnya kini hidung keduanya saling bersentuhan.
"Untuk, Suamiku."
Hahaha.
His, nyebalkan gerurutu Nona Asmara.
Obrolan keduanya selesai karena waktu harus membuat keduanya segera sampai di kantor masing-masing.
Nona Asmara hari ini ada janji bertemu dengan Dokter Jasmin, sehingga ia harus segera sampai di kantor untuk mulai menjalankan rencananya.
Mobil Reyanza langsung meninggalkan halaman kantor Lion Group, setelah sampai mengantar Nona Asmara.
Seketaris Zaki menghampiri Nona Asmara, keduanya lalu berjalan bersama, masuk ke perusahaan, namun tiba-tiba Nona Asmara menghentikan langkahnya lalu menoleh.
Cekrek.
Satu gambar foto berhasil seseorang ambil yang saat ini berdiri di balik dinding.
Sebuah foto yang terlihat sangat cantik, hasil gambar bersamaan Nona Asmara menoleh membuat hidungnya semakin terlihat mancung, dengan rambut tergibas terbawa angin, wajahnya terlihat serius saat berbicara dengan sekertarisnya.
"Si bos pasti senang." Orang itu tersenyum menyeringai.
Dan benar saja, orang yang mendapat kiriman foto dari anak buahnya, ia langsung tertawa.
__ADS_1
Hahaha.
"Aku tunggu jandamu."