
Setelah drama yang cukup lama di dalam ruang kamar utama, yang karena tadi Nona Asmara sempat ngambek lagi, gara-gara Reyanza tertawa sudah membohonginya dengan mengaduh sakit.
Tapi kini sudah baikan, ke luar dari pintu lift yang ada di rumah tersebut, dengan bergandengan tangan, dan tersenyum manis.
Ibu Elisa yang melihat kedua kesayangannya sudah tiba, bahagia melihat kerukunan mereka.
Kini semua sudah duduk di kursi tempat meja makan.
"Sayang, kamu harus coba sup buntut buatan, Ibu." Ibu Elisa menggeser mangkuk isi sup buntut dekat Nona Asmara.
Nona Asmara mencermati sup buntut, kemudian beralih menatap Ibu Elisa yang kini tersenyum seraya mengangguk ke arah Nona Asmara.
"Cobain, sup buntut buatan Ibu, lezat banget." Reyanza menepuk pelan pundak Nona Asmara. "Ayo," ucap Reyanza lagi seraya menunjuk makanan melalui menggerak-gerakkan dua alisnya.
Nona Asmara mulai menyuap, mengecap-ngecap rasa, dan seketika matanya terbelalak saat merasakan lezat kuah sup buntut.
"Enakkan, ayo habiskan," ucap Reyanza seraya mengusap lembut rambut panjang Nona Asmara.
__ADS_1
Makan malam dilewati dengan tenang hanya bertiga, karena Reza saat ini tinggal di rumah Ibu Elisa, dan tadi saat mau diajak, Reza sedang tidur jadi Ibu Elisa datang sendiri.
Setelah selesai makan, Nona Asmara dan Ibu Elisa duduk di ruang keluarga.
Sementara Reyanza masuk ke dalam ruang kerjanya yang terdapat di rumah tersebut.
Ibu Elisa membawa benang rajut, kini mengajari Nona Asmara untuk membuat sepatu bayi dari benang rajut.
Nona Asmara mengikuti langkah demi langkah cara Ibu Elisa membuat sepatu rajutnya.
Sambil tertawa dan berbincang-bincang membicarakan seputar calon cucu, rasanya Ibu Elisa sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba.
Membayangkan pipinya yang menggemaskan membuat Ibu Elisa kembali tersenyum sendiri.
Suara tawa-tiwi Nona Asmara dan Ibu Elisa sampai terdengar ke telinga Reyanza yang saat ini baru ke luar dari ruang kerjanya dan menutup pintu.
"Apa yang mereka lakukan sampai tertawa seperti itu," gumam Reyanza seraya berjalan ke arah tempat duduk Nona Asmara dan Ibunya.
__ADS_1
Nona Asmara dan Ibu Elisa langsung berhenti tertawa saat melihat Reyanza berjalan ke arahnya, tapi tangannya masih sibuk membuat sepatu rajut.
"Wah ... lucu sekali." Reyanza menatap berbinar sepatu rajut yang Nona Asmara buat, tapi belum sepenuhnya jadi.
"Rey, kamu jangan mengganggu, kami sedang sibuk?" ucap tegas Ibu Elisa seraya melototi Reyanza.
"His! Ibu," gerutu kesal Reyanza, tapi ia merasa tertarik dengan sepatu rajut yang dibuat Nona Asmara.
Reyanza menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Nona Asmara. "Boleh tidak aku yang meneruskan membuat sepatu rajutnya?"
Nona Asmara menoleh ke arah Reyanza dan tersenyum. "Boleh?" Nona Asmara menyerahkan pada Reyanza, dan Reyanza langsung menerima, Nona Asmara membantu Reyanza untuk melanjutkan merajut.
Ibu Elisa geleng kepala melihat tingkah Reyanza, namun sesaat juga tersenyum melihat keduanya begitu kompak membuat sepatu rajut.
Setelah beberapa saat kemudian sepatu rajut telah jadi, Reyanza menciumi dengan gemas, kemudian tiduran di pangkuan Nona Asmara, memiringkan wajahnya menghadap perut Nona Asmara, lalu menciumi.
Nona Asmara tersenyum mengusap rambut Reyanza, Ibu Elisa bangkit dari duduknya untuk menyimpan sepatu rajut.
__ADS_1
Reyanza mengangkat wajahnya saat mendengar Nona Asmara mengaduh. "Sayang, kamu tidak apa-apa."