
Gedung Lion Group.
Nona Asmara baru saja masuk ke dalam ruang Presdir. Dan seketika menyibukkan diri dengan pekerjaannya, beberapa hari tidak masuk kerja, membuat pekerjaannya menumpuk.
Dan disela-sela melakukan pekerjaannya, Nona Asmara merasa tidak tenang, akhirnya memutuskan untuk menghubungi Ibu Elisa untuk menanyakan kabar Reyanza hari ini.
Panggilan telepon diangkat oleh Ibu Elisa, di seberang sana Ibu Elisa mengatakan bila Reyanza baik-baik saja, dan mengetahui hal itu Nona Asmara merasa lega, kini kekhawatirannya sudah terjawab.
Sambungan telepon terputus, Nona Asmara tersenyum kecil, yang kemudian kembali fokus kerja.
Di tempat lain.
Setelah bertemu Nona Asmara, Brian memakirkan mobilnya di dekat bengkel mobil, saat baru ke luar mobil, langsung disambut teriakan suara Klara.
"Brian ..." Klara berjalan mendekati Brian.
Brian memperhatikan penampilan Klara hari ini, rambut bewarna hitam bergaya keriting bawah, menggunakan poni rambut melengkung rapi. Brian tersenyum kecil.
Klara langsung tersentak, langkahnya terhenti saat itu juga, seraya menutup mulutnya tidak percaya dengan yang barusan ia lihat.
Brian! benar Brian senyum padaku, bukan mahluk lain kan? yang menyamakan wujudnya dengan Brianku. Sambil berpikir ia tidak salah lihat, Klara berjalan mendekati Brian lagi.
Sampai di depan Brian, Klara menelisik Brian dari ujung kaki hingga ujung kepala, dan tingkahnya itu langsung membuat Brian tidak bisa bila tidak menyentil kening Klara.
__ADS_1
Brian menyentil kening Klara, bersamaan itu terdengar suara mengaduh.
Ahhww!
Klara mengusap keningnya yang terasa sakit.
"Jangan menatap aku seperti itu." Brian bicara tepat di telinga Klara, membuat Klara langsung merinding, namun bahagia. Klara langsung mengikuti langkah Brian dengan cepat, yang kini sedang berjalan menemui pemilik bengkel.
Di tempat lain.
Siang ini Nona Asmara akan makan siang di luar sekalian bertemu klien.
Sekertaris Zaki sudah menunggu di depan ruangannya, setelah Nona Asmara ke luar ruangan, mereka berdua berjalan bersama menuju lift.
Sampai di lantai satu, semua karyawannya menunduk hormat melihat Presdir Lion Group dan Sekertaris pribadinya lewat.
Nona Asmara dan Seketaris Zaki lanjut makan siang di tempat tersebut, dan setelah makan selesai, Nona Asmara berjalan ke luar restoran lebih dulu, Sekertaris Zaki membayar tagihan makanan. Menggunakan kartu milik Nona Asmara.
Sekertaris Zaki segera menyusul Nona Asmara, dan saat baru ke luar pintu restoran tersebut, Sekertaris Zaki seketika kaget saat melihat tubuh Nona Asmara limbung.
Dengan berjalan cepat dan gerakan cepat, Sekertaris Zaki menangkap tubuh Nona Asmara yang kini tengah tidak sadarkan diri.
Sekertaris Zaki langsung membawanya ke rumah sakit.
__ADS_1
Di tempat lain.
Reyanza yang saat ini sedang berjalan di tangga, untuk turun ke bawah mencari Ibu Elisa.
"Ibu ..." teriaknya seraya menapaki anak tangga, dan di saat kakinya menginjak lantai satu, tiba-tiba Reyanza terpeleset karena menginjak tumpahan es krim mikik Reza, yang belum sempat di bersihkan.
Aaaaa!
Brukk!
Ibu Elisa dan yang lainnya langsung mendekati arah sumber suara teriakan dan hantaman keras itu.
Setelah tahu ternyata Reyanza yang saat ini kepalanya kebentur meja, Ibu Elisa menjadi panik.
"Rey ..." Ibu Elisa mendekati Reyanza dan membantunya untuk berdiri.
Reyanza memegangi kepalanya, bayang-bayang ingatannya saat ia kecelakaan kini semakin jelas.
Ahh!
"Rey! ada apa!" Ibu Elisa panik saat melihat Reyanza mengaduh kesakitan seraya memegangi kepalanya.
Reyanza sudah mengingat semuanya, dan kini nama yang pertama ia sebut adalah istrinya, tiba-tiba batinnya khawatir, entah mengapa Reyanza merasa harus segara bertemu.
__ADS_1
"Asmara ... di mana dia?"
Deg!