Presdir Cantik Milik CEO

Presdir Cantik Milik CEO
S2. Berdiri tidak bergeser.


__ADS_3

Para ibu-ibu yang duduk di belakang pengemudi tersenyum melihat perbuatan baik Nona Asmara.


Ibu Elisa merasa bangga tidak salah pilih untuk menjadi menantunya.


Reyanza yang juga melihat kebaikan yang dibuat Nona Asmara tadi, hati kecilnya tersentuh, benarkan wanita secantik dan sebaik itu adalah Istrinya pikir Reyanza.


Mobil sudah sampai di tujuan, kini memasuki pelataran rumah Ibu Elisa. Beberapa pelayan mendekat ingin membantu, Nona Asmara ke luar mobil dan kini berdiri melihat Reyanza dan ibunya ke luar mobil.


Reyanza dan Ibu Elisa berjalan masuk ke rumah lebih dulu, Nona Asmara dan Ibu Meta mengikuti di belakangnya.


Ibu Elisa mengantar Reyanza masuk ke dalam kamarnya, sementara Nona Asmara dan Ibunya kini duduk di sofa tempatnya di ruang keluarga.


Pelayan datang memberikan minuman, dan kue di piring, diletakkan di atas meja yang ada di depan kursi sofa tersebut.


Pelayan menunduk sebelum pergi, Ibu Elisa berjalan turun menapaki tangga yang baru saja dari kamar Reyanza.


Nona Asmara tersenyum menatap ke arah Ibu Elisa, berjalan sedikit lebih cepat, kemudian duduk di sebelah Nona Asmara.


Ibu Elisa menyentuh pundak Nona Asmara, yang seketika Nona Asmara menoleh ke arahnya. "Menginaplah di sini, Nak."

__ADS_1


Nona Asmara tampak berpikir, dalam keadaan seperti ini, ia ingin memberikan Reyanza ruang, dan tidak ingin mengganggu ketenangannya, karena Nona Asmara takut bila Reyanza kepalanya akan sakit lagi.


Demi kebaikan bersama untuk saat ini, Nona Asmara memilih tidak tinggal bersama dulu, dan mungkin setiap harinya ia cukup mengunjungi saja.


Ibu Elisa tidak mau memaksa Nona Asmara, karena memang keadaanya saat ini masih seperti ini, Ibu Elisa memahami.


Siang ini cukup lama ketiganya berbincang-bincang, hingga Nona Asmara dan Ibu Meta pamit pulang.


Sebelum pergi Nona Asmara masuk ke dalam kamar Reyanza, melihat pria itu yang ternyata sedang tidur, Nona Asmara mendekat lalu melabuhkan ciuman di kening Reyanza.


Setelah itu Nona Asmara ke luar kamar Reyanza, menutup pelan pintu kamar tersebut, sampai di bawah di dekat mobilnya, Nona Asmara dan Ibu Elisa saling berpelukan sebelum ahirnya Nona Asmara pergi meninggalkan kediaman rumah Ibu Elisa.


Hari ini Nona Asmara akan kembali masuk kerja, di luar rumahnya, Sekertaris Zaki sudah menunggu.


Selesai sarapan pagi Nona Asmara langsung berangkat kerja bersama Sekertaris Zaki sebagai pengemudi.


Sekertaris Zaki melihat Nona Asmara dari kaca mobil, wajah kesedihan masih nampak jelas di wajah cantiknya, yang kini sedang menatap ke luar melihat jalanan.


Sekertaris Zaki merasa iba, namun juga tidak bisa membantu apa-apa, mobil melaju dengan sedang, karena tidak ada jadwal yang memburu-buru harus segera sampai kantor.

__ADS_1


Saat Sekertaris Zaki sedikit menambah kecepatan tiba-tiba dari arah belakang mobil berhenti menghadang.


Ciiiiittttttt!


Mobil mengerem dadakan, Nona Asmara terhuyung ke depan, belum menghilang rasa keterkejutannya kini kembali terkejut saat melihat siapa pria yang ke luar dari dalam mobil yang menghadang itu.


Sekertaris Zaki ke luar lebih dulu menemui pria itu.


"Minggirlah! aku tidak ada urusan denganmu!"


Namun dengan cepat Sekertaris Zaki menghalangi tubuh pria itu supaya tidak mendekati mobil.


Nona Asmara membuang nafas kasar, dan kemudian ke luar dari dalam mobil seraya menatap tajam ke arah pria itu.


"Minggir!"


"Tuan Brian!"


Brian yang sudah berusaha untuk menyingkirkan Sekertaris Zaki, namun tercengang saat pria itu tetap berdiri kuat tanpa bergeser tempat.

__ADS_1


Gila ini orang atau monster! batin Brian.


__ADS_2