
Malam hari Reyanza bangun, ia merasakan tangannya ada yang menggenggam, Reyanza melihat ke arah tangannya yang ternyata sedang di pegang oleh seorang wanita cantik, rambut hitam panjangnya menutupi sebagian wajahnya, hidungnya terlihat mancung, Reyanza merasakan tangannya yang basah, Nona Asmara tidur dengan kepalanya ia letakkan di ranjang pasien dan mendekatkan tangan Reyanza hingga membuat tangan Reyanza basah kejatuhan air matanya.
Siapa dia, aku merasa tidak asing, tetapi aku tidak mengingat siapa dia, batin Reyanza, masih melihat ke arah Nona Asmara.
Cukup lama Reyanza terdiam seraya memikirkan yang tengah terjadi pada dirinya, namun ia sama sekali tidak bisa mengingat.
Mereka semua manggil aku dengan nama Reyanza, apa mungkin itu namaku, tapi kenapa aku sama sekali tidak ingat siapa diriku, bahkan nama-nama mereka aku juga tidak ingat, gumam Reyanza dalam hati.
Reyanza melihat lagi ke arah Nona Asmara, Reyanza tidak menarik tangannya tetap membiarkan di pegang Nona Asmara.
Aku juga merasa tenang di dekatnya, siapa dia, bahkan aku bisa melihat dia begitu sedih dan rapuh melihat keadaanku sekarang, batin Reyanza terus bertanya sendiri.
Nona Asmara dan keluarga memang belum menjelaskan satu per satu pada Reyanza, karena tadi pria itu terus pingsan dan baru sekarang sadarkan diri, jadi Reyanza belum tahu siapa Nona Asmara, dan siapa ibu kandungnya.
Reyanza ahirnya memejamkan matanya dengan posisi kepalanya mengarah ke Nona Asmara.
__ADS_1
Malam terlewati, dan pagi pun tiba.
Nona Asmara bangun tidur dengan tatapan sendu melihat pria yang dicintainya yang tertidur.
Meski Reyanza sudah sadar, tapi pria itu lupa akan dirinya, lupa namanya, bahkan status hubungannya.
Mengingat semua itu Nona Asmara kembali bersedih, matanya yang sembap karena menangis semalaman kini tampak jelas, meski wajahnya tetap terlihat cantik walau sehabis bangun tidur, tidak merubah sedikit pun.
Tangan satunya Nona Asmara mengusap punggung tangan Reyanza yang Nona Asmara genggam saat ini.
Nona Asmara bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah kamar mandi.
Nona Asmara masuk ke dalam kamar mandi, Reyanza melihat pintu kamar mandi di tutup, ternyata sedari tadi Reyanza sudah bangun, jadi ia juga tahu saat tadi Nona Asmara menangis dan mencium punggung tangannya.
Aku jadi merasa bersalah dengan dia, tapi mau seberusaha apa pun aku untuk mengingat, aku pun juga tidak ingat siapa dia, batin Reyanza dengan terus menatap pintu kamar mandi.
__ADS_1
Reyanza kembali pura-pura memejamkan matanya saat pintu kamar mandi di buka oleh Nona Asmara.
Nona Asmara berjalan menuju meja, melihat ke arah Reyanza yang masih tidur, Nona Asmara meminum air putih.
Kemudian pintu ada yang membuka dari luar. Nona Asmara menoleh ternyata Ibu Meta datang, Nona Asmara melihat arlojinya waktu masih pukul tujuh pagi.
"Sayang, Ibu bawakan kamu sarapan, dimakan, ya." Ibu meta mengajak Nona Asmara untuk duduk, lalu Ibu meta membuka kotak bekal sarapan, aroma wangi nasi goreng udang langsung tercium.
Nona Asmara memakan sarapannya.
Glek.
Reyanza menelan ludah, aroma wangi nasi goreng tercium juga olehnya, dan seketika ingin juga memakannya.
Reyanza melirik ke arah Nona Asmara yang terlihat sedang menikmati sarapannya.
__ADS_1