Presdir Cantik Milik CEO

Presdir Cantik Milik CEO
S2. Merindukan.


__ADS_3

Di rumah sakit.


Nona Asmara menjaga Reyanza, saat ini sore hari, saatnya Reyanza dimandikan. Nona Asmara mengelap tubuh Reyanza, air matanya yang terus mengalir karena Reyanza belum sadar juga dari komanya.


Setelah semua selesai, Nona Asmara duduk di samping ranjang, memegang tangan Reyanza dan selalu mengajak bicara, supaya Reyanza segera merespon dan sembuh.


"Rey, aku kangen saat saat kita bersama, kamu yang selalu membuat suasana ceria, tapi kini kamu sedang berbaring dan belum mau membuka mata." Nona Asmara kembali menangis pilu hingga tanpa suara.


"Aku sangat merindukanmu, sangat Rey. Apa kamu mendengar suaraku, bila iya aku mohon segeralah membuka mata, apa kamu tidak lelah, apa kamu tidak capek terpejam terus." Nona Asmara menatap wajah Reyanza dengan menangis, entah harus gimana lagi Nona Asmara tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


Lebih baik diarahkan dengan masalah lain, dari pada harus melihat keluarganya yang sakit.


Ibu Meta datang, ia membawa baju ganti untuk Nona Asmara, Ibu Meta mengantikan Nona Asmara untuk menjaga Reyanza.


Nona Asmara mandi lebih dulu, selesai mandi Nona Asmara diminta untuk makan karena wanita cantik itu sejak siang belum makan, bila tidak diingatkan juga tidak makan, peristiwa ini benar-benar memukul perasaan Nona Asmara.

__ADS_1


Tiba malam hari, Ibu Elisa datang, kini hanya sendiri, karena Reza ditinggal kasian bila malam-malam harus diajak.


Dan tidak lama dari kedatangan Ibu Elisa, tiba-tiba datanglah wanita cantik yang tersenyum ramah kesemua orang.


"Klara, kamu datang juga, Nak." Ibu Elisa memeluk Klara.


"Pastilah Tante, aku juga ingin menjenguk, Rey." Klara melihat Reyanza yang berbaring di ranjang, juga melihat wanita cantik yang menggenggam tangan Reyanza, sangat cantik istri Kak Rey gumam Klara.


"Bagaiman keadaan Kak Rey, Tante."


"Klara berdoa semoga Kak Rey segera sembuh, Tante." Klara menggenggam tangan Ibu Elisa.


"Terimakasih, Nak." Ibu Elisa tersenyum ke arah Klara.


Hah! Brian Brian, tanpa ditanya, cukup dilihat saja, istri Kak Rey sangat mencintai Suaminya, sepertinya cintamu salah alamat! pria aneh harus nya menerima cintaku yang masih singgel malah mencintai wanita yang sudah bersuami. Dasar Brian aneh!

__ADS_1


Padahal di sini Klara yang lebih aneh, sudah cintanya di tolak tapi tetap saja mau mengejar, dan berandai-andai suatu saat cintanya akan diterima.


Ah! Klara bangunlah dari mimpimu! umpat Klara kesal pada dirinya sendiri.


Klara mendekati ranjang Reyanza yang sebelah, ia ingin berbicara sesuatu yang siapa tahu, Reyanza mau merespon.


"Oh, ayo lah Kak Rey, bangun dan buka mata Kak Rey, di sini ada Klara sepupu Kak Rey yang paling cantik dan tidak ada tandingannya," ucap Klara menggebu memuji dirinya sendiri dan malah membuat orang-orang sekitar menahan tawa.


Nona Asmara yang mulai dari hari Reyanza kecelakaan menangis terus, kini sedikit menarik sudut bibirnya, sedikit sampai tidak terlihat.


"Dan apa Kak Rey ingat, dulu waktu kita masih kecil, Kak Rey pernah menangkap belut di sawah, waktu kita liburan di Bandung, hahaha, saat itu Kak Rey lucu sekali tubuhnya kotor penuh lumpur."


Hahaha!


Semua orang di ruangan tersebut memandang Klara yang tertawa, seraya menggelengkan kepala, tingkah Klara memang tidak berubah dari dulu tetap menggemaskan dan lucu pikir Ibu Elisa.

__ADS_1


__ADS_2