
Tepat pukul sembilan malam, Nona Asmara dan Reyanza tiba di rumah.
Berjalan mau langsung ke arah kamarnya.
"Mommy ... Daddy!" teriak Reza seraya berlari menghampiri, tadi ia sudah tidur, namun entah mengapa tiba-tiba bangun lalu membuka pintu kamarnya dan melihat Mommy dan Deddy angkatnya sudah ada di rumah.
"Hei jagoan Daddy mengapa belum bobok." Reyanza meraih tubuh kecil Reza untuk ia gendong seraya mencium pipi gembul Reza.
Nona Asmara langsung menuju kamar, untuk membersihkan tubuhnya.
Reyanza membawa Reza ke ruang tengah. Reza seperti mencari-cari sesuatu.
"Daddy, di mana adek bayi?" bertanya dengan tatapan sangat menginginkan yang ia pikir sebuah mainan.
Kening Reyanza berkerut. "Adek bayi, kata siapa?"
"Oma bilang, nanti Mommy dan Daddy pulang akan membawa adek bayi."
Reyanza menepuk jidatnya, merasa benar-benar kelakuan ibunya, sudah membuat dirinya harus melewati pertanyaan konyol Reza.
"Daddy, di mana adek bayi," rengek Reza seraya mau menangis.
__ADS_1
"Adek bayi, tidak ada sayang."
Jawaban Reyanza seketika langsung membuat Reza menangis, adek bayi yang ia anggap seperti mainan tidak di belikan oleh Daddy nya.
Dalam hati Reyanza ia akan membuat pertanggung jawaban ibunya, Reza masih menangis tidak mau ditenangkan, pengasuh datang mencoba menenangkan tapi juga tidak mau diam tangisnya.
Nona Asmara yang sudah selesai mandi, saat mau menuju dapur malah melihat Reza yang menangis kencang.
Ia menghampiri Reza, lalu menggendongnya, seketika Reza langsung tenang, tangisnya terdengar tinggal sesenggukan saja.
"Ada apa, hem? Reza mau apa?" tanya Nona Asmara dengan lembut.
Nona Asmara menoleh ke arah Reyanza yang malah tertawa.
Nona Asmara juga merasa bingung, harus menjawab apa, bisa-bisanya pemicu Reza menangis adalah persoalan tersebut.
"Sayang." Nona Asmara baru mau menjelaskan, namun Reza sudah kembali menangis kencang.
Nona Asmara menatap Reyanza dengan tatapan bingung, bagaiman ini tatapan matanya bertanya pada Reyanza.
Cukup lama Nona Asmara dan yang lainnya menenangkan Reza, dengan janji-janji besok akan dibawakan adek bayi, entah hingga jam berapa ahirnya Reza tertidur, Nona Asmara dan Reyanza sudah sangat lelah.
__ADS_1
Reyanza yang belum sempat mandi dari tadi, kini ia mandi lebih dulu.
Nona Asmara sudah tertidur di bawah selimut, karena merasa lelah dan sangat mengantuk.
Tidak berselang lama, Reyanza selesai mandi, setelah memakai celana, ia ikut menyusul sembunyi di dalam selimut tebal, dengan memeluk tubuh Nona Asmara.
Pagi hari.
Di rumah utama masih drama tangis Reza yang kembali teringat keinginannya, Reyanza yang tidak ingin di pusingkan oleh perbuatan Ibunya, ia ahirnya menghubungi Ibu Elisa untuk datang ke rumahnya.
Nona Asmara sudah berpakaian rapih, ia langsung turun ke bawah, menyantap sarapan yang dibuatkan oleh pelayan untuknya.
Reyanza hari ini akan berangkat agak siangan karena menunggu ibunya datang, ia tidak mau pusing sendiri dengan ulah Ibunya, ibunya juga harus merasakan pusingnya juga pikirannya.
Sementara Reza belum mau di sentuh oleh siapapun, masih menangis dengan berteriak-teriak, bila ada yang mendekatinya, Reza langsung menjerit tidak mau di sentuh.
Nona Asmara berangkat kerja bersama Asisten Zaki, karena Reyanza mau mengurus Reza, jadi tidak bisa mengantar.
"Hati-hati, kabari aku segera bila ada sesuatu," ucapnya, setelah Reyanza mencium kening Nona Asmara.
Mengecup bibir Nona Asmara sekilas, lalu merelakan wanitanya pergi.
__ADS_1