
Suara-suara burung berkicau saling bersahut-sahutan menandakan sudah tiba waktu pagi. Mata hari sudah mulai menampakkan diri walau masih tampak malu-malu.
Di dalam sebuah ruang kamar yang luas, tampak dua sosok yang masih nyaman di bawah selimut tebalnya.
Reyanza mengukir senyum tatkala melihat wajah cantik yang masih terlelap dengan memeluk tubuhnya.
Wajah cantiknya ditenggelamkan di dada bidang Reyanza yang tanpa baju, seperti mendapatkan kenyamanan hingga tidak ingin untuk bangun tidur, padahal bukan kebiasaannya bangun lebih setengah tujuh, baginya itu udah kesiangan.
Reyanza tidak membangunkan karena hari ini adalah ahir pekan.
Reyanza menyelipkan anak rambut yang menutup sebagian wajah Nona Asmara ke belakang telinga.
Jemarinya menelusuri pipi mulus Nona Asmara dan pandangannya beralih pada warna merah di leher Nona Asmara.
"Mahakaryaku." Setelah bergumam Reyanza kembali mengecup sedikit lama hingga membuat Nona Asmara mengeliat.
"egh." Mata Nona Asmara masih terpejam hanya bergerak sedikit memperbaiki kenyamanannya.
__ADS_1
Dia benar-benar seperti kelinci sangat mengemaskan dan hal inilah yang membuat aku tidak tega memaksanya. Aaaaa walau adik kecilku sangat menginginkannya. Batin Reyanza.
Reyanza perlahan melepas tangan Nona Asmara yang melingkar di tubuhnya, dan setelah itu ia beranjak bangun dari tempat tidurnya lalu menuju kamar mandi untuk berbesih.
Dan setelah Reyanza selesai mandi ia menengok ke arah ranjang yang ternyata Tuan putrinya masih terlelap.
Setelah berpakaian santai rumahan, Reyanza meraih handphonenya yang ternyata ada pesan masuk dari ibu mertua yaitu Ibu Meta.
Ibu Meta yang sudah tiba di rumah baru milik putrinya, ia sengaja berkunjung pagi-pagi sekali untuk membicarakan hal penting.
Padahal waktu masih menunjukan pukul delapan pagi.
Reyanza terus berbicara dengan batinnya selama dari keluar kamar hingga masuk lift. Bertanya-tanya sendiri tentang mengapa Ibu Meta berkunjung pagi-pagi sekali.
Ibu Meta langsung berdiri ketika melihat lift di rumah Reyanza terbuka dan menampilkan sosok pria yang tampan berwajah segar berseri tampak habis mandi, rambut hitamnya tersisir rapih, mengunakan setelan rumahan dengan kaos putih melekat pas di badan dan celana jeans hitam panjang selutut.
Bulu-bulu halus sedikit menghias wajah tampannya, bibir yang merah alami langsung menarik garis lengkung ketika mendengar sapaan dari Ibu mertuanya.
__ADS_1
"Rey ..."
Reyanza mendekati Ibu Meta lalu mencium punggung tangan mertuanya.
Setelah keduanya duduk manis di ruang tengah dan pelayan sudah memberikan minum kini Ibu Meta memulai membuka suara untuk membicarakan hal yang telah membawanya datang ke mari.
Ibu meta menatap Reyanza dengan tatapan memohon, Reyanza yang melihat itu semua semakin bertanya-tanya.
Apa gue berbuat kesalahan ya, perasaan gue sudah berhati-hati menjaga Istriku. Batin Reyanza.
Reyanza menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Rey, Ibu minta tolong yang sabar ya dalam menghadapai Asmara ... Ibu tahu betul sikap putri Ibu itu seperti apa."
Ibu menghela nafas panjang menjeda ucapannya. "Ibu tahu kalian pasti belum melakukan malam pertama." Ibu Meta menarik nafas panjang lagi.
"Jangan dipaksa ... Ibu hanya minta tolong jangan sakiti dia apa pun itu." Ibu Meta meraih tangan Reyanza, ia benar-benar memohon.
__ADS_1
Reyanza langsung tidak enak hati. "Ibu jangan seperti ini ... aku sangat mencintai Asmara, aku tidak akan pernah menyakitinya."