Presdir Cantik Milik CEO

Presdir Cantik Milik CEO
S2. Ngambek.


__ADS_3

Reyanza masuk ke dalam rumah dengan gontai, karena kekenyangan hingga rasanya malas untuk berjalan.


Nona Asmara tertawa sedari tadi melihat Reyanza yang kekenyangan.


"Sayang, biar kita samaan." Nona Asmara bergelayut di lengan kokoh Reyanza. Reyanza menoleh kini melihat senyum di wajah cantik Nona Asmara.


"Tetap saja ini menyiksaku."


Seketika Nona Asmara menjauhkan diri, wajahnya berubah kesal, Reyanza langsung gelagapan seraya mau menyentuh lengan Nona Asmara, namun langsung di tepis, Nona Asmara langsung berjalan masuk ke dalam kamar.


"Hah, dia ngambek," gumam Reyanza seraya menggaruk kepalanya. Ikut melangkah masuk ke dalam, Reyanza duduk istirahat di sofa ruang keluarga.


Reyanza tiduran di sofa, baru mau memejamkan mata, tiba-tiba ada panggilan telepon dari Ibu Elisa.


"Rey, apa kalian sudah makan, buat makan malam," ucap Ibu Elisa di seberang sana.


Reyanza menghela nafas panjang, jelas-jelas waktu masih sore ditanya sudah makan malam, gerutu kesal Reyanza.


"Rey, kamu dengar, Ibu."


"Iya belum," sarkas cepat Reyanza, menempelkan handphone dekat telinga dengan malas, rasa kantuk begitu menyerang.

__ADS_1


"Baiklah, nanti malam ibu datang."


Reyanza sudah tidak mendengar suara ibunya, karena sudah tertidur.


"Halo, halo!" ucap Ibu Elisa lagi saat tidak mendapat jawaban dari Reyanza, kemudian menajamkan pendengaran, Ibu Elisa sedikit mendengar dengkuran halus Reyanza, kini tahu bila Reyanza tertidur.


Di sebrang sana, Ibu Elisa menggelengkan kepala. "Bisa-bisanya anak ini." Ibu Elisa meletakan lagi handphonenya, kemudian bersiap masak untuk dibawa ke rumah Reyanza.


Tepat pukul tujuh malam, Reyanza bangun tidur, menghela nafas kemudian berjalan menuju kamarnya.


Sampai di depan pintu kamar, Reyanza belum memutar handel pintu, ia masih berpikir cara untuk membujuk Nona Asmara, karena saat ini sedang ngambek padanya.


Terkadang berpikir sendiri, apakah semua ibu hamil seperti itu, Reyanza jadi teringat Ibunya yang ketika dulu mengandung dirinya.


"Apa dulu ayah sama seperti aku yang dikerjai ibu," gumam Reyanza terkekeh. Memutar handel pintu, melirik Nona Asmara yang sedang tidur di atas ranjang terbungkus selimut tebal.


Reyanza senyum-senyum berjalan mendekati Nona Asmara.


Mengintip wajah Nona Asmara yang ternyata tidak sedang tidur, bibirnya mayun ke depan, Reyanza berasa ingin menggigit.


Reyanza berjongkok untuk bisa lebih leluasa menatap wajah Nona Asmara.

__ADS_1


"Sayang, maaf kan aku." Wajah Reyanza memelas. Nona Asmara tidak bergeming.


"Sayang, jangan ngambek dong, aku rindu kamu, Sayang." Reyanza ingin berusaha menggenggam tangan Nona Asmara, namun segera di tepis, Nona Asmara pindah posisi tidur, kini menjadi membelakangi Reyanza.


Reyanza membuang nafas kasar seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung mau membujuk seperti apa lagi.


Reyanza ikut naik ke atas ranjang dan ingin memeluk Nona Asmara dari belakang, namun siapa sangka Nona Asmara balik badan dan mendorong tubuh Reyanza tanpa sengaja dengan keras.


Brukk!


Ahhww! pekik Reyanza saat merasakan pantatnya sakit mencium lantai.


Nona Asmara baru sadar karena sudah keterlaluan, kemudian turun dari ranjang mendekati Reyanza.


"Sayang, kamu tidak apa-apa! maafkan aku." Nona Asmara panik sambil melihat-lihat punggung Reyanza yang bila sakit.


Reyanza membelai rambut Nona Asmara seraya tersenyum manis lalu menggelengkan kepalanya.


"Maafkan aku." Nona Asmara memeluk Reyanza. Ia pun membalasnya seraya mengeratkan pelukannya.


Ingin sekali aku mengerjai mengaduh sakit di tubuhku tapi aku tidak tega, aku maafkan karena kamu saat ini memelukku.

__ADS_1


__ADS_2