
Nona Asmara sudah dalam berada di ruang CEO yang bernama Brian.
Sekertaris Zaki menunggu di luar sesuai perintah Nona Asmara.
"Duduklah apa kau tidak lelah," ucap Brian seraya menjatuhkan tubuhnya di sofa.
Nona Asmara tersenyum sinis. "Tidak usah basa-basi, apa tujuanmu melakukan itu semua!" Kini beralih menatap tajam pria yang saat ini tersenyum ke arahnya.
"Jawaban aku sudah pasti." Brian berdiri sedikit mendekati Nona Asmara. "Menginginkanmu."
Nona Asmara langsung berdecih seraya menatap sinis ke arah Brian, pria gila menurutnya. "Tidak semudah itu, Tuan Brian yang terhormat." Nona Asmara menekan setiap katanya. "Saya pastikan Anda yang akan menyesal." Tunjuk Nona Asmara di wajah Brian dengan kilatan amarah di wajahnya seraya balik badan dan ingin berjalan ke luar.
"Dan mari kita saksikan, siapa yang paling membutuhkan." Brian menyeringai.
Nona Asmara mengepalkan tangannya tanpa menoleh ke arah belakang, ia kembali melanjutkan langkahnya pergi dari ruangan tersebut.
Sekertaris Zaki mengikuti langkah Nona Asmara yang berjalan menuju lift.
Lift membawa keduanya sampai di lobby perusahaan, Nona Asmara dan Seketaris Zaki berjalan menuju parkiran mobil.
Dalam perjalanan wajah Nona Asmara terlihat masih marah, Sekertaris Zaki tetap fokus mengemudi tanpa mau mencampuri urusan Nona Asmara, meski ia sudah tahu perihal permasalahannya.
Setelah lama diam, ahirnya Nona Asmara bersuara, "Zak, panggilkan dokter Yasmine."
"Baik, Nona."
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit, mobil sudah sampai di gedung Lion Group.
Semua karyawannya menunduk saat Nona Asmara lewat bersama Sekertaris Zaki.
Setelah menunggu selama satu jam, Dokter Yasmine tiba.
Dokter Yasmine langsung duduk di sofa, tanpa mendapat ijin lebih dahulu, karena Nona Asmara masih sibuk mengecek beberapa berkas di tangannya, tadi hanya melirik sekilas.
Dokter Yasmine hampir merasa mengantuk saat dirinya sudah di suruh cepat-cepat datang, ternyata saat sampai malah di buat menunggu.
Nona Asmara langsung bangkit berdiri menuju sofa, duduk di sebelah Dokter Yasmine seraya bersandar.
"Aku lihat kamu lelah sekali."
Hemm.
Hemm.
"Apakah menyenangkan?"
Hemm.
Dokter Yasmine kepalanya merasa sudah ke luar asap saat berbicara dengan Nona Asmara yang hanya dijawab dengan hem-hem saja.
Dokter Yasmine akhirnya mengecek darah Nona Asmara, bibirnya komat-kamit mengatakan tidak sakit tapi pake main periksa-periksaan.
__ADS_1
"Aku mau obat."
Obat apa sih! sakit juga enggak, oceh Dokter Yasmine dalam hati.
Nona Asmara membuka mata, yang tadi sempat terpejam menenangkan pikirannya.
Nona Asmara mendekatkan wajahnya ke telinga Dokter Yasmine. "Aku mau pro mil." Tersenyum geli seraya menjauh.
Hahaha!
Dokter Yasmine tertawa, entah apa yang membuatnya tertawa, tapi rasanya ingin tertawa, tanpa sadar sedang menertawai siapa. Yang seketika tawanya hilang saat melihat sorot mata tajam Nona Asmara.
Apa sih dia tidak jelas, benar-benar tidak bisa diajak becanda, Dokter Yasmine menutup mulutnya yang habis tertawa.
Yang membuat Dokter Yasmine tertawa jelas ada, baru saja mereka pulang dari bulan madu, tapi sudah minta pro mil, bukankah terlalu kecepatan pikir Dokter Yasmine.
Namun karena tidak ingin di amuk oleh Nona Asmara, Dokter Yasmine tetap memberikan apa yang diminta Nona Asmara.
Untuk saat ini ia belum membawa obat herbal nya, tapi berjanji akan segera mengirim ke rumah Nona Asmara, janjinya sebelum ke luar dari ruangan Nona Asmara.
Hari sudah semakin sore, Nona Asmara pulang yang di antar oleh Sekertaris Zaki.
Sampai rumah, rumah tampak sepi, bertanya pada salah satu pelayan yang menjawab Reza belum pulang masih bermain di tempat ibu Elisa.
Nona Asmara memilih menuju kamar untuk beristirahat.
__ADS_1