Presdir Cantik Milik CEO

Presdir Cantik Milik CEO
S2. Rencana bulan madu.


__ADS_3

Mendengar kabar menantu kesayangannya sakit, Ibu Elisa langsung mendatangi rumah Reyanza.


Ibu Elisa ke luar mobil lalu berjalan menuju pintu utama, tangan satunya membawa buah, dan tangan satunya lagi menenteng tas branded miliknya.


Berjalan anggun hingga sampai di teras mendengar suara yang sangat familiar.


"Oma ..." Reza yang sedang bermain di ruang utama, langsung berteriak memanggil Omanya saat melihat Ibu Elisa datang.


"Cucu Oma yang tampan." Ibu Elisa langsung menggendong Reza, saat Anak kecil itu berlari ke arahnya, seraya membawanya berjalan masuk rumah.


Pengasuh Reza mengambil alih buah yang dibawa Ibu Elisa, dan membawanya ke dapur.


Reyanza ke luar dari lift mendatangi Ibunya, saat salah satu pelayan memberitahunya bahwa Ibu Elisa sudah tiba.


"Ibu?"


"Ah, putraku."


Reyanza berjalan mendekati Ibunya, Ibu Elisa mendudukkan Reza di kursi, lalu ia menerima Reyanza yang mencium punggung tangannya.


"Bagaiman keadaan istrimu?" tanya Ibu Elisa dengan perasaan cemas campur khawatir, kini keduanya sudah duduk di sofa.


"Sudah membaik, Bu. Tadi juga sudah diperiksa sama Dokter."

__ADS_1


Mendengar jawaban Reyanza, hati Ibu Elisa sedikit tenang, menghela nafas pelan seraya bersandar di kursi sofa.


Pelayan datang mengantar teh hangat. Reza sesekali menjahili Omanya dengan menarik-narik baju Ibu Elisa. Dan malah tertawa menggemaskan saat ditatap tajam Ibu Elisa.


Ibu Elisa teringat tujuannya berkunjung ke rumah Reyanza, selain ia ingin menengok keadaan Nona Asmara, Ibu Elisa juga memiliki tujuan lain.


"Rey, kapan kamu mengajak Nona Asmara untuk bulan madu?"


Deg!


Nona Asmara yang saat ini sudah berjalan ke arah keduanya seketika terkejut mendengar pertanyaan Ibu Mertuanya, meski itu sebenarnya adalah hal yang wajar.


Sementara Reyanza hanya terkekeh, karena di dalam pikirannya tidak pernah terfikir lebih tepatnya belum membahas bulan madu.


Ibu Elisa yang melihat Reyanza hanya terkekeh, ia merasa kesal dan dengan keras ia memukulnya menggunakan tangan.


"Ibu?"


"Kenapa ke luar, Nak. Bukannya kamu sedang sakit." Ibu Elisa mengusap lengan Nona Asmara.


Nona Asmara menggelengkan kepalanya dan tersenyum, Reyanza mengulurkan tangannya meraih Nona Asmara untuk duduk di sebelahnya.


"Kenapa ke luar," Reyanza berbisik di telinga Nona Asmara.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku ingin ketemu Ibu." Nona Asmara membalas berbisik juga.


"Bagaimana, Rey?"


Pertanyaan Ibunya kembali membuat Reyanza langsung menatap Nona Asmara, wajah cantik yang hari ini terlihat pucat.


"Ibu meminta kita untuk bulan madu, apakah kamu mau?"


"Bulan madu." Nona Asmara mengulang seolah terkejut, padahal tadi ia sudah mendengar.


Nona Asmara mau menjawab, namun lebih dulu Ibu Elisa yang berucap.


"Benar, Nak. Kalian harus bulan madu, putra ibu yang keterlaluan, tidak mau mengajak istrinya bulan madu." Ibu Elisa kembali memukul Reyanza.


"Ah, Ibu sakit." Reyanza mengusap lengannya yang baru di pukul Ibu Elisa menggunakan tangan.


"Sakit, ini sakit, hah hah!" Ibu Elisa semakin banyak memukuli Reyanza, Reyanza meringis kesakitan namun bercampur tawa.


Nona Asmara tersenyum seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ibu dan Anak yang dari dulu tidak pernah berubah, interaksi keduanya bagaikan sesama teman.


Ibu Elisa baru mau berhenti memukuli Reyanza, setelah Reyanza mengatakan iya yang Ibu Elisa minta.


"Iya, Ibu. Kami akan bulan madu, kapan sayang?" Reyanza balik bertanya pada Nona Asmara, dalam hatinya ingin menjahili istrinya, pasti terlihat lucu melihat wajah bingungnya.

__ADS_1


"Haha, kapan. Ya?" Nona Asmara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dalam hatinya jujur bila ditanya beginian ia malah bingung karena tidak ingin untuk ke luar ke mana pun.


Melihat Anak dan Menantunya sama saja, membuat Ibu Elisa membuang nafas kasar. "Dua Minggu ke depan kalian silahkan pergi bulan madu."


__ADS_2