Presdir Cantik Milik CEO

Presdir Cantik Milik CEO
S2. Hadiah berharga bagi Reyanza.


__ADS_3

Seperti yang di ucapkan Nona Asmara, setelah sepuluh menit berada di dalam bak mandi, ia akan ke luar.


Reyanza duduk di tepi ranjang melihat Nona Asmara yang berjalan tertatih menuju meja rias.


Sebagai jiwa yang sangat mencintai wanitanya, Reyanza merasa bersalah, tapi mau gimana lagi sudah terjadi, memang resiko awal seperti itu.


Reyanza berdiri lalu meraih hairdryer yang di pegang Nona Asmara.


"Kemarikan, kamu duduklah." Reyanza membawa Nona Asmara untuk duduk membelakangi kaca, kini Nona Asmara bisa melihat ranjang yang tadi malam telah menjadi saksi bisu.


Reyanza sudah mulai mengeringkan rambut Nona Asmara, mata Nona Asmara menemukan ada yang beda dengan ranjangnya.


"Seprainya sudah diganti?"


"Sudah, aku yang meminta," jawab singkat Reyanza seraya memilah-milah rambut supaya cepat kering.


"Lalu seprai yang lama?"

__ADS_1


Waduh mengapa tidak menunggu aku, pastinya kan banyak bercak darah, aku kan jadi malu, ucap Nona Asmara dalam hati.


Reyanza yang mendengar Nona Asmara menghela nafa panjang, ia kembali bersuara.


"Seprai yang lama sudah aku amankan, dan sudah aku beli, baru saja aku mentransfer administrasinya sebagai ganti."


Nona Asmara langsung menatap Reyanza dengan terkejut, untuk apa kamu membelinya begitu arti keterkejutan yang Reyanza terima.


"Aku akan menyimpan seprai itu, itu adalah hadiah berharga bagiku." Reyanza menjawab secara gamblang tanpa mau menutup-nutupi keinginannya.


Selesai mengeringkan rambut Nona Asmara, gantian Reyanza yang saat ini mandi.


Nona Asmara menggunakan pakaian biasa yang tidak terlalu mewah, namun digunakan wanita seperti dirinya meski pakaian tidak berkelas akan tetap terlihat berkelas.


Nona Asmara melihat tampilannya di cermin, ia tersenyum seraya menyentuh kepang kecil di samping telinganya. "Hah, dia memang lucu," gumamnya melihat tiga kepang kecil di rambutnya.


Nona Asrama meraih handphonenya yang sejak semalam belum ia hidupkan kembali.

__ADS_1


Duduk di tepi ranjang, seraya menghidupkan handphone, tiga panggilan tidak terjawab dari Sekertaris Zaki dan empat pesan masuk dari Sekertaris Zaki juga.


Membaca pesan masuk dari Sekertaris Zaki, seketika wajahnya berubah marah, dan langsung menghubungi sekertarisnya.


"Zak, tolong kamu berhati-hati dalam menangani masalah ini, hari ini saya akan pulang ke Indonesia," ucapnya setelah sambungan telepon di angkat oleh Sekertaris Zaki, dan langsung mendapat jawaban siap dari Sekertaris Zaki.


Reyanza yang baru ke luar dari kamar mandi, ia menatap khawatir wajah Nona Asmara yang saat ini terlihat gelisah berdiri seraya memegang handphonenya.


Reyanza berjalan mendekat, lalu memegang bahu Nona Asmara. "Ada apa?" tanyanya penuh khawatir.


Nona Asmara menatap Reyanza yang saat ini menatap dirinya dengan sorot mata yang penuh khawatir. "Kita harus kembali ke Indonesia sekarang, Lion Group sedang ada masalah," ucapnya yang langsung mendapat anggukan mengerti oleh Reyanza.


"Maaf, sudah merusak waktu libur kita."


Reyanza meletakkan jari telunjuknya di bibir Nona Asmara, supaya wanitanya tidak perlu minta maaf pada dirinya, namun mata Nona Asmara malah berkaca-kaca rasa ingin menangis, dengan gerakan cepat Reyanza menarik Nona Asmara masuk ke dalam pelukannya.


Reyanza mengusap rambut Nona Asmara, sementara Nona Asmara hanya terharu dengan sikap suaminya yang selalu mengerti kemauan dirinya, padahal rencana liburan ini akan banyk tempat yang akan di kunjungi tapi semua gagal karena persoalan masalah besar yang kini sedang menimpa Lion Group.

__ADS_1


__ADS_2