
Setelah acara selesai, Nona Asmara langsung kembali ke perusahaan, kamera wartawan memotret mengiringi langkah Nona Asmara hingga sampai di dekat mobilnya.
Senyum manis yang menawan tertangkap kamera sebelum Nona Asmara masuk ke dalam mobil.
Para wartawan masih sempat ada yang mengambil foto mobil Nona Asmara hingga menjauh, Nona Asmara bersandar pada sandaran kursi mobil, bibirnya terus mengulas senyum ingin rasanya segera pulang dan bertemu Reyanza.
Di tempat lain.
Reyanza berkali-kali membasuh wajahnya di kamar mandi, kadang juga mencubit pipinya sendiri, merasa belum percaya dan menganggap semua yang tadi ia lihat di TV itu hanya mimpi.
Ucapan kata cinta Nona Asmara untuk dirinya masih teringat di pikiran Reyanza.
Namun saat merasakan sakit di pipinya, Reyanza menghela nafas yang ternyata ini adalah nyata. Reyanza meraih tisu untuk mengelap wajahnya yang basah, lalu ke luar kamar mandi dan berjalan menuju sofa.
Reyanza berjalan ke meja kerjanya untuk segera menyelesaikan pekerjaannya hari ini.
Di tempat lain.
"Apa kamu sudah menjalankan tugas?" tanya pria ber jas hitam yang berdiri di depan pria suruhannya.
"Sudah, Tuan."
"Bagus, segera pergi dan tinggalkan kota ini." Pria itu memberi amplop coklat berisikan uang.
__ADS_1
"Baik, Tuan." Pria itu langsung pergi bersama teman-temannya yang lain.
Sementara pria yang tadi membayar orang suruhan langsung tertawa kencang, rencananya akan segera di mulai.
Tawa yang tadi kencang kini berubah hilang lenyap tanpa bekas, wajahnya berubah dingin dengan sorot mata setajam elang.
Pria itu pergi dari tempat tersebut, menggunakan kaca mata hitam lalu masuk ke dalam mobil.
Gedung Lion Group.
Nona Asmara dan Seketaris Zaki baru saja sampai di perusahaan.
Salah satu karyawannya meminta ijin untuk masuk, dan setelah Nona Asmara ijinkan. Karyawan itu memberitahu tentang masalah perusahaan yang saat ini tengah di hadapi.
Masalah tentang harga jual dan keuntungan yang tidak seberapa, karena bahan produksi yang memang lagi naik.
Meeting tersebut berlangsung selama dua jam, setelah mendapatkan solusinya, akan berganti ke produk lain.
Nona Asmara kembali ke ruang kerjanya, merasa kepalanya pusing tiba-tiba.
Meraih handphonenya yang ternyata ada beberapa panggilan telepon dari Reyanza.
Nona Asmara tersenyum lalu mencoba balik menghubungi Reyanza, tetapi tidak terangkat.
__ADS_1
Ahirnya Nona Asmara memilih untuk tidur sejenak melepas rasa lelah hari ini.
Di tempat lain.
Reyanza juga baru saja selesai melakukan rapat di perusahaannya.
Hari ini ingin menjemput Nona Asmara secara diam-diam, tidak ingin memberitahu bahwa ia akan ke sana.
Meski Reyanza melihat panggilan telepon tidak terjawab dari Nona Asmara, tapi tidak mau menelpon balik, karena ingin memberi kejutan.
Tiba sore hari.
Reyanza yang sudah menyelesaikan pekerjaannya langsung ke luar perusahaan untuk menemui Nona Asmara.
Mobil ke luar dari area parkir, menghidupkan musik untuk memberi suasana menyenangkan.
Mengendarai mobil membelah jalanan kota yang padat, karena bersamaan yang lain pulang kerja juga.
Nona Asmara yang ingin mau segera pulang, jadi di urungkan karena pekerjaannya tiba-tiba masih banyak, Sekertaris Zaki masuk ke ruangannya dengan memberikan beberapa file yang harus ia tanda tangani.
"Apa, Nona. Mau mengerjakannya sekarang?"
Hemm.
__ADS_1
Sekertaris Zaki ke luar, dan menunggu di luar, memastikan Nona Asmara pulang baru dirinya pulang.