
Pagi hari, kegaduhan di rumah baru terjadi, saat Reyanza memanggil semua pelayan mengatakan Nona Asmara sakit.
Dan bila sudah seperti ini para pelayan di sibukkan karena harus melakukan ini dan itu.
Kamar utama.
Informasi yang diterima para pelayan tidak seperti yang sebenarnya terjadi, karena Nona Asmara hanya merasa hangat tubuhnya dan sedikit pusing, tapi kepanikan Reyanza sudah mengudang kehebohan seluruh pelayan rumah.
"Sayang, aku hanya demam biasa, mengapa kamu memanggil pelayan sebanyak itu, untuk apa?" Nona Asmara menunjuk pelayan yang masuk kamar utama, ada yang membawa ember kecil, kain kompres, dan kotak obat.
Nona Asmara memegang lengan Reyanza yang menatap dirinya penuh khawatir.
"Aku bawa ke Dokter, ya, iya?" Wajah Reyanza sudah sangat panik, ia pikir sekali kompres panas akan turun dan mendapati belum turun hatinya kembali cemas.
Nona Asmara menggelengkan kepalanya bertanda tidak perlu. "Aku ingin mandi."
Mendengar Nona Asmara ingin mandi, Reyanza langsung menggendong membawa ke kamar mandi.
"Sayang, aku bisa sendiri." Tolak Nona Asmara, namun telat karena Reyanza sudah lebih dulu mengangkat tubuhnya dan membawanya menuju kamar mandi.
Sampai di kamar mandi, Reyanza mendudukkan Nona Asmara, sementara dirinya mengisi air bathtub dan mencampurnya dengan sedikit aroma terapi.
__ADS_1
Setelah air sudah siap Nona Asmara ingin langsung mandi, namun begitu terkejut saat Reyanza membantunya membuka piyama tidur.
"Hub, Sayang aku bisa mandi sendiri, kamu bisa ke luar sekarang." Nona Asmara menahan tangan Reyanza, namun malah mendapatkan wajah kecewa.
Hah! dia tidak marah kan? Saat Nona Asmara masih berkubang dalam pikirannya, tiba-tiba tubuhnya langsung diangkat dan masuk di dalam bathtub.
Nona Asmara merasakan tubuhnya polos yang entah sejak kapan bajunya lepas dari badannya.
"Aku akan memandikanmu," berbisik lembut di telinga Nona Asmara.
Rasa malu karena tidak terbiasa itu pasti, tetapi untungnya busa-busa di dalam bathtub menutupi tubuh polosnya.
"Yang."
Nona Asmara menoleh melihat wajah suaminya yang saat ini sedang menggosok punggungnya.
"Ini sudah jam berapa? nanti kamu telat masuk kantor." Mencari topik yang tepat sapa tau Reyanza mau terus pergi, namun jawaban yang Nona Asmara dapat tidak tepat. membuat hatinya kecewa.
"Aku akan di rumah menjagamu." Pandangannya masih fokus menggosok punggung Nona Asmara.
"Tapi aku kan-," ucapannya langsung dibungkam dengan bibir Reyanza, menyesapnya sebentar lalu ia sedikit menjauh.
__ADS_1
Yang mendapat ciuman tiba-tiba langsung merasa jantungnya tidak waras, Nona Asmara memegangi dadanya.
Reyanza meletakkan baju handuk. "Aku tunggu di luar, jangan lama-lama." Mencium pipi, kemudian berjalan ke luar.
Untung dia tidak segila tadi, yang tiba-tiba melepas baju ku dan membawa aku ke bak mandi. Gumamnya seraya keluar dari bak mandi lalu mengguyur tubuhnya di bawah air shower.
Di luar kama mandi, pelayan masuk membawakan makanan bubur serta minuman anget.
Meletakkan makanan di meja yang ada di ruang kamar tersebut. "Tuan, dokter Jasmine sudah ada di bawah," ucapnya sebelum beranjak pergi.
"Perintahkan dia untuk segera naik ke kamar utama." Reyanza masih sibuk menata kamar supaya lebih nyaman buat nanti Nona Asmara bersandar.
Nona Asmara ke luar kamar mandi. "Sayang," ucapnya seraya berjalan mendekati almari tempat pakaian ganti.
Reyanza menoleh, wangi aroma sampo menyeruak seisi ruangan, Reyanza mendekati Nona Asmara lalu memeluknya dari belakang, mengecup bahu polos Nona Asmara, yang di kecup bahunya merasa geli.
"Sayang."
Aaaaaa!
Dokter Yasmine yang baru masuk kamar utama, tanpa sengaja menjerit saat disuguhi pemandangan yang romantis bak di flem Korea yang sering ia tonton, balik badan dan menutup mata.
__ADS_1
Tadi diminta langsung naik ke atas, giliran sampai sini, hah! apa mereka mau pamer sama yang jomblo seperti aku. Asmara kalo mau balas dendam kejahilanku waktu itu jangan seperti ini dong. Batin Dokter Yasmine