Presdir Cantik Milik CEO

Presdir Cantik Milik CEO
S2. Kenapa Daddy


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Reyanza kini sudah sampai di depan bangunan mewah.


Tangannya mengeklik remote kecil yang ia bawa dalam waktu bersamaan gerbang rumah terbuka secara otomatis.


Reyanza menurunkan kaca mobilnya setengah lalu melajukan mobilnya lagi untuk masuk ke pelataran rumah.


Sekertaris Zaki yang sampai lebih dulu di kediaman rumah Nona Asmara yang baru. Ia langsung mendekati mobil Reyanza yang tengah berhenti lalu membukakan pintu mobil untuk Nona Asmara.


Mulai tampak kaki melangkah keluar mobil lalu berdiri tepat di depan Sekertaris Zaki. "Bawa bubur sumsum yang aku beli ke kantor ... bagikan ke siapa saja yang mau." Nona Asmara melepas kaca mata hitamnya.


Sekertaris Zaki mengangguk mengerti lalu berjalan kearah bagasi dan mengambil bubur sumsum.


Namun tiba-tiba ada yang menoel sikut tangannya. "Kau!" Reyanza menunjuk wajah dan menatap tajam. "Jangan bersitatap dengan istriku terlalu lama." Matanya melotot.


Sekertaris Zaki hanya mengangguk tidak ada niat mau meladeni suami bosnya yang menurut nya tidak pentin.


Reyanza bersungut-sungut kearah Sekertaris Zaki sebelum ahirnya ia mendekati Nona Asmara yang sudah berdiri di depan pintu.


"Maaf ya bila rumah yang aku belikan mungkin kecil dan kurang bagus." Reyanza bersuara setelah berada di depan Nona Asmara.


"Tidak masalah." Tersenyum kecil.


Lalu keduanya masuk ke dalam dengan tangan reyanza melingkar di pinggang Nona Asmara.

__ADS_1


Nona Asmara yang sudah terbiasa melihat kemewahan mungkin membuat ia tidak sebegitu antusias dengan kemewahan yang terdapat di rumah barunya.


Karena yang ia inginkan bukan dimanjakan dengan kemewahan tapi sosok yang perhatian yang mencintai dengan tulus.


Kini keduanya sudah sampai di ruang tengah.


"Duduklah ... tunggu aku." Reyanza mendudukkan Nona Asmara lalu ia berjalan kearah dapur.


Nona Asmara mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan, dan seketika bibirnya langsung menggambar senyum manis ketika matanya bertemu sebuah foto pernikahan yang luar biasa besar seukuran layar bioskop.


Masih asyik memandangi foto pernikahannya tiba-tiba mendengar sebuah suara dentingan botol.


Reyanza duduk di samping Nona Asmara, dengan membawa dua botol minuman, Reyanza membuka tutup salah satu botol minuman tersebut lalu memberikannya kepada Nona Asmara.


Nona Asmara menerimanya lalu meneguk minuman botol tersebut.


"Rasa jambu kesukaanmu." Jemari tangan Reyanza mengusap sudut bibir Nona Asmara yang basah.


"Aku mau istirahat."


Keduanya kini berjalan menuju kamar, namun Nona Asmara sedikit mengerutkan keningnya saat tetap berjalan lurus tidak menaiki tangga.


"Kata kamu kamar utama berada di atas." Menolah kearah Reyanza, kini Nona Asmara dapat menghirup aroma wangi leher suaminya.

__ADS_1


Bersamaan itu ada sebuah kamar terbuka.


Nona Asmara menoleh ke depan. "Lift."


"Untukmu supaya tidak capek." Mencium pipi Nona Asmara lalu membawanya masuk ke dalam lift.


Keduanya sudah sampai dalam kamar.


Lagi-lagi Nona Asmara dibuat tersenyum geli ketika mendapati foto pernikahan yang berjejer di dinding. Foto-foto dengan ekspresi wajah super lucu ada yang menyebik, melotot, menjulurkan lidahnya dan masih banyk ekspresi lainnya.


"Kenapa foto yang seperti." Nona Asmara pura-pura kesal.


"Wah ini keren ... cobalah lihat lebih lama, kita akan tersenyum ketika hati kita sedang galau." Reyanza mengarahkan tubuh Nona Asmara untuk menatap foto kembali.


Pukul tujuh malam.


Malam ini ada jamuan makan malam di rumah orang tua Reyanza.


Dan keduanya kini sudah tiba. Namun saat menarik kursi dan mau duduk tiba-tiba terdengar suara panggilan dari anak kecil.


"Daddy ...."


Seketika Nona Asmara menoleh kearah sumber suara dengan kening berkerut, dan semakin tidak mengerti ketika suaminya lah yang dipanggil Daddy.

__ADS_1


Reyanza tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya dan segera menangkap tubuh kecil yang berlari ke arahnya.


__ADS_2