
Sementara Reyanza yang melajukan mobil sambil bersenandung, langsung menginjak pedal rem namum terlambat karena mobil truk lebih dulu menabraknya.
Mobil yang di kendarai Reyanza harus berguling-guling beberapa kali hingga beberapa meter dari tempat kejadian tabrakan.
Mobil dengan posisi sekarang terbalik, para orang-orang sekitar langsung mendekat untuk melihat korban jiwa, sementara truk tadi sudah melarikan diri.
Reyanza di keluarkan dari dalam mobil dalam keadaan tidak sadarkan diri, serta kakinya yang tadi juga sempat terhimpit.
Reyanza diamankan dan tidak lama setelah Reyanza di keluarkan mobil itu pun meledak tidak tersisa.
Menunggu beberapa saat, ahirnya mobil ambulan datang, Reyanza langsung di bawa ke rumah sakit.
Di tempat lain.
Ibu Elisa yang sedang memegang gelas mau minum, tiba-tiba gelasnya jatuh dan belum sempat meminum.
Ibu Elisa langsung memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri, entah mengapa pikirannya teringat Reyanza.
"Oma ..." teriak Reza saat melihat Omanya memegangi dadanya.
"Oma, kenapa?" tanya Reza, kini memegangi ujung baju Ibu Elisa.
__ADS_1
Ibu Elisa menggelengkan kepalanya, seraya membawa Reza duduk di pangkuannya, perasaanya masih tidak enak.
"Nyonya, tidak apa-apa?" tanya pengasuh Reza yang tiba-tiba datang, begitu khawatir saat melihat wajah Ibu Elisa yang seperti ketakutan sambil memeluk Reza.
"Oma, tadi jatuhin gelas." Tunjuk Reza pada gelas pecah, pengasuh Reza langsung membersihkan pecahan gelas itu.
Tidak lama dari itu, ada suara telepon rumah berbunyi, pengasuh Reza mengangkat dan langsung kaget saat tahu telepon dari pihak rumah sakit yang mengatakan saudara Reyanza kecelakaan dan saat ini di rawat di rumah sakit.
"Siapa?" tanya Ibu Elisa pada pengasuh.
Dengan perasaan takut, pengasuh menyampaikan, "Tuan Muda kecelakaan, Nyonya."
Deg!
"Oma, jangan nais." Reza mengusap air mata Ibu Elisa dengan matanya yang ikut berkaca-kaca.
"Oma," ucapnya lagi dan langsung memeluk Ibu Elisa.
Pengasuh mengguncang bahu Ibu Elisa untuk menyadarkannya, Ibu Elisa menatap pengasuh dan langsung meminta untuk segera diantar ke rumah sakit.
Ibu Elisa bersama yang lain langsung menuju rumah sakit dengan diantar sopir.
__ADS_1
Sementara Nona Asmara yang lagi berjalan ke arah mobil, tiba-tiba gelang pemberian Reyanza yang melingkar di tangannya itu putus.
"Nona." Sekertaris Zaki menoleh dan melihat arah mata Nona Asmara yang melihat ke bawah.
Sekertaris Zaki mengambil gelang tersebut lalu memberikannya lagi untuk Nona Asmara.
"Rey," ucap lirih, namun Seketaris Zaki masih mampu mendengar.
"Nona, baik-baik saja?" tanyanya saat melihat Nona Asmara terlihat tampak cemas.
Nona Asmara langsung menatap Sekertaris Zaki. "Telfon Reyanza sekarang!"
Sekertaris Zaki langsung melakukan perintah Nona Asmara, namun hingga beberapa panggilan sambungan telepon tidak terjawab.
Sekertaris Zaki menggelengkan kepalanya saat di tatap Nona Asmara. Nona Asmara menghela nafas berkali-kali entah mengapa dadanya terasa sesak.
Saat Nona Asmara mau masuk ke dalam mobil tiba-tiba ada telepon masuk.
Deg!
Suara sambungan telepon masih ada, namun handphone yang di pegang Nona Asmara jatuh ke bawah, Sekertaris Zaki mengambil handphone tersebut dan mendengarkan penjelasan dari seseorang di seberang sana.
__ADS_1
Sekertaris Zaki menyimpan handphone Nona Asmara, dan membantu Nona Asmara untuk masuk ke dalam mobil.
Di dalam perjalanan mobil, Nona Asmara hanya bisa menangis.