
Malam hari setelah selesai makan malam.
Nona Asmara dan Reyanza berjalan menuju kamar seraya memeluk pinggang Nona Asmara dengan mesra.
Reza sudah berjalan lebih dulu di gendong pengasuhnya, saat pintu kamar Reza mau di tutup, tangan mungilnya menahan pintu itu, pengasuh mengalah membiarkan yang diinginkan Tuan Mudanya.
Nona Asmara dan Reyanza menoleh bersamaan saat suara Reza memanggil.
"Mommy. Daddy, Leja bobok dulu ya. Muach." Reza memberi kiss bay, tersenyum dan melambaikan tangan.
Nona Asmara dan Reyanza membalas lambaian tangan Reza. "Mimpi indah, Sayang."
Pintu kamar Reza tertutup rapat, pengasuh membawa Reza masuk ke dalam dan menidurkan anak kecil itu.
Nona Asmara dan Reyanza kembali melangkahkan kakinya menuju kamar.
...****************...
Keduanya saat ini sedang di atas ranjang, sudah berganti pakaian piyama tidur.
Nona Asmara berbaring dengan segala pikiran yang diucapkan oleh Dokter Yasmin.
__ADS_1
Reyanza bersandar di sandaran ranjang tangannya masih sibuk membalas chat dengan asistennya, Reyanza melirik Nona Asmara sekilas, yang terlihat gelisah.
Reyanza menyelesaikan hal yang ia sedang bahas dengan asistennya, lalu menaruh handphone itu di atas meja sampingnya.
Reyanza mengambil posisi ternyaman dan langsung melingkarkan tangannya di perut Nona Asmara, yang saat ini posisi telentang menatap langit-langit atap kamar.
Deg!
Bulu kudu Nona Asmara merasa meremang saat merasakan bibir Reyanza mengecup lehernya.
Tangan kekar Reyanza semakin menarik pinggangnya hingga membuat sangat dekat dengan tubuhnya.
Satu kaki Reyanza di atas paha Nona Asmara, Reyanza mengangkat kepalanya, lalu ia gunakan tangannya sebagai penyanggah kepala, posisinya yang miring kini ia menatap wajah cantik istrinya, menunduk mencium sekilas bibir Nona Asmara.
Dengan perlahan jemari lentik Nona Asmara menyentuh wajah Reyanza, mengusap pelan dan seraya menyibakkan rambutnya Reyanza ke belakang.
Tatapan misteri dari mata Reyanza, membuat jantung Nona Asmara sekita semakin berdegup kencang.
Ahh, sayang.
Reyanza mencium bibir Nona Asmara, ciuman yang menuntut dalam beberapa waktu, Reyanza menggigit kecil telinga Nona Asmara dengan gemas seraya berbisik, "Jangan menggodaku, aku takut pertahananku lepas."
__ADS_1
Reyanza beralih telentang, Nona Asmara memiringkan tubuhnya menatap Reyanza.
Mata itu mulai terpejam, tapi sepertinya pemiliknya belum tidur, Nona Asmara mencoba buka suara, "Apa kamu tidak merasa gimna gitu, mengingat kita belum mela-."
"Melakukan." Reyanza memotong cepat, kini merubah posisi tidur menjadi menyamping mengarah Nona Asmara.
Tangan Reyanza terulur mengusap rambut Nona Asmara, mengecup dalam kening Nona Asmara, kini saling menatap. "Ayo tidur sekarang, atau aku akan menerkammu."
Aaaaaaa!
Jerit Nona Asmara saat Reyanza menggelitik pinggannya.
Terdengar gelak tawa yang bahagia dari bibir keduanya, rasa bahagia ketika bisa memeluk orang yang dicintai, bisa tidur sambil menatap, dan tersenyum.
Memberi dan menerima kehangatan, seolah dunia hanya milik berdua.
"Aku hanya meminta waktu sebentar lagi, tolong bersabar, aku sedang mempersiapkan diri untuk menjadi istrimu seutuhnya."
"Dan aku menunggu waktu itu tiba, jangan salahkan bila aku membuatmu tidak bisa berjalan, hahaha."
Plak!
__ADS_1
Nona Asmara langsung memukul lengan Reyanza, saat pria itu malah tertawa di ahir kalimat yang membuat pipinya langsung merah merona.
Suara-suara jam didinding berputar, memberi musik pada seseorang yang sedang tidur di bawah selimut tebal.