
Setelah sepeninggal nya reyanza dari apartemen nya Laura tampak frustasi ia menjambak rambut nya sendiri
ahhhhh sreeeeekkkk teriak nya seraya menarik taplak meja rias nya hingga membuat barang-barang di atas meja rias nya terjatuh semua
kamar yang tadi nya rapi kini sudah berubah seratus delapan puluh derajat lebih seperti kapal pecah
kegiatan nya terhenti saat mendengar ponsel nya berdering
"nona misi nya sudah berhasil , dan kemungkinan target sudah berada dalam rencana" penjelasan dari seseorang yang terdengar dari sambungan telepon setelah telepon nya Laura angkat
ha haha hahaha
tawa nya menggelar ke seluruh ruangan setelah
mendengar kabar seperti yang Laura ingin kan, wajah yang tadi nya murung dengan tatapan kebencian terhadap wanita yang disebut oleh seseorang tersebut
hati nya begitu senang karena berhasil mencelakai nona Asmara
namun sepercikan detik dirinya kembali menangis , menangis karena telah putus hubungan dengan seseorang yang sangat Laura cintai
"jika aku tidak bisa memiliki mu maka wanita manapun juga tidak akan bisa bersanding dengan mu" tangan nya terkepal dengan ekspresi tak terbaca
di tempat lain
" ayo pa ayo Rey cepat " tangan nya sambil membuka pintu mobil
__ADS_1
"huhu kenapa ini bisa terjadi, huhu" ibu Elisa menangis sambil tangan nya menghapus air mata nya
"awas kau siapa aja yang mencoba mencelakai calon menantu ku " tangan nya meragakan meremat-remat seolah pelaku pembunuhan berada di depan nya dengan wajah Bu Elisa yang marah
"kau akan aku uleg-uleg " tangan nya meragakan seperti orang menguleg cabe namun setelah itu Bu Elisa mengelap ingus nya yang keluar
benar-benar tingkah yang membuat pak Edy geleng-geleng kepala
"ibu bisa tidak jangan berisik , aku sedang fokus menyetir ini" protes reyanza yang merasa terganggu dengan ocehan ibu nya yang tidak jelas
di rumah sakit
"ayo are" ibu meta menggandeng tangan area seraya berlari menyusuri koridor rumah sakit
langkah nya terhenti di depan resepsionis
" Asmara putri pradika" ucap area
"baik tunggu sebentar ya Bu" ucap ramah suster
" pasien atas nama Asmara putri pradika, masih berada di ruang UGD Bu , masih dalam penangan pertama, silakan ibu lurus aja , UGD kamar 03" seraya tangan nya menunjuk arah ruangan
area dan ibu meta langsung berlari dan menunggu dokter keluar dari dalam ruang tersebut
tidak lama kemudian setelah ibu meta dan area sampai , keluar pak Edy juga sampai
__ADS_1
"metaa" ucap Bu Elisa seraya memeluk Bu meta yang sedang terpukul atas kabar kecelakaan putri nya
di tempat lain setelah kabar berita di stasiun TV nona Asmara yang mengalami kecelakaan
para masyarakat di negara ini merasa sangat sedih begitu sangat di sayangkan
ada yang memaki-maki pelaku nya dengan seolah-olah pelaku nya ada di hadapan mereka
[semoga ada keajaiban]
[semoga nyawa Presdir Ter selamatkan]
[ pelaku durjanam semoga segera tertangkap ]
dan masih banyak lagi doa-doa baik untuk nona Asmara
di rumah sakit
pintu ruang UGD terbuka menampakkan seorang wanita berjas putih berkaca mata bening
Bu meta melangkah maju meraih tangan dokter wanita itu
" dokter putri saya baik-baik saja kan iya kan dokter!" bibir nya bergetar karena takut
sang dokter menatap ibu yang memegang tangan nya memandang penuh iba , ia begitu tau rasa nya di posisi ini
__ADS_1
"dia,,"