Presdir Cantik Milik CEO

Presdir Cantik Milik CEO
S2. Amnesia


__ADS_3

"Rey ..." Nona Asmara menciumi punggung tangan Reyanza dengan sangat bahagia, tanpa ia sadari tingkahnya itu diperhatikan oleh Reyanza yang menatap Nona Asmara dengan bingung.


"Siapa aku?"


Mendengar kalimat yang Reyanza ucapakan, Nona Asmara langsung menghentikan menciumi punggung tangan Reyanza, perlahan menatap wajah Reyanza. Sorot mata yang penuh tanda tanya.


"Siapa aku," ulang Nona Asmara dengan bingung, Reyanza mengangguk. Nona Asmara mencoba memikirkan kalimat yang Reyanza ucapakan dan ...


Deg!


Nona Asmara langsung melepas genggaman tangannya dan mundur beberapa langkah seraya menggelengkan kepalanya.


Tidak, ini tidak mungkin, tidak mungkin, batin Nona Asmara menolak pemikiran yang tiba-tiba melintas di pikirannya.


Nona Asmara kembali mendekati Reyanza, dan menyentuh pundak Reyanza. "Rey, kamu ingat aku, kan."


Reyanza menggelengkan kepalanya dan menurunkan tangan Nona Asmara yang memegang pundaknya. "Aku tidak kenal siapa kamu, memang kamu siapa?"


Deg!


Nona Asmara menangis menutup mulutnya yang menggangga karena terkejut, Nona Asmara menggelengkan kepalanya menolak kenyataan.


"Dan siapa aku?"


Lagi-lagi Nona Asmara tidak bisa berkata-kata mendengar kalimat pertanyaan dari Reyanza, air matanya semakin deras membasahi pipi. Nona Asmara terduduk di kursi tiba-tiba tubuhnya terasa lemas, bahkan tidak sanggup hanya sekedar membalas pertanyaan Reyanza.

__ADS_1


"Sayang! Asmara ..." Ibu meta dan Ibu Elisa berteriak bersamaan saat tiba-tiba melihat Nona Asmara yang mau terjatuh dari duduknya.


"Asmara, Nak. Bangun!" Ibu Meta menangkap tubuh Nona Asmara dan menepuk pelan pipi Nona Asmara.


"Saya panggil dokter sebentar," ucap Ibu Elisa yang kemudian langsung berjalan ke luar.


Reyanza yang tiba-tiba melihat Nona Asmara pingsan ada perasaan sedih di hatinya, namun ia tidak mengingat apa pun.


Arrgghh!


Reyanza memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit.


"Rey, Rey kamu kenapa?" Ibu Meta panik, mendapatkan Nona Asmara yang pingsan, dan sekarang mendapati Reyanza yang berteriak memegangi kepalanya.


Arghhhh!


Reyanza memegangi kepalanya dan sesekali memukul kepalanya sendiri.


Dokter dan suster datang, Dokter langsung memeriksa keadaan Reyanza dan memberikan obat penenang.


Suster membantu Nona Asmara untuk dibawa ke ruangan yang lain.


Ibu Meta menemani Nona Asmara, sementara Ibu Elisa menunggu hasil dari pemeriksaan dari Dokter.


Setelah menunggu beberapa menit, Dokter ke luar, wajahnya tampak serius dan langsung membuat Ibu Elisa semakin khawatir.

__ADS_1


"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" Ibu Elisa bertanya dengan menangis.


"Putra Ibu mengalami amnesia sementara."


Deg!


Ibu Elisa menggelengkan kepalanya, tidak percaya bahwa ini akan terjadi.


Ibu Elisa membuka pintu dan melihat Reyanza yang saat ini berbaring di atas ranjang, kaki Ibu Elisa terasa berat untuk melangkah, air matanya sudah membasahi pipi, merasa sedih dengan keadaan putranya.


"Rey ..." Ibu Elisa mengulurkan tangannya mencoba meraih ranjang pasien, untuk menopang tubuhnya yang tiba-tiba terasa lemas.


Di ruang lain.


Nona Asmara sudah sadarkan diri, saat ini sedang menangis di pelukan Ibu Meta, Ibu Meta mengusap rambut Nona Asmara untuk menenangkan wanita cantik itu.


"Ibu, Rey lupa ingatan," ucap Nona Asmara dengan suaranya yang begitu terdengar sedih.


"Rey, pasti akan sembuh." Ibu Meta juga merasa sedih dengan keadaan ini.


Ibu Meta membantu Nona Asmara yang ingin bertemu Reyanza.


Membuka pelan pintu ruang rawat Reyanza, kini Nona Asmara melihat Ibu Elisa sedang menangis di samping Reyanza.


"Rey," ucap Nona Asmara lirih.

__ADS_1


__ADS_2