
Saat kedua pria masih berdiri berhadapan adu tenaga, yang satu mempertahankan posisi supaya orang di depannya tidak bisa menyentuh Nonanya, yang satunya berusaha menyingkirkan pria yang berdiri tak bergeming.
Ehem.
Brian dan Sekertaris Zaki seketika menoleh kearah dehheman, yang ternyata Nona Asmara sudah berdiri di dekat mereka berdua.
Brian dan Nona Asmara saling menatap, tatapan keduanya saling mengunci, Sekertaris Zaki melihat bergantian antara Brian dan Nona Asmara.
Nona Asmara membuat gerakan tangan, yang artinya Sekertaris Zaki harus pergi sebentar, masih dengan terus menatap lekat wajah Brian, Nona Asmara berjalan mendekati, kini berdiri tepat dihadapan Brian, hanya jarak beberapa jengkal.
Sekertaris Zaki masuk ke dalam mobil, mengawasi Nona Asmara dari dalam sana.
"Asmara."
"Aku ... aku bahagia hari ini bisa bertemu kamu, Asmara aku," ucap Brian lagi seraya ingin mendekat untuk memeluk Nona Asmara, namun dengan cepat Nona Asmara membuat gerakan tangan stop.
Brian tetap berdiri di posisinya, dengan sorot mata, yang mampu Nona Asmara lihat, rindu penuh damba.
__ADS_1
Tapi Nona Asmara benci tatapan itu, ia tidak suka ada pria lain yang menatapnya penuh cinta selain suaminya Reyanza.
Ah Reyanza, kini Nona Asmara jadi teringat nama pria yang dicintainya yang beberapa hari ini menguras air matanya.
Apakah Reyanza baik-baik saja hari ini? apakah sudah sarapan? apakah sudah minum obat? semua itu ada dipertanyaan kepala Nona Asmara.
Sejenak Nona Asmara memutus pandangan mata Brian dengan menoleh ke arah Sekertaris Zaki yang ada di dalam mobil, kemudian menatap Brian lagi. "Aku sudah menikah, tolong biarkan aku bahagia, tolong jangan ganggu aku."
Deg! Mendengar ucapan Nona Asmara, Brian sampai mundur ke belakang dua langkah, rasanya sakit melihat Nona Asmara sampai berkata tolong, Brian masih diam belum bisa berkata-kata lagi, hingga dua kali Brian harus mendengar ucapan Nona Asmara yang menusuk hati.
"Aku tidak memasukan kamu ke dalam penjara, karena dulu kita pernah berteman di SMA. Jika di bilang sakit tentu aku sakit." Nona Asmara menunjuk dadanya.
Brian sampai terkejut, bahkan tidak kuasa melihat Nona Asmara yang sampai menangis seperti itu.
"Aku mohon ... kamu jangan menangis." Brian rasanya ingin menghapus air mata itu.
"Tidak usah khawatir, ini tidak seberapa dengan hari kemarin, di saat aku menyaksikan suamiku berbaring lemah di rumah sakit." Nona Asmara tersenyum senis tanpa menghapus air matanya.
__ADS_1
Lagi-lagi Brian tertampar oleh perkataan Nona Asmara, sungguh bukan seperti ini yang Brian inginkan, bila segini saja sudah membuat ku tidak sanggup, bagaimana kemarin bila aku menyaksikan kerapuhannya batin Brian.
Brian mundur dua langkah lagi seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
Arghhhh!
Brian berbalik kini ia menghadap mobilnya sendiri, menyesali kebodohannya, niat hati ingin mendapatkan wanita yang ia cintai, tapi malah melihat wanita itu bersedih.
Tidak bisa, ini tidak bisa pikir Brian, Brian membuang nafas berkali-kali untuk menenangkan dirinya.
Merasa sudah tidak ada yang mau dibicarakan, Nona Asmara berbalik, berjalan menuju mobil, namun belum sampai Nona Asmara membuka pintu mobil, lebih dulu mendengar suara Brian.
"Maafkan aku ... aku tidak akan mengganggumu lagi."
Hening. Sampai beberapa detik.
Waktu seolah berhenti, mendengar ucapan Brian dengan sorot mata kosong, Nona Asmara berdiam sesat, kemudian menatap Brian. Dan mengangguk kecil.
__ADS_1
Brian tersenyum, melambaikan tangan ke arah mobil Nona Asmara, yang ia lihat semakin berjalan menjauh.