Presdir Cantik Milik CEO

Presdir Cantik Milik CEO
S2. Kepanikan seluruh keluarga


__ADS_3

Ibu Elisa, pengasuh Reza, dan Reza. Sudah berada di rumah sakit, menunggu di depan ruangan Reyanza yang sedang ditangani.


Ibu Elisa menangis sambil memangku Reza, bocah kecil itu hanya diam namun wajahnya ikut bersedih mendapati Omanya yang menangis terus.


Nona Asmara langsung ke luar mobil, membuka mobil sendiri dan berjalan cepat masuk ke dalam.


Tidak lama dari Nona Asmara masuk ke dalam, Ibu Meta juga baru sampai di rumah sakit.


Ibu Meta masuk ke dalam bersama Sekertaris Zaki.


Nona Asmara berlari cepat untuk segera menemukan ruang yang merawat Reyanza, air matanya terus membanjiri pipinya, rasa ketakutan itu menghujam batinnya lagi, saat mengingat semua orang yang di sayangi meninggal karena kecelakaan.


Reza yang melihat Nona Asmara berlari ke arahnya langsung memanggil, "Mommy ..."


Nona Asmara berhenti lemas, saat ini ia telah berdiri di depan pintu, Nona Asmara mengatur nafasnya namun air matanya terus mengalir tanpa mau berhenti.


Melihat Momnya menangis, Reza jadi ikutan menangis, suara tangis Reza seketika menyadarkan Nona Asmara, kini ia melihat di tempat ini sudah ada Ibu Mertuanya dan juga pengasuh Reza, yang tadi tidak ia lihat karena dalam keadaan syok.

__ADS_1


Ibu Meta dan Sekertaris Zaki berjalan mendekat.


Ibu Meta memeluk Nona Asmara yang menangis, untuk menenangkan putrinya itu, bila dalam keadaan seperti ini Ibu Meta bahkan semua orang bisa melihat Nona Asmara begitu rapuh, kelemahannya adalah keluarga orang-orang yang di sayangi.


Bila ada yang terluka diantara mereka, Nona Asmara akan menyalahkan dirinya sendiri.


"Tenang, Nak. Semua pasti baik-baik saja."


Bersamaan Ibu Meta berhenti berucap, keluarlah seseorang berpakaian jas putih.


"Dokter!"


"Sayang!" teriak Ibu Meta, namun Nona Asmara sudah lebih cepat masuk ke dalam.


Dokter menjelaskan bahwa luka yang dialami Reyanza cukup parah, mendengar itu semua, Ibu Elisa dan Ibu Meta semakin bersedih.


Reyanza dipindah ke ruang rawat, Nona Asmara ikut mendampingi suster mendorong brangkar pasien. Semua orang juga ikut mengikuti.

__ADS_1


Sekertaris Zaki menerima sebuah notifikasi dari orang suruhannya. Kemudian ia pergi dari rumah sakit.


Saat ini hanya Nona Asmara yang diijinkan untuk masuk, karena tidak boleh sampai mengganggu Reyanza.


Nona Asmara memakai baju pasien warna hijau. Duduk di samping ranjang pasien, Nona Asmara memegangi tangan Reyanza, ia masih menangis pilu hingga tanpa suara.


Air matanya berlinang sampai membasahi tangan Reyanza, Nona Asmara belum bisa berkata-kata, lidahnya kelu, hanya air matanya yang menggambarkan kesedihannya.


Ibu Meta yang melihat dari luar, berdiri di dekat jendela, juga ikut menangis melihat putrinya di dalam sana yang terlihat begitu tampak rapuh.


Tangan satu milk Nona Asmara yang di bawah terkepal, ia akan membalas siapapun orang yang sudah mencelakai suaminya, akan membalas tanpa ampun, dan akan dia sendiri yang akan membalas.


Waktu Nona Asmara sudah selesai, kini berganti Ibu Elisa yang masuk ke dalam.


Ke luar dari ruangan itu Ibu Meta langsung memeluk Nona Asmara kembali, kali ini Nona Asmara sudah tidak menangis, ia akan berusaha kuat.


Di dalam ruang rawat, Ibu Elisa menangis tersedu-sedu melihat kondisi putranya, yang banyak sekali terpasang selang di tubuhnya.

__ADS_1


"Rey ... kau harus sembuh, Nak." Ibu Elisa duduk di samping ranjang dengan menangis pilu.


__ADS_2