
Reyanza yang merasa istrinya tengah lama berada di dalam kamar mandi, ia merasa khawatir dan Langsung mendekati ruang kamar mandi tersebut.
Tok tok.
"Sayang, sayang."
"Haduh, dia memanggil aku, bagaimana ini?" Nona Asmara merasa panik di dalam sana.
Tok tok.
"Sayang, apa kau sudah selesai?"
"Haduh, di ketok lagi ... hah, jantungku kenapa berdetak tidak karuan seperti ini sih!" Nona Asmara merasa bingung juga merasa kesal dengan detak jantungnya.
Nona Asmara tampak menarik nafas berkali-kali untuk menetralisir rasa gugupnya. "Hufff, tenang." Ia membuka pintu seraya menampakkan senyuman.
Tok.
"Awww." Nona Asmara mengusap keningnya yang terasa rumayan sakit.
"Maaf, aku tidak tahu kalo kau sudah mau membuka pintu." Reyanza mendekat selangkah lalu bergantian dirinya yang mengusap kening Nona Asmara.
Aku mohon jangan lebih dekat, nanti jantungku meledak. batin Nona Asmara.
Merasa tidak ingin berlama-lama di hadapan suaminya, karena rasa malu ahirnya Nona Asmara lebih memilih kembali ke ranjang lebih dulu.
"Aku ke sana duluan." Nona Asmara menunjuk ranjang, dengan suaranya yang terdengar gugup.
__ADS_1
Reyanza tersenyum tipis melihat Nona Asmara yang langsung berjalan cepat.
Lima belas menit kemudian.
kreekk.
Mendengar suara pintu terbuka, Nona Asmara yang tadinya sedang duduk di atas ranjang sambil membaca majalah, langsung ia letakkan dan menarik selimut hingga menutupi kepalanya. dengan posisi ia tidur miring.
Reyanza berjalan mendekati ranjang dengan handuk yang melilit di pinggang.
"Apa kamu sudah tidur?" Matanya terus menatap wanita yang telah menjadi istrinya baru beberapa detik yang lalu.
Reyanza beralih menatap AC di ruangan tersebut. "Apa AC nya terlalu dingin." Berjalan mengambil remote AC lalu mengurangi suhu ruangan.
"Kasihan dia kepanasan." Tersenyum seraya menatap Nona Asmara yang tidur di bawah selimut.
Dan setelah berganti baju piyama tidur, Reyanza menyibak selimut lalu berbaring di samping Nona Asmara.
"Kmu tahu, ini rasanya seperti mimpi." Mencium rambut Nona Asmara.
"Kamu tahu, aku sangat bahagia ... sangat." Melingkarkan tangannya di pinggang Nona Asmara.
Semakin mengeratkan pelukannya. "Kamu tahu kenapa? aku bisa sebahagia ini memilikimu ... karena kamu cinta pertama aku." Mencium aroma rambut Nona Asmara.
"Ada hal kebanggaan tersendiri ketika cinta pertama sekaligus menjadi cinta terakhir." Reyanza menghapus butir bening yang lolos melintas di pipinya.
"Dulu aku sempat mencarimu saat kau tiba-tiba menghilang ... dan aku pergi ke luar negeri untuk mengalihkan kesedihan." Mengingat kenangan di masa lalu.
__ADS_1
"Dan sekarang aku telah menemukan kamu ... dan kamu sekarang adalah istriku." Mencium bahu Nona Asmara.
"Aku sangat mencintaimu ... tidurlah yang nyenyak." Menyibak selimut yang menutupi kepala Nona Asmara, menatapnya beberapa detik lalu mencium kening.
"Tidurlah." Reyanza membaringkan tubuhnya lalu tidur dengan memeluk istrinya dari belakang.
Berbeda dengan wanita cantik yang saat ini sedang berada dalam pelukannya, ia menahan jantungnya yang berdegup kencang sedari tadi, dan merasakan hawa panas karena suhu ruangan di kecilkan.
Diam-diam merasa bersalah karena selama ini ia sempat meragukan ketulusan cinta yang dimiliki Reyanza.
Ternyata pria yang saat ini menjadi suaminya, dulu juga pernah terluka karena dirinya.
Pagi tiba.
Pukul tujuh pagi.
Nona Asmara bangun dari tidurnya. "Dimana dia?" Mengusap tempat tidur yang semalam suaminya tidur.
Nona Asmara menguap seraya menutup mulutnya.
Kreekk.
"Selamat pagi." Reyanza datang sambil membawa nampan berisikan sarapan pagi.
Nona Asmara tersenyum kearahnya.
Reyanza berjalan mendekati ranjang. "Sarapan pagi untuk Tuan putri." Lalu duduk di samping Nona Asmara.
__ADS_1