Presdir Cantik Milik CEO

Presdir Cantik Milik CEO
S2. Reyanza Posesif


__ADS_3

Empat hari berlalu.


Reyanza menjatuhkan tubuhnya di sofa setelah pulang dari joging. "Ahhhh."


Matanya menatap kamar mandi yang terdengar suara gemericikan air.


Dan tidak berselang lama, keluar wanita cantik yang sudah berpakaian lengkap.


Hanya rambutnya saja yang nampak terlihat masih basah.


"Sudah pulang?" sapa lembutnya.


Berjalan mendekati meja rias, lalu mengambil hair dryer.


"Eh, tunggu."


Sebuah suara menghentikan niatnya yang tadi mau langsung mengeringkan rambut.


Reyanza mengambil alih hair dryer itu. "Biar aku yang melakukannya ... kamu duduklah."


Nona Asmara tersenyum. "Kenapa kamu malah bermain salon-salonan." Terkekeh.


Tangannya bergerak-gerak masih asik mengeringkan rambut. "Apa aku terlihat seperti itu, hem."


Nona Asmara hanya terkekeh tanpa menjawab.


Dan setelah selesai mengeringkan rambut, kini gantian Reyanza yang mandi.

__ADS_1


Nona Asmara tampak memastikan barang-barang untuk tidak ada yang tertinggal, karena pagi ini rencana akan kembali ke rumah, setelah beberapa hari tinggal di hotel.


Setelah memastikan tidak ada lagi yang tertinggal, Nona Asmara menutup resleting kopernya.


Setelah beberapa saat, Reyanza keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang kuatnya.


Nona Asmara tampak berdiri membelakangi reyanza, tangannya masih sibuk menyiapkan pakaian untuk reyanza.


"Ok." Setelah merasa pakaian yang ia pilih tepat untuk suaminya.


Namun tiba-tiba wajahnya yang tadi bewarna putih pucat kini berubah menjadi bersemu merah, saat merasakan ada tangan kokoh yang melingkar di pinggangnya dan melabuhkan ciuman di bibirnya saat tanpa sengaja Nona Asmara menolah.


Kapan yaa lebih dari ini, batin Reyanza.


Nona Asmara mengerutkan keningnya, saat melihat tatapan yang aneh dari Reyanza.


"Kau bilang kita akan pacaran dulu." Mendorong dada bidang Reyanza seraya berkata ketus dan tanganya refleks menutup dadanya.


Reyanza tergelak tawa seraya berjalan mendekati pakaian ganti yang udah di siapkan.


"Hah, di luaran sana pacaran lebih dari itu ... Istriku yang polos," gumamnya dengan meraih kemeja lalu mengenakannya.


Sementara Nona Asmara sedang menunggu di luar saat melihat Reyanza sedang mau berpakaian.


ting.


"Perusahaan aman Nona." Isi pesan masuk.

__ADS_1


"Atur pertemuanku dengan Dokter Yasmin."


"Apa Nona sakit." Isi pesan masuk.


Yang ngirim pesan di sana sudah dilanda panik, takut Nona Asmara benar-benar sakit.


"Tidak usah banyak tanya ... kalo tidak mau potong gaji!"


Asisten Zaki langsung menelan salivanya dengan susah payah membaca pesan teks masuk dari Nona Asmara.


"Baik Nona."


Nona Asmara tersenyum membaca pesan teks masuk dari Asisten Zaki. Bersamaan itu Reyanza keluar dari kamar dan menarik kopernya.


Tersenyum manis kearah Nona Asmara lalu merengkuh pinggangnya dan mulai berjalan bersama.


Bibir merah alami milik Reyanza terus membentuk garis lengkung. Siapa pun yang melihat kearahnya pasti akan berkata tampan meski matanya sembunyi di balik kaca mata hitam.


Tangan kanannya menarik koper sedangkan tangan kirinya melingkar di pinggang Nona Asmara. Keduanya berjalan seromantis mungkin tak peduli orang lain mengatakan lebay.


Namun ternyata berbeda dengan yang dirasakan Nona Asmara. "Kita jalannya biasa aja ... malu dilihat banyak orang." Berbisik di telinga Reyanza.


Keduanya kini berhenti, Reyanza menatap sekeliling tempat loby, namun yang ia lihat adalah para laki-laki yang menatap kearahnya.


Reyanza bersungut. "Sudah tau milik orang lain masih aja di lihatin." Semakin mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Nona Asmara dan membawanya berjalan kembali.


Nona Asmara menggelengkan kepala melihat tingkah Reyanza yang posesif.

__ADS_1


"Mereka dan siapa pun laki-laki tidak akan ada yang berani mendekatiku." Menatap Reyanza setelah kini keduanya berada di dekat mobilnya.


"Kau tahukan siapa aku." Menatap dalam Bola mata suaminya seolah mencari rasa kepercayaan untuknya.


__ADS_2