
Anak kecil itu tertawa renyah berada di gendongan Reyanza. Hingga tawanya terhenti saat netra matanya menangkap sosok cantik yang ia lihat sebelumnya di sebuah foto.
"Mommy." Anak kecil itu meminta turun dari gendongan Reyanza, lalu berjalan mendekati Nona Asmara.
Nona Asmara masih terkejut dengan sebuah panggilan Mommy.
Mommy mengapa aku dipanggil Mommy, pikir Nona Asmara. Hingga ia kembali tersadar saat kedua kali mendengar sebuah panggilan yang sama, namun kali ini lebih seperti permintaan.
Anak kecil itu meraih tangan Nona Asmara. "Mommy, bolehkah leza panggil Nona cantik dengan sebutan Mommy.
Kali ini Nona Asmara mengenyampingkan segala pertanyaan yang ada di pikirannya, tentang siapa anak kecil tersebut ia bisa bertanya Reyanza nanti.
"Tentu boleh." Nona Asmara tersenyum lalu membawa tubuh anak kecil itu untuk duduk di pangkuannya.
"Benalkah ... leza ceneng banget, leza punya mommy cekalang." Tangan mungilnya bertepuk tangan gembira dengan senyum antusias.
Dan tentu ucapan anak kecil yang bernama Reza itu seketika semakin membuat Nona Asmara bertanya-tanya.
Anak kecil sekitar berusia empat tahun tiba-tiba datang lalu memanggilnya dengan sebutan Mommy. Berkali-kali Nona Asmara menggelengkan kepalanya. "Apa ada informasi yang aku lewatkan," gumamnya pelan.
Ya, Nona Asmara sudah mengetahui segala informasi tentang Reyanza, yang ia dapatkan dari sekertarisnya Zaki, yang secara diam-diam ia suruh untuk menyelidiki.
__ADS_1
Mengingat dirinya adalah wanita yang memiliki kekuasaan besar, sehingga bukan suatu hal yang sulit hanya untuk sekedar mendapatkan sebuah informasi.
Lagi-lagi Nona Asmara mengenyampingkan pertanyaan itu, lebih baik saat ini ia mengikuti kemauan anak kecil yang sedang duduk di pangkuannya.
Makan malam itu terlewati dengan Punuh canda tawa serta diiringi celoteh lucu dari Reza.
Keduanya kini berpamitan dengan kedua orang tuanya Reyanza, dan melambaikan tangan kearah mereka semua.
"Ati-ati Mommy, Daddy ..." teriak Reza yang sedang berada di gendongan susternya.
Nona Asmara dan Reyanza tersenyum kearah Reza dengan melambaikan tangannya, sebelum ahirnya mobil melaju meninggalkan kediaman orang tua Reyanza.
Nona Asmara memberi tatapan menyelidik ke arah Reyanza, bukan karen ia marah hanya saja tidak ingin dibohongi dan segera meminta penjelasan.
Kini Nona Asmara dengan posisi berdiri sedangkan Reyanza duduk di tepi ranjang.
Namun yang ditatap tajam hanya senyum-senyum tidak jelas.
"Kenapa sih, sayang ... aku takut melihat mata kamu yang mengerikan." Reyanza mencoba meraih tangan Nona Asmara dengan masih disertai senyum-senyum. Namun tangannya langsung ditepis oleh Nona Asmara.
Kali ini Nona Asmara merasa kesal karena Reyanza hanya terus bercanda dan tidak mau menjelaskan.
__ADS_1
"Baiklah aku pergi ..." Nona Asmara berbalik badan ia lebih milih tidur di kamar lain karena hatinya sedang kecewa, bagaimana tidak kecewa, menikah baru beberapa hari tapi suaminya sudah di panggil Daddy. Perlu bertanya-tanya siapa anak kecil itu.
Namun baru mau melangkah sebuah tangan kokoh sudah melingkar erat di pinggang Nona Asmara.
"Dia anak dari keponakan aku." Reyanza mengambil nafas dengan mengingat-ingat kejadian itu.
"Ibunya meninggal saat melahirkan, Reza ... dan ayahnya meninggal saat perjalanan akan menemui istrinya di rumah sakit, ia kecelakaan."
Deg.
Nona Asmara terkejut entah mengapa hatinya juga ikut merasakan kesedihan meski sudah terlambat mendengar ceritanya.
Seorang anak kecil yang harus kehilangan kedua orangtuanya bahkan belum sempat mengenal dengan cinta pertamanya itu.
Perlahan Nona Asmara membalikan tubuhnya hingga kini ia bisa melihat wajah suaminya.
"Itulah alasannya mengapa dia memanggil aku Daddy ..."
"Aku tidak mungkin punya istri lain selain dirimu sayang." Jelas Reyanza lagi seraya menggigit kecil telinga Nona Asmara.
"Rey." Lenguh Nona Asmara dengan suara sedikit tertahan saat merasakan bibir Reyanza kini beralih menyusuri leher jenjangnya. Tubuhnya seketika menegang seperti ada sengatan listrik.
__ADS_1