
Nona Asmara tidur sambil duduk, lengannya ia gunakan sebagai bantal, dan tangan kirinya menggenggam tangan Reyanza. Dalam keadaan tidur Nona Asmara tetap menangis terlihat ada air mata yang ke luar dari sudut matanya.
Ibu Meta masih berdiri di samping Nona Asmara, menatap putrinya dan beralih menatap menantunya Reyanza.
Ibu Meta menatap Nona Asmara yang saat ini sedang tidur dengan menggenggam tangan Reyanza, hatinya juga ikut sakit ketika menangkap ada cairan bening yang ke luar dari sudut mata putrinya.
"Yang sabar, Nak. Suamimu pasti akan segera sembuh." Ibu Meta mengulurkan tangannya menyentuh kepala Nona Asmara dan mengusapnya perlahan.
Pagi hari.
Pukul sepuluh pagi.
Sekertaris Zaki datang membawa beberapa file yang harus Nona Asmara tanda tangani.
"Perusahaan baik-baik saja, kan?" Nona Asmara bicara seraya sambil membubuhkan tanda tangan di file-file tersebut.
"Baik, Nona."
Hemm.
"Kemarin ada perusahaan yang ingin mengajukan kerja sama dengan Lion Group."
Mendengar ucapan Sekertaris Zaki, Nona Asmara menghentikan kegiatannya. Dan langsung menatap Sekertaris Zaki.
"Karena saya harus meminta persetujuan Nona lebih dahulu, jadi saya belum memberi jawaban."
"Perusahaan mana." Nona Asmara melipat kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
"Tree Company."
"Aku belum bisa menemui." Nona Asmara kembali melanjutkan kerjaannya.
"Saya mengerti, Nona. Karena itu lah saya belum bisa memutuskan."
"Keputusanmu sudah tepat, sekarang segeralah kembali ke perusahaan." Nona Asmara memberikan file-file tadi ke tangan Sekertaris Zaki.
Sekertaris Zaki pergi, Nona Asmara menghela nafas panjang seraya kembali duduk di samping ranjang pasien, tidak pernah bosan bagi Nona Asmara untuk menemani Reyanza.
Di tempat lain.
Klara bertemu Brian, hari ini Brian ingin tahu informasi yang Klara dapat setelah tadi malam bertemu dengan Reyanza.
"Cepat ceritakan, waktuku tidak banyak."
"Rey, masih koma."
"Aku tidak peduli, aku hanya ingin tahu wanita yang aku cintai!" potong cepat Brian.
Klara membuang nafas berat. "Dia baik-baik saja!" Klara berkata ketus.
Brian membuang nafas berat kemudian mau beranjak pergi.
"Tunggu!"
Brian menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Aku sudah memberi informasi kepada kamu, sekarang mana uang yang kamu janjikan untuk aku."
Brian balik badan, dan menatap Klara dengan tajam. Klara sampai mundur beberapa langkah saat mendapat tatapan tajam dari Brian.
"Di otak kamu adanya cuma uang!" Setelah berkata kasar Brian langsung pergi tidak mempedulikan Klara yang terus memanggil namanya.
"Brian! Brian tunggu ...."
Klara mengejar langkah Brian, sampai membuat Klara hampir terjatuh, namun Klara tidak menyerah dan kini ia berhasil memegang pintu mobil Brian.
Bruk!
Klara langsung duduk di kursi depan samping pengemudi, Brian menghela nafas berat saat menoleh malah melihat Klara yang tersenyum.
Di rumah sakit.
Nona Asmara tiba-tiba merasakan jemari Reyanza bergerak, Nona Asmara melihat wajah Reyanza yang seperti mau membuka mata.
"Rey, kamu sudah sadar," ucap senang Nona Asmara, tanpa menunggu lama Nona Asmara memanggil dokter, tidak berselang lama dokter datang untuk memeriksa keadaan Reyanza.
Nona Asmara di luar menghubungi Ibu Meta dan Ibu Lusy, bahwa Reyanza sudah sadar. Ibu Meta dan Ibu Lusy segera akan datang ke rumah sakit.
Dokter ke luar, Nona Asmara langsung menanyakan keadaan Reyanza. Dokter mengatakan keadaan Reyanza sudah cukup baik.
Nona Asmara masuk ke dalam, lalu menggenggam tangan Reyanza, Nona Asmara menangis bahagia melihat Reyanza sadar.
"Rey, kamu ahirnya kembali." Nona Asmara memeluk Reyanza.
__ADS_1
Reyanza menatap Nona Asmara dengan tatapan yang sulit diartikan.