
"Tau pasti lah ... Nona Asmara yang selalu melakukan sesuatu di luar nalar manusia, haha." Keduanya tertawa bersama seraya Reyanza membawanya masuk ke dalam mobil.
bagaimana tidak dibilang di luar nalar manusia, bahkan wanita cantik yang saat ini sedang duduk di sampingnya. pernah memintanya untuk menciptakan sebuah mainan anak yang bisa berbicara.
Hah.
Reyanza menghela nafas panjang ketika ia harus kembali mengingat permintaan gila dari Nona Asmara.
Saat itu Perusahaan Lion group sedang ingin mengadakan peluncuran produk baru, namun bukan produk yang bisa di konsumsi melainkan produk yang bisa membuat anak kecil tertawa.
Nona Asmara sebagai presdir utama Perusahaan Lion group meminta Reyanza untuk menciptakan produk itu, selain untuk perusahaannya juga untuk menguji keseriusan cintanya.
Gila ya, cintaku gak ada hubungannya dengan produk yang kamu minta. Aku lebih senang di suruh berlari lima puluh kali mengitari lapangan bola milik Loin group, umpat Reyanza.
Namun karena Nona Asmara yang suka semaunya bila memberi perintah, Reyanza tidak bisa menolak dan ahirnya ia mulai mencoba namun saat pertama kali percobaan hasilnya gagal.
Ya, gue kan bukan pakarnya bikin begituan, membela diri dalam hati.
Entah ide gila itu muncul dari mana, hingga Reyanza benar-benar gila dibuatnya.
"Kalo kamu menyerah, aku anggap kamu tidak serius mencintaiku ... kalo kamu lanjut hingga bisa membuat mainan itu berbicara, aku akan pertimbangkan."
Hah, gila! berhasil saja masih mau kamu pertimbangkan. Aku mencintaimu hanya mencintaimu!. Teriaknya dalam hati.
Hingga hari-harinya Reyanza hanya mengerjakan tugas gila yang di perintahkan Nona Asmara itu. Tugas itu selesai selama dua bulan. hasilnya benar-benar Sesuai yang Nona Asmara minta.
"Gue hebat, kan?" Reyanza bangga seraya menepuk dadanya.
Nona Asmara hanya menatap Reyanza sekilas lalu fokus melihat mainan anak lebih seperti boneka Barbie.
Masih setia dengan auranya yang datar tanpa ekspresi. "Lumayan." Nona Asmara melenggang pergi diikuti asisten Zaki di belakangnya.
"Untung aku cinta ... untung aku sayang!"
__ADS_1
Reyanza benar-benar frustasi dibuatnya, hasil kerja kerasnya hanya dinilai lumayan.
Reyanza langsung mengelus dadanya, dan mengatakan sabar yang sabar pada dirinya.
Reyanza senyum-senyum sendiri mengingat kejadian itu.
Kejadian di minta membuat mainan anak yang bisa bicara, adalah kejadian penting yang tidak akan Reyanza lupakan bahkan akan ia ingat terus hingga tua.
Reyanza bersyukur berkat kejadian itulah awal mula Nona Asmara mau membuka hatinya sedikit untuk Reyanza, ya hanya sedikit, sedikit sekali.
.hah, segala rintangan dan badai sudah aku lalui. Sekarang ia sudah menjadi istriku. Tinggal satu yang belum aku taklukkan lagi.
Kapan ya? gue bisa ngegolin gawang yang masih rapat itu, hahaha. Aduh duh duh penjaga kipernya galak banget lagi.
Reyanza masih asyik senyum-senyum sendiri sambil menyalib mobil di depannya.
Hah, kenapa gue berpikiran mesum di siang bolong begini sih.
"Kau kenapa?" Reyanza menoleh saat mendengar suara lembut itu.
"Tidak apa-apa." Terkekeh.
Nona Asmara menatap kearah luar melalui kaca mobil. Tanpa sengaja ia melihat bubur sumsum langganannya tidak jauh dari jalan raya.
Reyanza yang mengikuti arah mata Nona Asmara, ia langsung berinisiatif menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Apa ada yang ingin kamu beli?, sayang." Tangan kirinya mengusap rambut hitam Nona Asmara yang tampak semakin berkilau terkena sinar matahari yang masuk ke dalam mobil.
"Aku mau itu." Nona Asmara menunjuk ibu-ibu tua pedagang bubur sumsum yang satu-satunya pedagang di depan ruko-ruko besar.
Reyanza mendongakkan pandangannya ke luar melalui jendela samping Nona Asmara untuk lebih leluasa melihat.
"Aku belikan ok." Reyanza sudah mau beranjak.
__ADS_1
"Tunggu, aku ikut." potong Nona Asmara cepat.
Reyanza kembali duduk dan menatap wajah Nona Asmara begitu lekat. "Di dalem aja ya ... di luar panas."
"Tidak mau aku kenal orangnya." Nona Asmara memanyunkan bibirnya.
Reyanza menghela nafas panjang. "Ok baiklah." Reyanza menuruti lalu melangkah keluar mobil dan mengitari mobilnya untuk membukakan pintu Nona Asmara.
Namun saat ia baru sampai depan pintu, Nona Asmara sudah ada di luar. "Aku bisa sendiri ... kau kan suami aku bukan seketaris Zaki," ucapnya sambil tertawa meringis.
Keduanya berjalan sambil bergandengan tangan mesra kearah ibu-ibu pedagang bubur sumsum.
"Ibu ..."
Pedagang itu menoleh. "Nona."
Nona Asmara tersenyum. "Ibu, bubur sum-sumnya ya semua."
Ibu itu terkejut bahagia mendengar kata semua dari bibir wanita cantik.
"Nona, terimakasih, Nona selalu memborong bubur sumsum milik ibu."
Ibu itu langsung membungkus semua bubur sumsum dengan cekatan.
Dan setelah semua diikat menjadi beberapa plastik kecil, Ibu itu menyerahkan ke Reyanza.
Reyanza membawanya lebih dulu ke bagasi mobil lalu menghubungi Seketaris Zaki untuk mengambil nya di rumah.
"Ibu, ini untuk ibu ... terima ya, Ibu." Nona Asmara memberikan amplop coklat ke tangan ibu itu.
"Terimakasih, Nona." Ibu pedagang itu menangis bahagia.
Nona Asmara tersenyum lalu melangkah pergi dan melambaikan tangan.
__ADS_1