
Nona Asmara bangun, ia merasa susah untuk menggerakkan tubuhnya, bahkan merasakan nyeri bercampur sakit di bagian intinya.
"Awhh!" rintihnya saat mau duduk dan ingin beranjak ke kamar mandi, waktu menunjukan pukul tujuh pagi.
Nona Asmara kembali berbaring saat ternyata merasakan tubuhnya yang lemas. Reyanza yang tidurnya terusik ia terus membuka mata.
Awalnya masih diam, setelah merasa nyawanya terkumpul Reyanza yang duduk membuat selimut yang menutup tubuh polosnya beringsut ke bawah.
Sadar dengan yang sudah ia lakukan semalam, Reyanza turun dari ranjang lalu memakai celananya, dan mengitari ranjang menghampiri Nona Asmara.
"Sayang, maafkan aku ya?" Reyanza memberi tatapan memohon, supaya Nona Asmara mau memaafkan karena ia benar-benar takut Nona Asmara akan marah setelah kejadian semalam, itulah pikir konyolnya.
Rasanya Nona Asmara ingin tertawa melihat ekspresi wajah Reyanza yang memelas, harusnya ia yang memelas minta bantuan untuk ke kamar mandi, tapi malah suaminya.
Baru Nona Asmara mau menjawab, ia kembali terdiam.
__ADS_1
"Sayang aku sudah menyakitimu, tolong jangan marah, maafkan aku tadi malam."
Ah! bahkan aku melakukannya lebih dari tiga kali, tidak kebayang pasti miliknya sekarang sangat terasa sakit, dasar bodoh! mengapa semalam tidak berfikir dulu saat mau melakukan lagi! gumam kesal Reyanza dalam hati, seraya menundukkan kepalanya di pinggir ranjang samping Nona Asmara.
"Awas aku mau ke kamar mandi."
Mendengar suara Nona Asmara yang ingin ke kamar mandi, Reyanza langsung kembali mendongakkan kepalanya menatap wajah cantik Istrinya meski baru bangun tidur.
"Aku bantu," tawarnya, seraya memegang tangan Nona Asmara lalu membantunya untuk dudu.
"Rey?" Tangan Nona Asmara masih melingkar di leher Reyanza, pria itu kini sedang mendudukkan Nona Asmara di pinggiran bak mandi.
"Tenanglah, aku akan membantumu untuk mandi." Reyanza sudah mulai mengisi air dalam bak mandi.
"Rey, tapi aku malu." Pipi Nona Asmara kembali bersemu merah.
__ADS_1
"Aku sudah melihatnya, kau hanya perlu menganggap aku wanita supaya tidak terlalu malu," jawaban konyol Reyanza langsung mendapat pukulan dari Nona Asmara. Bagai mana bisa harus menganggap wanita, sedangkan dia jelas-jelas seorang laki-laki pikirnya.
Setelah bak mandi penuh dengan air hangat dan sedikit dicampur aroma terapi, Reyanza benar-benar seperti yang ia ucapkan, pria itu membantu Nona Asmara untuk mandi, dari membantu membuka pakaian yang melekat di seluruh tubuh Nona Asmara, Reyanza juga membantu menggosok punggung Nona Asmara.
"Apa mau berendam dahulu, atau langsung?" tawar Reyanza, pria itu akan sigap apa pun yang di ucapkan Nona Asmara.
"Sepuluh menit, setelah itu aku akan ke luar." Nona Asmara membawa tubuhnya meluruh ke dalam bak mandi, hingga busa-busa menutup tubuhnya hingga batas leher.
"Baiklah, aku tunggu di luar."
Setelah berkata seperti itu, Reyanza langsung melangkah ke luar kamar mandi, di luar kamar mandi Reyanza kembali berjalan menuju ranjang.
Matanya melihat ranjang yang berantakan serta separi yang sudah tidak rapih hasil ulahnya tadi malam, tapi ada hal lain yang lebih mencuri perhatiannya, matanya fokus menatap darah yang berada di separi.
Reyanza meraih seprai itu hingga terlepas dari ranjang. "Separi ini harus aku beli untuk aku bawa pulang dan akan aku simpan sebagai kenang-kenangan." Reyanza tersenyum seraya melipat rapih separi tersebut tanpa akan ia cuci.
__ADS_1